Jumat, 15 Mei 2020

Rumah mewah dan luas 700 di blimbing kota malang 087887232777

Di jual rumah murah,blimbing kota malang
LT 149m
Lbr dpn 8,5m
6 kmr tdr
3 kmr mandi
Karport
Akses jln dpn aspal
Dekat dengan angkot,terminal dan perkantoran
Shm
Hrg 750 jt nego..

INFO MMC MARKETING OFFICE
Andika
087887232777
081235534599

Ig@jualrumahdimalang

Rumah mewah 2 lantai di blimbing 087887232777

RUMAH DIJUAL ( BUTUH CEPAT ) :
* LUAS TANAH : 143 m2
* LUAS BANGUNAN : # 200 m2 ( 2 Lantai )
*RUANG TAMU
*RUANG KELUARGA
*RUANG MAKAN
* 4 KM TDR : 2 KM TDR ATAS ( 4,5 m X 3,5 m 2 ), 2 KM TDR BAWAH
* 2 DAPUR : 1 DAPUR BASAH & 1 DAPUR KERING
*GARASI / CARPORT
*AIR SUMUR ( SANYO)
*TANDON AIR
*JEMURAN ( L. Atas)
*LISTRIK METERAN 2300 WATT
*SURAT SHM
LOKASI : DU Jl. KARYA TIMUR MALANG KOTA
HARGA : 1,5 M ( NEGO)

INFO MMC MARKETING OFFICE
Andika
087887232777
081235534599

Ig@jualrumahdimalang

USAI BERCERAI - 11

USAI BERCERAI - 11

OLEH : DEWI FATIMAH

"Gimana kabar Maysa?"

Entah pertanyaan itu sudah kuulang berapa kali. Sejak bangun dari tidur yang agak panjang, pikiranku terus terpaku pada si pembawa separuh hati.

Mama hanya mendesah lesu, lalu memberi jawaban yang sama. "Terakhir Mama lihat, belum siuman."

Di hadapanku tersaji sarapan. Nasi, sup ayam dan sayur, tempe goreng, dan puding buah. Seluruhnya terlihat pucat. Entah, mungkin pandanganku yang sedang bermasalah. Sudah berkali-kali Mama memintaku makan, tapi seleraku menguap, hilang.

"Rey, obatnya harus diminum. Makan dulu, ya?" Mama kembali membujuk.

"Obat apa sih, Ma? Palingan antibiotik sama pereda nyeri."

"Biar cuma antibiotik tapi kan penting. Biar lukamu cepet sembuh."

Akibat tertimpa reruntuhan kemarin, kepala bagian belakang mengalami cidera. Lukanya cukup lebar. Sekarang kepalaku dililit perban. Punggung juga memar. Efeknya, aku tidak bebas menggerakkan badan. Nyeri dan kaku seperti habis dikeroyok puluhan orang.

Menit kemudian, Papa masuk. Cukup mengejutkan karena di balik punggungnya ada seseorang. Papa Mertua. Atau mantan papa mertua? Apapun sebutannya sekarang, aku tetap memanggilnya Papa.

"Gimana kabarnya, Rey?" tanya Papa Mertua.

Beliau lebih ramah dari pada Mahesa. Meskipun sama-sama sering kambuh dengan sikap dinginnya. Aku baru tahu kalau sifat adalah manifestasi yang bisa menurun. Kadang-kadang Maysa juga membeku seperti itu.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Mau bilang baik, tapi tidak sedang baik-baik saja. Mau bilang mendingan, tapi badan masih sakit semua.

Papa mempersilakannya duduk di sebelah ranjang. Posisi kami kini sejajar. Sedangkan Mama memindahkan sarapan yang belum tersentuh ke atas nakas. Setelahnya, orang tuaku beranjak keluar, meninggalkan kami berdua. Aku yakin ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh Papa Mertua.

"Saya ingin berterimakasih," ucapnya seperti menyampaikan pidato resmi.

Ya ampun, aku tahu beliau ini pejabat. Tapi sama mantan menantu jangan sekaku ini, please.

"Terimakasih sudah menyelamatkan Maysa. Waktu dapat telepon dari pihak polisi, pikiran saya sudah kalut. Tidak bisa dibayangkan jika detik itu harus kehilangan anak sebaik dia."

Aku menyentak napas lirih. Mungkin, ketakutan kami berdua setara.

"Maysa sudah sadar. Dia langsung menanyakan keadaanmu," tutur Papa Mertua dengan selarik senyum di bibirnya.

Aku menatap mata beliau lekat-lekat. Mencari kebenaran atas ucapannya.

"Dia khawatir."

Mendengar itu, rasanya seperti minum sekaleng soda dingin. Melepas dahaga sekaligus menyegarkan, dengan bonus sensasi cekit-cekit menyenangkan di dada sini. Percaya atau tidak, ada senyuman yang kutahan-tahan. Gengsi lah tampak merona di depan mantan mertua.

"Untuk masalah kalian, saya sebagai orang tua hanya berharap segera diselesaikan. Dan mendoakan yang terbaik."

Aku menghela napas. Teringat berkas-berkas untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.

"Saya sangat kecewa, Reyhan. Hanya dalam hitungan bulan, rumah tangga kalian berakhir begitu saja. Dan, ayah mana yang sanggup melihat putrinya terluka? Tidak ada."

Ya, aku paham betul soal itu.

"Reyhan, dengar. Dulu saya sangat berharap sama kamu, bahwa kamu akan menjadi laki-laki yang membahagiakannya. Seumur hidup. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan sebagai ayahnya."

Papa Mertua menjeda ucapannya dengan embusan napas berat.

"Maysa sudah berkali-kali terluka. Terutama oleh saya."

Aku memandangi lelaki berkacamata di hadapanku. Menanyakan kebenaran lewat tatapan dan beliau mengangguk, membenarkan.

"Ya, saya pernah menelantarkan Maysa bertahun-tahun lamanya," tutur beliau kemudian disusul helaan napas yang panjang. Kedua netranya yang mulai tak jernih, memandang ke luar jendela. Seakan menerawang ke masa silam.

Beliau pun berkisah tentang masa kecil Maysa. Pada beberapa bagian, Papa Mertua menitikkan air mata penyesalan. Jujur, aku terkejut. Maysa belum pernah menceritakan ini. Yang kutahu, ibunya yang merupakan istri kedua Papa Mertua, meninggal dunia sewaktu ia masih duduk di bangku kelas satu SMP. Lalu ketika sudah lulus, ia dijemput ke Jakarta untuk tinggal bersama dan melanjutkan sekolahnya.

Seolah tak ada beban masa lalu yang ia tanggung ketika menceritakan itu. Rupanya, ia hanya berusaha menyembunyikan luka. Agar terlihat baik-baik saja.

Maysa ....

*

Maysa duduk di atas kursi roda. Menghadap kolam ikan kecil yang menjadi sentral taman paviliun rumah sakit. Ini hari ketiga dia dirawat. Kaki kanannya baru menjalani operasi kemarin. Ada retak di bagian tulang kering. Sedangkan aku sudah diizinkan pulang Sabtu lalu. Setelah dipastikan tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, perban ini harus melilit di kepala untuk beberapa hari ke depan.

Mahesa tersenyum lalu menepuk pundakku. Ia sedikit mengayunkan kepala, memberi isyarat bahwa aku sudah boleh menemui Maysa.

"Maysa jarang terbuka soal kedekatannya dengan laki-laki. Jadi kalau kamu pengen tahu, tanyakan aja ke Maysa sendiri." Kalimat Mahesa kemarin masih terekam dengan sangat baik di otak ini.

Sejak musibah kebakaran itu, hubungan keluarga kami kembali hangat. Setelah beberapa bulan seperti dua negara yang melakukan perang dingin. Meski tanpa genjatan senjata, tapi suasana mencekam itu sangat terasa.

Aku berjalan menuju taman paviliun. Lalu duduk di bangku panjang yang bersisian dengan kursi roda Maysa. Sengaja menyisakan sedikit ruang agar kami tidak terlalu berdekatan.

Menyadari kehadiran seseorang, Maysa sedikit menoleh. Lalu kembali memandangi ikan-ikan yang berenang lincah dalam kolam di hadapan kami. Mungkin tingkah mereka sangat menghiburnya.

"Apa kabar, May?" tanyaku mengawali obrolan.

"Alhamdulillah, merasa lebih baik," jawabnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari ikan hias.

Angin sore sesekali menyapa sembari memainkan kerudung lebarnya. Pemandangan yang membuatku ingin mengulurkan tangan untuk membelai kepalanya.

"Lain kali jangan kayak gitu lagi," katanya yang membuat alisku bertaut. "Abang mengambil resiko yang terlalu besar. Kalau terjadi apa-apa sama Abang, aku yang bakalan merasa bersalah seumur hidup."

Aku memandangnya tanpa kedip sembari berusaha mencerna kata-katanya. "Jadi, Abang harus ngebiarin Maysa terbakar di dalem? Kamu pikir, kalau sampai terjadi hal buruk ke Maysa, Abang enggak merasa bersalah seumur hidup?"

Dia menoleh cepat dengan kelopak yang sudah digenangi kaca-kaca. "Kenapa harus merasa bersalah?" tanya Maysa setelah ia menyeka kilat sudut matanya.

Aku diam sesaat, memandangi tanaman-tanaman hijau yang tertata rapi di sekitar kolam. Menambah kesan sejuk, menyegarkan mata. "Maysa juga, kenapa harus merasa bersalah?" tanyaku dengan seutas senyuman.

Tidak ada jawaban. Pertanyaanku dibiarkan mengambang. Detik demi detik selanjutnya kami saling diam. Aku tenggelam dalam kecamuk di dada sendiri. Mungkin Maysa juga.

"Sejak kapan Abang tahu aku ngajar di situ?" tanya Maysa usai obrolan kami terjeda beberapa menit lamanya.

"Sejak ada yang nyebut-nyebut nama Ustazah Maysa."

"Terus?"

"Apanya yang terus?" Aku memandangnya dengan alis berjingkat sebelah. Menyadari ada sebuah harapan di balik pertanyaan itu.

Maysa menoleh sebentar lalu menggeleng. "Enggak papa."

Aku mengulum senyum, menyaksikan perubahan yang cepat di riak wajahnya.

"May," panggilku lirih.

Maysa kembali menoleh, menatapku. "Kenapa?"

"Kacamata baru, ya?" Aku menunjuk kacamata berbingkai hitam yang ia kenakan.

"Iya."

"Silinder berapa?"

Jujur, aku ingin menabok pipi sendiri. Bukan ini yang ingin kutanyakan. Kenapa berputar-putar terus dari tadi?

"Tiga setengah sama tiga tujuh lima."

Bingung bagaimana mau melanjutkan obrolan yang enggak banget ini, aku hanya merespons dengan anggukan. Setelah beberapa saat mencari bahan percakapan lain, aku kembali bicara, "Ikannya bagus-bagus, ya, May?"

"Iya." Maysa menjawab dengan nada sangat datar.

Aku mengikuti pergerakan ikan-ikan dengan lensa mataku. "Kalau misal kita bikin kolam ikan di depan rumah, kamu bakalan suka, nggak?"

"Hm?"

Aku menoleh Maysa yang sudah menatapku penuh tanya. "Ya, Abang buatin kolam ikan di sebelah rak anggrek. Kayaknya bakalan bikin kamu betah duduk di teras."

"Maksudnya?"

Aku menghirup udara dalam-dalam. Lalu menata letak duduk, sedikit menyerong. Menghadap wanita anggun di atas kursi roda. "Abang ingin Maysa kembali. Pulang ke rumah Abang lagi."

Ia menatapku sejenak lalu menunduk, memainkan jemari lentiknya yang dari tadi ingin kusambar untuk digenggam. "Kembali dan pulang? Sebagai apa?" tanyanya lirih.

"Sebagai seseorang yang akan melengkapi separuh agama Abang. Istri."

Terdengar desahan panjangnya. Seperti mengurai sesuatu yang berdesakan dalam dada. "Kenapa ingin saya kembali?"

"Karena Maysa sudah membawa pergi separuh hati ini."

Maysa mengangkat wajah, melirikku sekilas. "Bukan karena takut menjalani proses sidang cerai yang ribet?" Ada rintik air mata membersamai pertanyaannya.

Ya Allah .... Jadi alasan Maysa tidak menjawab pesan itu karena merasa .... Argh! Bodoh! Kenapa aku tidak peka dengan perasaannya?

"Tentu bukan itu alasannya, Maysa ...," jelasku dengan nada merasa sangat bersalah.

Kami berdua kembali diam. Maysa beberapa kali kedapatan menyeka pipinya. Andaikan masih halal, May ..., biar Abang yang melakukannya.

"Abang yakin akan menjalani pernikahan yang HAMBAR itu lagi?" Ia sengaja memberi penekanan khusus pada kata hambar. Mungkin, sebagai bentuk luapan kekecewaan yang terpendam berbulan-bulan.

"Hambar." Aku mendengkus lirih. "Lalu mendadak jadi pahit ketika kamu pergi."

Maysa memelintir kepala dengan cepat. Bibirnya sedikit terbuka, lalu berkedut-kedut, seakan mau bicara. Tapi ia lekas memalingkan muka.

"Rey, Maysa adalah wanita yang bisa memilih. Jadi, jangan karena udah merasa jadi pahlawan, kamu yakin bakalan diterima lagi. Ingat, kamu udah melukai perasaannya. Dan sebagai sesama wanita, Mama tahu gimana rasanya. Sakiiit banget."

Ucapan Mama tadi pagi kembali terngiang. Saat kuutarakan niatku untuk rujuk dengan Maysa.

Sebenarnya Mama agak berlebihan, sih. Aku sama sekali tidak merasa jadi pahlawan. Semua terjadi begitu cepat. Rasa takut kehilangan lah yang membuatku segera bertindak.

"Dan Mama yakin, di luar sana banyak laki-laki yang mau sama dia," lanjut Mama yang kesannya seperti menelanjangi keberanian putranya. "Banyak-banyak berdoa," pesannya.

"Bagaimana saya bisa tahu kalau permintaan Abang sungguh-sungguh?" Pertanyaan Maysa menarik pikiranku kembali ke taman ini.

Aku tersenyum sembari merogoh saku jaket, lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru warna merah.

"Apakah ini sudah cukup untuk membuktikan kesungguhan Abang?" Aku membuka kotak berisi sebuah cincin emas bermata putih. Lalu meletakkan benda itu di atas bangku dan menggesernya agar lebih dekat dengan Maysa.

Maysa menoleh. Menatap cincin itu beberapa saat, lalu berganti memandang wajahku yang menunjukkan pendar mata kesungguhan. Butuh waktu agak lama untuk mendapat jawaban. Tidak mengapa, menunggunya menangis selama lima belas menit itu bukan pekerjaan yang memberatkan. Hanya saja, mendengar isakannya berkali-kali rupanya cukup menyiksa.

Kecamuk apa yang ada di batinmu, Maysa?

Mungkin, menerimaku kembali adalah pilihan berat. Karena apa yang kulakukan dulu, tidak hanya menyisakan luka yang terus membekas seumur hidupnya, tapi juga trauma. Sangat dalam. Butuh waktu panjang untuk menyembuhkan.

Atau mungkin, telah terukir nama lelaki lain di hatinya. Tapi dia tidak ingin membuatku terluka. Bagaimanapun aku tahu sifatnya, tidak ingin menyakiti siapapun. Meski orang tersebut telah membuatnya berkali-kali menelan kecewa.

Tangan Maysa terulur, menutup kotak itu lalu menggesernya ke arahku. Pemandangan yang membuat napasku terhenti selama beberapa waktu. Ya, aku tahu jawabannya meski ia tidak berkata-kata. Aku pun menunduk, merasakan hantaman demi hantaman dalam dada.

"Kalau memang Abang sungguh-sungguh ...," ucapnya yang membuatku segera mengangkat muka, "segera nikahi saya."

Aku menatapnya lekat.

"Gunakan cincin itu sebagai maharnya." Maysa menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang kelewat manis.

Terkejut, tubuhku hampir saja melompat.

Oh Allah, aku ingin bersujud untuk mensyukuri kemenangan cinta.

~ END ~

USAI BERCERAI - 10

USAI BERCERAI - 10

OLEH : DEWI FATIMAH

[Assalamu'alaikum. Maysa, dua pekan ke depan, Abang ada dinas luar. Jadi maaf, belum bisa mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Atau, berkasnya Abang kasihkan ke Maysa aja? Biar enggak terlalu lama menunggu.]

Aku mengirim pesan pada Maysa yang entah sedang apa.

[Wa'alaikumussalam warahmatullah. Enggak usah, Bang. Insyaallah, saya masih bisa nunggu. Lagipula, kan Abang yang menceraikan saya.]

Reflek, tanganku menekan dada. Nyeri.

[Butuh segera?]

[Lebih cepat lebih baik. Iya, kan?]

Lebih cepat lebih baik, katanya ....

Aku meletakkan ponsel di atas sofa, menghela napas berkali-kali, lalu mondar-mandir tak jelas depan televisi. Acara talkshow paling favorit tidak mampu mengalihkan pikiranku dari masalah ini.

Duduk, kuraih ponsel, lalu mengetik.

[Proses sidang bakalan ribet banget, May.]

Send. Lalu mengetik lagi.

[Atau gimana kalau kita balikan aja?]

Send ..., batal. Send ..., batal.

Bismillah .... Aku menghirup udara dalam-dalam seraya memejamkan mata. Lalu ... send!

Napasku terjeda sejenak. Senorak itukah berterus terang? Kembali menatap layar ponsel. Aduh! Mampus, sudah centang biru.

Gelisah, menunggu balasan. Namun hingga tengah malam, tidak ada jawaban.

Aku membaca ulang pesan-pesan yang terkirim. Apa ... ada yang salah? Aku yakin tidak. Mungkin, Maysa memang tidak berkenan.

Aku berbaring di kamar, meringkul, memeluk guling. Irama detak jantung berantakan, hati ngilu tak karuan, dan seluruh isi dada seakan terpilin-pilin, menyakitkan.

*

"Lo percaya bahwa jodoh adalah cerminan diri kita sendiri? Dulu, kupikir itu bulshit. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya benar juga." Sony ngoceh melalui sambungan telepon.

Dari kamu jadi lo. Fine. Sejak merasa dibantu, Sony tiba-tiba akrab denganku. Atau kalau belum pantas dibilang akrab, setidaknya dia menganggapku teman. Setelah sebelumnya ... entah dikatakan apa.

"Perceraian kami benar-benar jadi pelajaran berharga, Han. Gue jadi banyak merenung. Intropeksi. Yah, gitu lah. Termasuk ortu gue. Ratu enggak sepenuhnya salah. Gue ikut andil. Bahkan ngambil porsi paling besar." Dia tertawa miris. "Gue jadi mikir, Ratu begitu karena gue begini. Ya, bener kata-kata itu. Jodoh adalah cerminan diri kita sendiri."

Aku berdiri tegak di balkon penginapan. Mendengarkan setiap kalimat yang mengalir dari bibir Jerry Yan KW sembari menghadap hamparan lautan biru di Pulau Sebuku, Kalimantan. Tempat aku dan tim ditugaskan selama dua pekan. Audit sektor migas. Perusahaan asing milik salah satu negara di Timur Tengah.

Sebentar. Kalau jodoh adalah cerminan diri sendiri, berarti ... Maysa bukan jodohku? Dia begitu dan aku begini. Maksudku, dia salihah dan aku? Dikatakan sekedar baik saja harus ada tinjauan berulang-ulang.

"Bener-bener enggak tega liat Bastian kayak gitu, Han. Mau sampai kapan kami kucing-kucingan soal hak asuh? Bikinnya berdua, masa mau dijadiin rebutan?" Ia terbahak pendek. Menertawakan sikap mereka yang mungkin tak jauh beda dengan anak-anak.

Tawaku pun tersembur. Laki-laki ini rupanya punya selera humor juga.

"Ternyata, anak jauh lebih berharga dari pada ego kita masing-masing," lanjutnya yang langsung kuiyakan. "Makanya, lo buruan punya anak."

Aku mendengkus. Gimana mau punya anak kalau .... Argh! Kamper jamuran si Sony ini! Mengingatkanku tentang Maysa lagi!

Beberapa percakapan kemudian, Sony menutup telepon. Setelahnya aku iseng, membuka chat room dengan Maysa. Pesan terakhir itu tak kunjung dibalas. Aku pun mendesah panjang. Merana.

Aku menggaruk kepala dengan kasar, lalu melenggang masuk kamar. Dalam kesendirian, kubunuh waktu sore dengan mengolah data yang diperoleh dari lapangan. Jika bosan, aku membuka kanal YouTube. Menonton kajian Islam dari seorang ustaz pimpinan sebuah pesantren di Jawa. Aku bertekad, akan terus memperbaiki diri. Dengan atau tanpa Maysa.

*

Jumat siang, aku tiba di rumah. Lelah usai perjalanan cukup panjang. Dari Pulau Sebuku ke Banjarmasin. Dari Banjarmasin ke Jakarta. Sudah seperti pejabat yang sibuk melakukan kunjungan kerja. Aku meringis sendiri, sementara tangan membuka koper lalu membongkar isinya. Baju-baju kotor yang tentu saja bau keringat. Menyengat.

Biasanya, usai dinas luar, aku tidak perlu sepayah ini. Maysa akan langsung mengambil baju bau kecut dari koper lalu menggilingnya di mesin cuci.

"Ew, Abang habis dinas luar apa ikut pertandingan bola, sih?" sindir Maysa sambil cengar-cengir.

Ya Allah .... Aku meremas dada. Sakit berlapis-lapis rasanya.

Teringat sikap manisnya, cengar-cengirnya, dan sindiran halusnya--yang baru kusadari ternyata lucu. Lebih sakit lagi, jika teringat pesan terakhir yang cuma dibaca tapi tak kunjung dijawab.

Seperti menyatakan cinta, tapi ditolak tanpa kata. Dan, seumur hidup belum pernah merasakan penolakan dari wanita. Seperih ini, ternyata.

Menyemburkan napas kasar sembari menggeleng, aku mengusir lintasan kenangan yang sebetulnya indah, tapi membuat hati diserang galau tak kunjung usai. Kupikir, aku tak boleh larut dalam masalah ini. Menyerah? Entahlah.

Aku beranjak, menggiling baju kotor dalam mesin cuci otomatis. Biarkan dia menjalankan tugasnya dengan baik dan aku menikmati tidur siang dengan baik pula. Tanpa mengingat apapun tentang Maysa. Meskipun sulit, lama-lama juga terbiasa.

*

Nanti malam ada jadwal belajar tahsin. Ingin izin dengan alasan capek, tapi lekas sadar diri. Sudah dua pekan tidak belajar, mau libur lagi? Huh! Pemalas kamu, Rey!

Oke, aku putuskan untuk berangkat. Lagi pula ada beberapa bungkus amplang dan sebotol madu hutan Kalimantan untuk para ustaz di sana. Ustazah juga boleh. Ustazah ... Maysa?

Aku tersenyum getir. Teringat dirinya, si pembawa separuh jiwa.

Ck! Aku menggeleng, mengusir bayangannya yang tanpa izin memenuhi pikiran.

Jam lima sore lebih sekian menit, aku bersiap berangkat. Mematut diri depan cermin. Celana kain hitam dan kaos dalam warna senada, kulapisi baju koko warna krem yang masih tergantung di belakang pintu. Aku tersenyum, mirip santri yang hendak mengaji. Memang mau mengaji. Tapi sengaja datang lebih awal. Selain ingin menyerahkan oleh-oleh, juga ingin me-review materi kembali. Sekalian salat magrib berjamaah di sana. Diimami oleh hafiz quran yang suara merdunya mampu memelehkan jiwa. Ustaz Hadi? Ya, dia salah satunya.

Beberapa meter sebelum tiba di lokasi, aku dikejutkan dengan pemandangan beberapa orang yang berlari-lari, menyeberangi jalan. Dua orang seperti ngawur tidak melihat kanan-kiri. Mengakibatkan beberapa kendaraan mendadak berhenti.

Mobil maju sedikit lagi dan kudapati orang-orang berkerumun di depan bangunan satu lantai itu. Aku penasaran, apa yang terjadi? Kuparkir mobil di pinggir jalan, lalu mataku menangkap asap hitam membumbung tinggi.

Ya Allah! Rumah belajar quran kebakaran!

Lekas berlari membelah kerumunan, melewati beberapa orang yang berdiri menonton. Kudengar mereka saling berspekulasi.

"Kompor meledak, kali, ya?"

"Kayaknya ada yang korslet, deh," komentar yang lain.

"Mana pemadam kebakarannya, yak?" tanya beberapa orang sambil celingukan tak jelas.

Kaki terus melangkah tergesa. Beberapa orang tampak hilir mudik mengambil air dengan ember lalu menyiramkan ke titik-titik api yang sudah membesar.

Beberapa wanita berkerudung lebar memekik histeris, melafaskan istigfar, dan berdoa dengan suara keras-keras. Panik.

"Pemadam kebakaran lama banget, sih!" desis seorang ustaz. Yang kutahu, dia mengajar di kelas lain. Berkali-kali dia menatap layar ponselnya dengan sebelah tangan bertengger di pinggang.

Tak jauh dari ustaz tersebut, berdiri seorang Ustaz Hadi yang sepertinya baru tiba. Menatap nanar ke dalam sana. Seakan menyesali sesuatu yang tertinggal dan tak bisa lagi diselamatkan.

"Ustazah Maysa .... Ya Allah, selamatkan Ustazah Maysa ...." rintih seorang wanita tak jauh dari tempatku saat ini. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan seorang wanita lainnya.

Aku terkesiap. "Maysa?" tanyaku dengan suara lantang.

"Iya, Ustazah Maysa masih di dalam," jawab yang lain dengan tangisan.

Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke mobil, mengambil hoodie. Sudah jadi kebiasaan benda itu kugantung di jok belakang. Jaga-jaga kalau kedinginan saat menyetir, terutama ketika malam.

Setelah benda itu di tangan, aku kembali menembus kerumunan. Mencari keran air yang terpasang di luar bangunan. Argh! Sedang dipakai orang-orang untuk mengisi ember. Tanpa bertanya atau apa, aku mencelupkan hoodie ke dalam ember yang masih berisi separuh.

Bismillah, mengumpulkan segenap keberanian. Berbekal hoodie basah, aku menerobos ke dalam api yang kian besar. Beberapa orang memekik, berteriak, melarang, tapi seluruhnya kuabaikan.

Aku berhasil menerobos api di pintu masuk. Jangan bertanya apakah aku sudah pernah latihan? Belum! Skill ini benar-benar spontan.

"Maysa!" Aku berteriak berulang-ulang. Panik, api sudah menjalar ke mana-mana. Menjilat-jilat hingga ke lorong.

"Maysaaa! Maaay!" panggilku lagi disusul batuk akibat menghirup asap berlebihan.

Berbekal hoodie basah, aku memadamkan api yang menghalangi jalan agar bisa merangsek ke belakang, menuju kelas putri. Kudengar suara batuk-batuk seorang perempuan. Aku yakin itu Maysa! Kian bersemangat, aku berlari, kembali menembus api dengan tameng hoodie.

Suara batuk-batuk itu semakin dekat dan ternyata dari ruangan kelas paling pojok.

"Maysa!" pekikku begitu menjumpai sosok wanita berbaring di lantai dengan kaki kanan tertimpa lemari. Api sudah melahap meja, papan tulis, dan dinding kayu penyekat. Masya pasti kepanasan, terlihat keringatnya bercucuran.

"Ya Allah, May ...," lirihku saat menyadari kondisi wanita yang kucintai itu agak mengenaskan. Kacamatanya sudah lepas entah ke mana.

"Abang ...," lirihnya disusul batuk yang menjadi-jadi.

Aku segera mengangkat lemari kabinet yang menimpa kaki kanannya. Lumayan berat, ditambah napas yang tersendat-sendat, semakin membuatku kesulitan mengumpulkan energi.

"Tolong hamba, Ya Allah .... Bantu hamba, Ya Allah ...." Akhirnya, lemari berhasil kuangkat.

Astagfirullah! Kaki Maysa terluka. Gamisnya tersingkap, menyisakan celana panjang abu-abu yang sudah hitam karena darah. Aku melepas baju koko, lalu membebatkannya di daerah luka untuk menekan pendarahan agar tidak semakin parah.

Maysa merintih kesakitan ketika aku mengencangkan ikatan. Tidak tega, tapi harus kulakukan.

"Sabar ya, May .... Maafin Abang."

Ketika bersiap mengangkat tubuhnya yang hampir kehilangan kesadaran, terdengar suara kayu patah. Aku mendongak, rupanya plavon di atas kepala runtuh. Tidak ada waktu menghindar. Lekas aku menunduk, mendekap Maysa, melindunginya.

"Aaargh!" Aku mengerang. Kayu menghantam keras. Rasa nyeri luar biasa di kepala bagian belakang. Sebisa mungkin segera menguasai diri. Aku pun menggeliatkan badan, menyingkirkan reruntuhan yang terasa berat di punggung. Lalu mengangkat tubuh Maysa dengan sisa tenaga yang ada.

"Bang Reyhan ...," lirih Maysa lagi.

"Iya, Maysa. Bertahan, ya ...." Aku berusaha menguatkannya yang sudah lemas tak berdaya.

Dengan api yang semakin besar, hoodie sudah tak bisa lagi digunakan sebagai 'senjata andalan'. Maka, aku memberanikan diri menerobos api yang melalap kusen pintu ruangan. Agak ragu, tapi dengan berlari sekuat tenaga, aku yakin bisa.

Dan memang bisa. Tapi sialnya, kerudung Maysa yang menjuntai malah terjilat api. Terpaksa menghentikan langkah, lalu membaringkan tubuhnya di pangkuan dan mengibas-ngibaskan hoodie yang sudah bau asap di atas api itu. Padam, meskipun butuh waktu agak lama.

Tubuh Maysa kembali kuangkat. Ketika akan melangkah, jalan keluar sudah dikuasai api seluruhnya. Ya, dinding-dinding kayu penyekat ruangan sudah rubuh dan api menjilat-jilat di atasnya. Dada pun terasa sesak, ditambah nyeri di kepala yang semakin meraja.

Aku mengeratkan dekapan pada tubuh Maysa yang sudah tidak mengeluarkan suara. Kulirik sekilas, kedua matanya sudah memejam sempurna.

"May, bertahan, plis!" Aku sedikit mengguncang badannya. Berharap dia merespons. Tapi percuma, Maysa sudah kehilangan kesadaran atau lebih buruk lagi .... Semoga saja tidak.

Aku kalut. Panik. Cemas. Tidak mungkin nekat dengan berlari kencang seperti tadi.

Ya Allah, inikah akhir hidupku dengan Maysa? Terjebak dalam kebakaran dan akhirnya terpanggang bersama?

Aku berlutut, lemas. Kutatap wajah Maysa lekat-lekat. Jika memang ini adalah akhirnya, ingin kuungkapkan segala rasa.

"Maafin Abang, Maysa ...." Aku berbisik dengan nada putus asa, tepat di sebelah telinga kirinya. "Maafin Abang udah nyakitin Maysa berkali-kali. Abang salah. Abang bodoh. Abang menyesal."

Tak terasa, air mata bergulir.

"Abang cinta sama Maysa .... Abang ingin kita bersama-sama lagi. Abang ingin Maysa kembali."

Aku menengok wajahnya sekali lagi. Tergambar sebuah harapan di sana. Entah muncul sekadar untuk mengusir keputusasaan, atau memang suara hati yang meyakinkan.

Yang jelas, wajah itu seperti memerintahku untuk terus bicara.

"Hei, May, kamu tahu anggrek-anggrek di rumah? Mereka subur. Mereka sehat. Mereka cantik, eksotis." Kalimatku terjeda oleh batuk, "Mereka menunggu Maysa kembali."

Api semakin besar. Tubuh kian panas. Ya Allah, beginikah rasanya dipanggang? Jika api dunia sudah semenyakitkan ini, bagaimana dengan api Jahanam?

Teringat dosa-dosa, bibirku menggumamkan istigfar berulang kali. Hingga ....

Kurasakan semprotan air dengan kencang menghantam. Api di hadapan kami perlahan-lahan padam. Aku pun lekas bangkit, keluar. Entah berlari atau berjalan, yang jelas tubuhku seperti hampir melayang. Lalu terdengar pekikan histeris orang-orang. Menyebut namaku, memanggil-manggil Maysa.

Masih bisa kulihat bagaimana mereka menghambur. Tubuh Maysa yang kusangga dengan kedua tangan, diambil begitu saja. Lalu pandanganku semakin buram ... gelap ....

Aku tumbang.

-x-

USAI BERCERAI - 9

USAI BERCERAI - 9

OLEH : DEWI FATIMAH

"Han ..., tolong ...." Suara Ratu tersendat-sendat di telepon.

Ya, ia baru kembali menghubungi setelah satu bulan menghilang. Aku pun tidak berniat mencari tahu keberadaannya. Karena aku yakin, dia akan kembali muncul ketika butuh. Lalu hari ini, terbukti. Ck! Aku jadi merasa hanya dimanfaatkan saja.

"Kenapa, Ra?" tanyaku memberi kesan biasa saja. Kedua mataku tetap fokus pada kumpulan data di layar laptop, sedangkan tangan kananku memainkan pointer.

"Bastian masuk rumah sakit."

Pergerakan tanganku terhenti. Aku menghela napas perlahan. "Udah ngasih tahu Sony?"

Tidak ada jawaban, kecuali suara isakan diselingi susutan ingus.

Aku menunggu. Sejak frasa playing victim mencuat dari mulut mantan suaminya, rasa empatiku pada Ratu mulai pudar.

Hingga hampir dua menit, akhirnya kesabaranku habis. "Ra?"

"Han ... aku butuh kamu."

Aku menganjur napas. Ya, sudah kuduga. "Aku lagi banyak kerjaan, Ra. Maaf."

Setelah hening beberapa saat, Ratu menimpali, "Oke. Maaf udah ganggu." Dan telepon begitu saja ditutup.

Berurusan dengan wanita memang serumit ini. Aku mengurut kening sembari memandangi sederet angka berawalan +62. Aku pun mengirim pesan pada nomor itu.

[Jam istirahat aku usahakan ke sana. Di rumah sakit mana?]

Ratu mengirimkan titik lokasi sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Pusat lengkap dengan nomor ruangan di mana Bastian dirawat.

Sesuai janji, aku meluncur ke sana di jam istirahat. Begitu tiba, Ratu menghambur, memelukku. Namun aku mendorong tubuhnya perlahan-lahan. Aku tahu mendekap yang bukan mahram adalah perbuatan yang dilarang.

"Maaf ...," lirihnya menyadari aku tak berkenan.

"Sakit apa?" tanyaku seraya melangkah ke ranjang Bastian. Balita itu tergolek lemas. Ada selang infus yang dibebat perban di tangan kanan. Ia tidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Terlihat polos sekali. Sungguh kasihan jika jadi korban perceraian.

"Demam tinggi. Terus tadi pagi kejang. Makanya aku bawa ke sini."

"Apa kata dokter?"

"Belum bisa nyimpulkan. Nunggu hasil lab."

Aku mengusap kepala Bastian. Panas. Kekhawatiran Sony waktu itu .... Oh, bisa jadi, dia rindu papanya.

"Sony udah tahu?" tanyaku, menoleh wanita itu.

Sebagaimana di telepon, Ratu hanya diam ketika nama itu kusebut. Aku pun mendecak malas. "Ke mana aja sebulan ini?" Aku bertanya lagi.

"Enggak ke mana-mana. Cuma cari duit," jawabnya. Terkesan sekenanya.

"Bastian?"

"Ada pengasuh yang jaga."

"Kenapa nomornya enggak aktif? Sony nyariin kamu. Kangen sama anaknya."

Ratu tetap diam. Ia lalu melangkah menuju sofa dan mengempaskan tubuh di sana.

"Kamu sengaja mangkir dari papanya Bastian?"

Ratu tersenyum miring. "Itu urusanku."

Ok, fine! Jawaban itu benar-benar memancing emosi. Aku pun mengangguk-angguk. Ada rasa getir menyentil hati. "Oke. Kalau gitu, jangan pernah libatin aku lagi."

Kesal, aku beranjak keluar.

"Han, tunggu!" Ia berdiri mencegah, menghadangku di depan pintu. "Oke. Aku akan jelasin semuanya."

Sorot matanya menunjukkan ketakutan. Entah karena tidak ingin kutinggal atau karena ada masalah yang tersimpan.

Setelah kami duduk di sofa, Ratu mulai memberi penjelasan. "Aku berusaha merintis usaha jual baju. Pake uang iddah. Tapi gara-gara itu, aku udah enggak sanggup lagi nyewa apartemen. Kami pindah. Ngekos. Baru satu mingguan. Terus, Bastian sakit."

Aku meraup muka. "Kenapa Bastian belum kamu pulangin? Sony khawatir."

"Pulangin ke mana? Dia ada sama aku. Apa masih butuh pulang?" Ratu mulai emosi.

"Bukannya kalian sepakat berbagi hari?"

"Han, Bastian masih balita. Dalam Islam, hak asuh ada di aku sepenuhnya selama aku belum nikah." Dia bicara dengan penuh penekanan.

Aku tersenyum geli. Terdengar lucu jika aturan agama dipilih seenaknya begitu. "Dan menurut Islam, seorang wanita yang baru ditalak, harusnya menjalani masa iddah di rumah suaminya." Seperti Maysa, lanjutku dalam hati. Sayangnya, dia menjalani masa itu hanya sekejap mata.

Ratu terkejut. Kami pun saling tatap. Aku tahu ada sorot tak suka dalam matanya.

"Kamu bukan Reyhan yang aku kenal," katanya setelah memalingkan muka. Kedua matanya berkaca-kaca.

Aku tersenyum lebar, nyaris tertawa. "Ya. Kamu benar." Setelah menghela napas, aku mengajukan pertanyaan, "Jadi, apa yang kamu harapkan dari Reyhan yang sekarang?"

"Kamu balikan sama Maysa?" tanya wanita di sampingku setelah beberapa kali menyeka pipinya.

Aku tertawa lirih. "Bukan urusanmu," tuturku sengaja membalas perkataannya.

"Papa ... Papa ...." Bastian mengigau sambil merintih, membuat Ratu segera bangkit lalu menenangkan anaknya.

"Makasih udah dateng," ucapnya padaku, beberapa saat setelah Bastian tenang. Tanpa sedikitpun menoleh.

Aku menyentak napas lalu bangkit. "Hubungi Sony. Bastian butuh papanya. Lagian, anak sekecil dia, pasti serba membatasi ibunya."

Ratu menoleh seketika. Memandangku dengan mata berkilat marah. "Apa maksud kamu?"

Aku mengedikkan bahu. "Bukannya selama ini kamu merasa terkekang gara-gara Bastian?"

Ia melangkah lebar ke arahku. "Sony pasti udah bicara macam-macam tentang aku." Ia mencari kebenaran di kedua mataku.

"Jangan suuzon dulu. Dia cuma bilang, sejak Bastian lahir, kamu berubah. Stres karena merasa keberadaan Bastian serba membatasi. Bahkan kamu sering marah-marah ke dia."

Pundak Ratu naik-turun, menandakan ada gejolak hebat bersarang di dadanya. Lalu tak berselang lama, tangisnya meledak. Setengah berlari ke sofa, mengempaskan tubuh di sana.

"Emang enggak ada yang bisa ngertiin aku. Enggak Sony, enggak kamu, enggak mertua aku. Semuanya sama aja!" Ratu menoleh, melanjutkan, "Kalian enggak paham gimana kondisi psikis seorang wanita setelah melahirkan. Apalagi si Sony sama mertua aku itu. Mereka pikir, ngurusin bayi yang cuma bisa nangis itu gampang apa? Aku dikurung di rumah, diminta fokus ngurus Bastian. Disuruh ninggalin butik. Cuma sesekali aja keluar. Siapa yang enggak stres, Han?"

Aku mengembuskan napas kasar. Lalu duduk di kursi sebelah ranjang. Bukannya hendak membanding-bandingkan. Tapi Mbak Mita juga fokus sama bayinya setelah melahirkan. Bahkan sampai resign dari tempatnya bekerja demi anaknya. Mama yang notabene memilih tetap berkarir, selalu mengambil cuti di luar tanggungan negara agar bisa lebih lama bersama bayinya. Apakah kondisi setiap wanita memang jauh berbeda?

"Aku kuwalahan merawat Bastian sendirian. Sementara si Sony itu tahunya cuma kerja, pulang, main sama Bastian sebentar, terus tidur. Mertuaku tahunya cuma cucunya gemuk, sehat, pintar. Mereka enggak peduli sama perjuangan aku. Aku minta dicariin pengasuh. Tapi mereka bilang, anak itu lebih baik diasuh ibunya. Setelah aku sering marah-marah, mereka baru sadar. Baru nyariin pengasuh, baru ngizinin aku ke butik."

Ratu mengusap air matanya dengan kasar. Seakan melampiaskan emosi yang masih mengakar. "Aku akui, aku salah. Salah udah marah-marah ke anak sekecil itu. Dan sekarang, aku pengen menebus semua kesalahan aku."

"Dengan sembunyi dari papanya Bastian?"

"Aku cuma pengen, Bastian enggak terlalu lengket sama papanya."

Aku menggeleng. "Kamu keliru, Ra. Enggak gini caranya."

"Enggak peduli."

Pintu diketuk seseorang. Ratu lekas menghapus seluruh jejak air mata yang tersisa di pipinya. Aku bisa menerka siapa yang datang. Maka, aku bangkit untuk menyambutnya.

Sony.

Kejutan yang luar biasa, memang. Ratu sampai tak bisa berkata-berkata.

Aku pun pamit. Mereka butuh bicara berdua. Dengan kondisi Bastian yang terkulai begitu, aku yakin ego masing-masing bisa dikurangi. Dan kupikir, masalah dalam rumah tangga mereka cuma satu. Komunikasi.

"Makasih banyak, Han," ucap Sony di telepon tadi. Sewaktu kuberi tahu di mana posisi Bastian dan Ratu.

Aku tersenyum, lega. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membantu Sony menemukan anaknya. Aku yakin, Sony tidak zalim seperti dugaanku dulu. Dia bilang, rekening yang dibekukan juga butik yang sengaja ditutup, itu semata-mata untuk membuat wanitanya kembali pulang. Juga insiden pemukulan itu, Sony mengaku tidak sengaja. Ia berusaha menahan Bastian yang hendak direbut ibunya. Padahal Bastian sudah berontak tidak mau dibawa.

Memang benar kata para ulama, dalam persoalan rumah tangga, jangan hanya mendengarkan dari satu pihak. Sekalipun mengadu sambil menangis tersedu-sedu. Karena air mata belum tentu menunjukkan kebenaran. Tangisan saudara-saudara Nabi Yusuf contohnya. Mereka pulang sambil menangis, mengadu pada Nabi Ya'kub bahwa Nabi Yusuf dimakan serigala. Padahal itu hanyalah rekayasa.

Aku berjalan menyusuri lorong demi lorong dan aku lupa ke mana jalan keluar. Rumah sakit sangat ramai. Aku kesasar di poliklinik. Beruntung, lekas kutemukan petunjuk arah keluar. Alih-alih fokus menemukan jalan, eh, mataku malah menangkap sosok yang sangat kurindukan.

Maysa. Duduk di deretan kursi tunggu. Sepertinya dia sendirian.

"May," sapaku memberanikan diri.

Wanita berkacamata itu mendongak. Tampak kaget melihat siapa yang menyapa. "Abang?"

Aku tersenyum, kikuk meminta dia bergeser dari posisi duduknya. Ia pun memberiku tempat, berjarak satu kursi kosong.

"Lagi apa, May?" Ini rumah sakit ibu dan anak, untuk apa Maysa ke sini?

"Nganter temen. Anaknya terapi di sini," jawabnya sembari mengarahkan dagu pada klinik tumbuh kembang di hadapan kami.

"Oh. Siapa?"

"Pegawai di toko. Namanya Mbak Eka."

"Terapi kenapa?"

"Anaknya mengalami GDD."

"Apa itu?"

"Global Delay Development. Tumbuh kembangnya terlambat."

"Hmm ...."

"Abang ngapain?"

"Habis jenguk anaknya temen. Nyari jalan keluar, malah kesasar di sini." Kesasar yang sangat disyukuri, batinku menambahi.

"Oh ...."

Nge-blank. Tanya apa lagi, tanya apa lagi? Ayolah Reyhan ..., ini kesempatan!

Oh, ide ... munculah! Oh, ya!

"Sejak kapan pake kacamata?" Aku menatap frame warna marun yang melintasi pelipisnya.

"Oh," ia membetulkan letak kacamatanya, "udah hampir dua bulan. Abang benar, mataku silinder." Ia tersenyum, menampilkan kedua lesung di pipi. Manis. Madu hutan saja kalah.

Duh, pisau tumpul jamuran! Astagfirullah! Sesulit ini jaga pandangan dari mantan.

"Udah parah banget, ya? Sampe ... jatuh-jatuhin barang?" Aku menunduk, menahan senyuman.

Maysa tertawa lirih. Tawa yang kurekam baik-baik, lalu kusimpan rapi-rapi dalam memori.

"Iya. Kata dokter, kalau cahaya yang diterima mata cuma remang-remang atau buram, penglihatan jadi gelap. Makanya, sering meleset kalau mau naruh barang."

Aku terkesiap. Menoleh wanita yang wajahnya masih menyisakan senyuman. Cahaya lampu dapur memang tak seterang ruangan yang lain. Harusnya aku peka.

Kami terdiam beberapa saat. Saking banyaknya yang mau kutanyakan dan kuungkap, otak sampai bingung mau mendahulukan yang mana. Rasanya seperti ada benang kusut di kepala. Benar-benar ruwet!

"Oh ya, Bang. Berkas cerainya udah diurus?"

"Kenapa, emangnya?" tanyaku lirih. Dalam hati, aku merintih. Maysa, tidak tahukah bahwa pertanyaan itu membuat hatiku ngilu?

"Hampir tiga bulan. Tapi belum ada kabar apa-apa dari Abang."

"Kamu ... mau nikah dalam waktu dekat?" Bayangan Ustaz Hadi melintas begitu saja. Membuatku ingin memeluk tiang penyangga gedung ini.

Maysa tertawa renyah. "Ya ... siapa tahu. Mohon doanya aja."

Isi dadaku terpelintir. Sakitnya merambat ke ujung tangan dan kaki. Aku hanya menunduk, muka pun sudah tertekuk.

"Udah selesai, Mbak?" Maysa bicara dengan seseorang. "Nangis, ya?"

Aku mendongak, menatap sosok wanita yang usianya kira-kira sebaya denganku. Kedua lengannya menyangga seorang anak perempuan kira-kira berusia tiga tahunan. Masih sesenggukan.

"Iya, nangis terus pas diterapi. Bingung, aku Mbak May."

"Sini, gantian Tante yang gendong, ya?" Maysa berdiri, mengulurkan kedua tangan untuk meraih anak itu. Tapi ia menolak.

"Ibu udah capek, Ana. Sama Tante aja, yuk!"

"Enggak papa, Mbak. Kalau udah kayak gini, Ana susah digendong sama orang lain."

"Ya udah deh. Oh, ya, Bang. Kami pulang dulu." Maysa memandangku sambil mencangklong tas. Bersiap untuk berlalu.

"Naik apa?" tanyaku ikut berdiri.

"Taksi online."

"Abang anter, ya?"

Maysa menoleh Mbak Eka. Meminta persetujuan lewat tatapan mata. Tapi wanita yang sedang menggendong anaknya itu terlihat tidak fokus. Maysa lekas memberi keputusan, "Oh, enggak usah, Bang. Khawatir ngrepotin. Lagian, ini kan, masih jam kantor."

"Enggak papa, May. Bisa izin sebentar."

Maysa tampak ragu. Lalu setelah memandangi Ana yang masih sesenggukan dan ibunya yang tampak lelah, ia mengangguk. Mungkin kasihan kalau harus menunggu taksi datang.

Aku menghela napas lega. Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang tak terduga.

"Udah makan siang?" tanyaku pada Maysa yang duduk di sebelahku. Aku melajukan mobil perlahan. Siang ini jalanan padat. Kondisi yang mau tidak mau membuat Maysa berlama-lama bersamaku.

Maysa menoleh Mbak Eka yang duduk di jok belakang. Ah, dari raut muka kedua orang ini aku bisa menebak.

"Belum, kan?" tanyaku dengan senyum mengembang.

"Belum, Bang."

Eh, malah pegawainya itu yang jawab.

"Mau makan di mana? Toko masih agak jauh. Apalagi jalannya macet gini. Kebetulan, Abang juga belum makan siang."

"Terserah Abang." Maysa menjawab setelah melirikku sebentar.

Sebuah restoran Arab menjadi tujuan. Ada nasi kebuli yang terkenal enak. Maysa suka makanan berempah. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang akrab. Sayangnya, bukan soal perasaan yang dibahas. Tapi tentang terapi yang dijalani Ana.

Ya, ibunya yang bercerita. Kami menjadi pendengar setia. Sesekali aku menanggapi atau bertanya, sementara Maysa diam dengan tatapan menerawang entah ke mana.

Rupanya anak kecil itu terinfeksi rubella sewaktu masih di kandungan. Efeknya sangat berat. Mulai dari jantung bocor, tuna rungu, dan hingga detik ini belum bisa berjalan. Ah, jangankan berjalan, bahkan merangkak pun belum bisa.

Seketika teringat janin itu, calon bayi kami. Lalu hati terasa luluh lantak, saat kulirik Maysa menunduk dalam sembari mengaduk-aduk minuman.

Maafkan Abang, Maysa ....

Andai boleh, ingin kugenggam tangannya. Meraihnya dalam dekapan paling nyaman, atau membisikkan satu dua kalimat sebagai penenang. Tapi aku tahu, ia wanita yang sangat menjaga kehormatan.

May ..., balikan aja, yuk!

Aku tersenyum getir, menyadari ajakan itu sebatas dalam batin. Nyaliku kembali ciut. Isi hati Maysa tidak bisa ditebak. Tapi dari pertanyaan soal berkas perceraian sampai cincin yang sudah lenyap dari jari manis kirinya, aku yakin Maysa sudah tidak menganggapku sebagai seseorang yang berarti dalam hidupnya.

Sakitnya itu ... dari dada sini lalu menjalar ke mana-mana. Aku pun menikmati makan siang dengan lidah yang seakan mati rasa.

Usai bersantap, kami kembali melanjutkan perjalanan. Begitu tiba di depan toko kue, Maysa mempersilakan pegawainya turun duluan. Sebelumnya, aku memang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.

"Mau bicara apa, Bang?" tanyanya dengan pandangan lurus ke depan.

"Abang mau ngasih ini." Aku mengulurkan sebuah amplop putih. Berisi lima puluh lembar uang bergambar Presiden RI pertama.

Dia menatapku heran, lalu beralih memandang amplop yang mengambang. "Itu apa?"

"Nafkah selama Maysa menjalani masa iddah. Maaf, Abang baru ngasih sekarang. Baru tahu."

Maysa melengos. Tanpa menunggu jeda, air matanya lolos.

"May ...," lirihku memohon.

"Makasih. Abang kasihkan aja sama yang membutuhkan. Saya permisi. Assalamu'alaikum." Tangannya cekatan membuka pintu. Kemudian ia berlari, meninggalkanku.

*

Aku mengumpulkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan cerai. Lembar demi lembarnya sungguh membuatku terluka. Terutama buku nikah. Ada foto Maysa di sana. Begitu polos dengan kerudung putihnya. Sesungging senyum tipisnya ....

Aku memekik sendirian di kamar. Lalu kulempar berkas-berkas itu ke sembarang arah.

Benar-benar tidak sanggup, Ya Allah ....

Jika baru mengumpulkan berkas saja sudah sesesak ini, lantas bagaimana di hadapan hakim nanti? Perceraian lewat pengadilan hanyalah urusan administrasi. Tapi proses yang akan kami lalui pasti akan panjang dan menyakitkan. Karena sesungguhnya perceraian itu sudah terjadi. Apa gunanya mediasi? Apa gunanya pembacaan ikrar talak? Huh?

Pembagian harta gono-gini? Tidak ada yang dibawa Maysa. Wanita itu kelewat bersahaja.

Besaran nafkah iddah? Masa iddah bahkan sudah habis. Maysa pun tidak sudi menerima.

Malam ini, aku benar-benar frustasi. Andai tidak ada iman dalam hati, entah sudah ke mana aku melarikan diri.

-x-

USAI BERCERAI - 8

USAI BERCERAI - 8

OLEH : DEWI FATIMAH

Mantan suami Ratu meminta waktu. Sebentar katanya. Aku mengiyakan dan mengajaknya duduk di lobby utama. Tempatnya luas dan yang penting tidak banyak pegawai yang singgah di sini. Jadi aman dari mereka yang biasanya suka curi-curi dengar.
Tunggu. Bagaimana Sony bisa menemukanku? Kesasar atau sengaja?
"Perusahaanku jadi mitra kantor ini. Tadi mengantarkan beberapa berkas untuk diperiksa dan ditindaklanjuti. Dan ... enggak nyangka malah ketemu kamu." Ia menjelaskan kehadirannya yang cukup ajaib, tanpa diminta.
"Oh," sahutku datar.
"Sudah berapa lama jadi abdi negara?"
"Baru tiga tahunan." Dalam hati, aku ingin bicara dengan nada ketus. Ngapain nanya-nanya? Tapi sepertinya tidak elok. Yah bagaimanapun, perusahaannya adalah mitra.
Sony manggut-manggut. Ia lalu mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Mungkin membandingkan suasana kantor ini dengan kantornya. Entahlah. Tidak penting juga.
"Jadi ... Han, kamu tahu di mana Ratu sekarang?" tanya Sony tanpa lagi basa-basi.
Kedua alisku mengkerut. "Kenapa emangnya?"
Sony menghela napas. "Sudah hampir tiga minggu Bastian belum dipulangkan. Nomor Ratu enggak bisa dihubungi."
Dari caranya bicara dan menatap petak lantai marmer, sepertinya dia menyimpan masalah besar.
"Bastian sama ibunya. Kupikir, enggak ada yang perlu dikhawatirkan."
Sony mengangguk-angguk. "Kamu benar. Tapi masalahnya ... yang jadi ibunya adalah Ratu."
Alisku berjingkat sebelah. "Maksud kamu?"
Sony menyugar rambut lurusnya yang agak panjang. Penampilan lelaki ini mengingatkanku pada Jerry Yan. Aktor Taiwan yang tenar di awal tahun 2000-an. Bedanya, ini versi kulit sawo matang dengan tubuh agak lebar.
"Sudah berapa tahun kenal sama Ratu?"
Aku berdecak. "Langsung ke intinya sajalah." Untuk apa menanyakan hal yang tidak substansial?
Sony tertawa pendek dan lirih. Terdengar getir. "Han, Ratu yang kamu kenal sekarang, bukan Ratu yang dulu." Ia tersenyum sekilas setelah menatap wajah heranku. "Sebelum Bastian lahir, dia jadi istri yang penurut, menyenangkan. Walaupun aku tahu dia menerimaku dengan hati terpaksa, tapi dia bisa bersikap manis. Tapi semuanya berubah begitu anak kami lahir. Dia sering marah-marah enggak jelas. Bahkan bayi yang enggak tahu apa-apa juga dimarahin. Setelah konsultasi ke sana-sini, ternyata dia stres karena merasa enggak bebas ke mana-mana lagi. Merasa kehadiran Bastian serba membatasi."
"Sori," aku menyela, "memangnya aktivitas Ratu sebelum melahirkan ... apa?"
"Ke butik. Aku buatin dia butik. Mungkin karena itu, dia jadi penggila fashion. Sering hunting baju-baju keluaran baru untuk ngisi butik. Meskipun hamil besar, dia masih aktif di luar, berburu baju."
Aku berusaha mencerna penjelasan Sony, lalu membuat kesimpulan sendiri. Kalau memang kelahiran Bastian dianggap membatasi, kenapa waktu itu dia ngotot ingin bawa Bastian. Sampai wajahnya memar karena Sony? Tidak masuk akal.
"Bentar, Son. Aku enggak paham sama cerita kamu. Setahuku Ratu benar-benar menginginkan Bastian ikut sama dia. Buktinya malam itu ..., maksudku sebelum kalian benar-benar cerai, katanya Ratu sempet pulang untuk ngambil Bastian. Terus rebutan sama kamu sampai ... kamu mukul ... dia, kan?"
Sony lagi-lagi tersenyum getir. Tangannya mengurut kening seperti orang pusing. "Playing victim."
Aku terdiam. Semakin tidak paham dan semua jadi semakin janggal. Siapa yang harus kupercaya sekarang? Laki-laki ini atau Ratu?
"Intinya gini lah, Han. Kalau kamu tahu di mana Ratu tinggal atau punya nomor Ratu yang aktif, tolong kasih tahu aku. Aku udah nahan-nahan untuk enggak lapor polisi."
"What? Lapor polisi? Gila bener!"
"Kamu enggak tahu apa-apa soal kami. Kamu juga enggak ngerti seberapa khawatirnya aku sama keadaan Bastian!" Mata Sony berkilat marah. Suaranya sampai terdengar agak menggema di lobby. Mengundang tatapan curiga beberapa orang.
"Oke. Aku akan bantu." Aku lekas bicara untuk meredam emosinya. "Terakhir, dia tinggal di apartemen di Jakarta Utara. Enggak jauh dari kawasan Ancol. Tapi enggak tahu di unit yang mana. Pernah nganter dia tapi cuma sampai bawah. Untuk nomor yang aktif ... sori, ponselku di lantai sembilan. Itupun kalau nomor itu masih aktif."
"Emangnya, terakhir kontak sama Ratu kapan?"
Aku mengingat-ingat. "Dua minggu lalu, kayaknya. Bentar, kamu tahu dari mana Ratu nemuin aku?"
Sony terbahak pendek. "Enggak terlalu sulit untuk menebak isi otak perempuan itu. Aku tahu, sebelum kami menikah, Ratu sangat mengandalkan kamu. Seolah-olah enggak ada orang lain selain pacarnya." Ia berdecak sinis.
Kamper basi! Sengaja menyindir rupanya.
"Cemburu?" Aku menyindir balik.
"Disimpulkan begitu juga boleh. Oh ya, ngomong-ngomong ... istri kamu enggak tahu kalau suaminya diam-diam menjalin hubungan sama mantan?"
Oh, Shiitake gunduuul! Orang ini mau ngajak ribut, kayaknya.
Melihat wajahku yang tegang, Sony tertawa lirih. Tawa yang efeknya seperti tikaman.
"Tenang, Pak Reyhan, aku enggak bakal lapor sama istrimu. Yah, itung-itung sebagai timbal balik udah mau bantu." Ia bangkit, lalu menepuk pelan pundakku. "Thanks, ya, Pak. Saya permisi." Ia mengulurkan tangan dengan gaya sok resmi.
Aku menyambut jengah telapak tangan mengambang itu.
"Oh ya, ini kartu namaku. Tolong hubungi nomor itu kalau ada kabar soal Ratu."
Kertas kecil berwarna biru itu kuterima dengan malas. Begitu Sony pergi, aku bangkit sembari menghentakkan kaki. Kesal!
*
Sabtu pagi.
Aku ingin pulang ke rumah orang tua--di pinggiran Kota Jakarta. Sejak konflik pasca perceraian itu, kami belum lagi bertemu. Sesekali aku atau Mama berkirim pesan dan telepon. Sekadar menanyakan kabar. Tidak ada lagi singgungan soal Maysa. Seolah menyebut nama itu akan membangkitkan kenangan indah. Tapi menyedihkan.
Mobil melaju santai, menerobos kepadatan lalu lintas Jakarta. Baru kira-kira seperempat perjalanan, mataku menangkap jajaran bunga anggrek yang dijual di atas trotoar. Kontan terlintas sebuah ide agak gila.
Mobil menepi. Lima belas menit melihat, bertanya, dan akhirnya menjatuhkan pilihan. Jenis anggrek hibrida. Warna pink muda dengan semburat titik-titik di kelopaknya. Ada tiga tanaman dalam satu pot. Indah. Senyumku mengembang seiring hati yang membuncah.
Mungkin, si penyuka anggrek sedang menjalin hubungan istimewa dengan orang lain. Ustaz Hadi. Tapi bunga eksotis ini berhasil membangkitkan rindu yang sudah kubunuh beberapa waktu lalu.
Aku ingin menemui Maysa. Aku ingin tahu kabarnya. Aku ingin bicara padanya.
Kembali ke mobil, aku memutar arah. Sembari menuju ke Orchid Cake n' Bakery, aku melihat-lihat sisi kiri jalan. Mencari penjual kacamata, topi, dan jaket. Butuh perlengkapan untuk menyamar.
Oh ya, pernah mendengar kisah Mughist dan Bariroh? Aku tahu kisah ini dari kajian seorang ustaz melalui YouTube.
Mereka berdua awalnya sama-sama budak. Statusnya suami-istri. Bariroh merdeka sementara Mughist belum. Dalam Islam, kondisi seperti Bariroh diberi dua pilihan. Tetap bertahan dengan suami yang statusnya masih budak, atau pisah. Dan Bariroh memilih berpisah.
Saking cintanya, Mughist menjadi bucin. Sering mengikuti Bariroh, bahkan tak jarang dengan air mata bercucuran. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam sampai heran sekaligus kasihan, dan menyarankan Bariroh untuk kembali pada Mughist. Hanya saja, Bariroh menolak.
Dalam-dalam, aku menghela napas.
Mungkin aku seperti Mughist dan Maysa adalah Bariroh. Mughist yang jadi bucin mantan istrinya. Bersyukur, level yang kualami tidak separah itu.
Hampir satu jam, semua perlengkapan siap. Aku mematut diri di kaca spion dalam. Berbalut jaket tebal yang mirip buntalan, kaca mata hitam, dan topi ini, aku yakin Maysa tidak akan mengenaliku. Aku pun melajukan mobil, menuju komplek ruko di mana toko kue Maysa berada.
Mobil sengaja kuparkir agak jauh agar tidak mengundang curiga. Sebelum keluar, aku mengetes suara. Dengan sedikit ngebas, aku percaya diri penyamaran ini sangat sempurna. Aku tersenyum untuk diriku sendiri sembari meredam debar-debar di dada. Kulirik anggrek yang akan kuberikan pada Maysa. Sudah ada selembar kertas bertuliskan tiga baris kalimat di sana.
"Mbak Maysa ada?" tanyaku kepada salah satu karyawan toko yang masih sibuk menata kue.
Wanita berkerudung itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu pandangannya fokus pada apa yang kubawa.
"Ada perlu apa ya, Pak?" tanyanya setelah puas menyelidiki.
"Saya mau mengantar ini," jawabku merujuk anggrek.
Wanita itu lantas berbalik badan, berjalan ke belakang. Kakiku berjengit-jengit lantaran grogi. Setelah dua atau tiga menit menunggu yang terasa seperti selamanya, akhirnya sosok itu keluar juga.
Maysa ....
Dan, dunia seakan terjeda. Menyisakan seorang wanita muda dengan apron membalut seluruh dada. Berjalan pelan akibat efek slow motion yang tercipta dari imajinasiku sendiri. Wajahnya tak lagi sama. Ada kacamata bertengger di atas hidung bangirnya. Menambah kesan cantik dan berwibawa. Benar kata orang, dia ... memang mirip orang Korea.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Aku mendengar apa yang dia ucapkan, hanya saja otakku sedang tak bisa mencerna informasi dengan benar. Mungkin, aku terlihat seperti orang tolol sekarang.
Maysa memandangku heran sekaligus menunggu. Tahu apa yang kulakukan? Menikmati setiap gerakan matanya, kerutan alisnya, dan gerakan kepalanya.
"Pak?"
"May ...."
"Iya, saya?"
Roti sobek jamuran! Kenapa lidahku malah menyebut namanya? BO-DOH.
Aku berdehem. Menetralkan nerveous yang berlebihan sekaligus menyamarkan suara asli. Menggantinya dengan suara ngebas yang tadi teruji.
"Oh ... em ... maksud saya ... em ... Mbak ... Mbak ... May ... Maysa?" Lidah juga kenapa jadi keselip-selip begini? Argh!
"Iya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"
"Anggrek." Aku menjawab dengan kondisi dada naik-turun.
"Kenapa anggreknya, Pak?" Maysa menatapku dengan sorot yang menunjukkan kesabaran. Sorot mata yang hampir membuatku beku.
"Maksud saya ... ini ... ada anggrek untuk Mbak Maysa. Titipan dari seseorang." Dengan tangan yang sedikit gemetar, kuulurkan bunga padanya.
Maysa menatap ragu selama beberapa detik. Tangannya lalu terulur perlahan-lahan, menerima dengan hati-hati. Dan saat itulah mataku menangkap sesuatu.
Cincin yang kuberikan sebagai mahar pernikahan, masih melilit di jari manis kirinya. Menimbulkan degub berisik dalam dada. Apakah ... benda itu masih sangat berarti bagi Maysa?
"Anggrek lagi," gumamnya. "Dari siapa, ya, Pak?"
Lagi-lagi, sambungan telinga ke otak mengalami korslet. Mendengar tapi tak tercerna dengan benar.
"Kalau boleh tahu dari siapa, ya, Pak?" Maysa mengulangi dengan volum suara lebih besar.
Aku tergagap. "Em ... dari seseorang yang ... tidak mau disebut namanya."
Alisnya mengkerut. Seperti berpikir dengan keras sekali. "Jangan-jangan orang yang sama." Ia pun membetulkan letak kacamata, membuatku ingin menanyakan banyak hal tentang benda itu.
Sejak kapan dipakai?
Minus atau silinder?
Beli di mana?
Harganya berapa?
Frame-nya bagus. Aku suka.
Kamu makin ... cantik, May ....
Maysa memandangiku lagi. "Mm ... Bapak tahu ciri-ciri orang yang ngirim anggrek ini, kan?"
"Oh ... em ... iya, Mbak. Tapi ... sesuai perintah, harus dirahasiakan."
Maysa mendesah kecewa, lalu membuka lipatan kertas. Matanya terpaku agak lama. Mungkin membaca tulisannya berulang-ulang.
"Masa Bang Reyhan? Tapi mana mungkin?" gumamnya lagi.
Mampus!
Aku buru-buru pamit. Tanpa menunggu Maysa menyahut, aku berbalik badan dan keluar.
"Iya, ini Abang, Maysa!" Aku bicara setengah memekik di mobil. "Kenapa cincin itu masih dipakai?" Aku melepas kacamata, topi, dan jaket dengan kasar. Ketiga benda itu kulempar ke jok belakang. "Apa masih berarti buat kamu? Apa kita memang memiliki rasa yang sama? Terus, Ustaz Hadi?"
Aku membanting punggung di kursi kemudi. Mengatur irama napas dan meredam emosi.
Emosi yang tidak jelas sebabnya. Karena terlalu banyak rasa yang teraduk-aduk dalam dada.
*
"Kamu kok kurusan, sih, Rey?" tanya Mbak Mita saat menyajikan hidangan makan siang.
"Wajar, enggak ada yang urus," sahut Mama yang terdengar seperti menyindir.
"Udah. Segera nikah lagi aja." Mbak Mita menimpali.
"Nikah itu enggak gampang. Niat, harus benar-benar ditata. Jangan sampai kejadian--"
Aku berdehem memotong pembicaraan Papa, lalu berkata tanpa sedikit pun mengangkat muka. "Mau makan apa mau nyerang Reyhan, sih?"
"Loh, siapa yang nyerang?" Papa tertawa pendek. "Orang Papa cuma mau ngasih nasihat, kok."
Nasihat di saat yang tidak tepat.
Aku menenggak segelas air putih hingga tandas. Setelahnya makan dalam diam. Aku rindu masakan Mama dan Mbak Mita. Hanya saja siang ini kehilangan selera. Wajah Maysa seakan di mana-mana. Hadir di ruang tamu, di ruang keluarga, di meja makan, di piring kosong, juga ... di kamar.
Ya, di kamar ini. Kami pernah tidur berdua. Saat awal menikah dulu. Maysa mengomentari hampir seluruh isi ruangan. Berisik sekali. Aku lelah memberi tanggapan. Andaikan waktu bisa diputar ulang ... mungkin aku akan memilih untuk menikmati setiap ocehannya. Menanggapi setiap pertanyaannya.
"Rey ...." Kehadiran Mama menarikku kembali dari kenangan. Wanita pertamaku itu duduk di sisiku di atas ranjang.
"Ma."
"Hm?"
"Maysa ...," aku menatap wajah teduh itu sekilas sebelum melempar pandangan ke dinding. Membayangkan jemari Maysa yang masih dihiasi cincin itu.
"Maysa kenapa?"
"Dia masih pake cincin dari Reyhan."
"Terus?"
"Menurut Mama, kenapa kira-kira?"
Mama diam sesaat, berpikir. "Ya terserah dia. Kan, itu mahar. Mau dipakai, mau dilepas, mau dijual, itu haknya dia."
Aku menoleh Mama, menunjukkan muka belum puas dengan jawabannya.
"Atau ... bisa jadi .... Ah, entar kamunya kegeeran lagi."
Aku menggeram sebal, sementara Mama malah tertawa.
-x-

USAI BERCERAI - 7

USAI BERCERAI - 7

Oleh: Dewi Fatimah

"Ya Allah, bolehkah hamba geer?"

Aku mengangkat kedua tangan di sepertiga malam terakhir. Rutinitas beberapa pekan belakangan. Selain memohon ampunan, juga meminta petunjuk. Bagaimana meraih kembali Maysa Al-Mahira. Lalu aku merasa ... Allah telah membuka jalan itu perlahan-lahan.

Jadi, bolehkah aku yang selama ini jauh dari kata takwa, jauh dari-Nya, tiba-tiba kegeeran, merasa apa yang telah dipinta mendapat jawaban?

Sejak bertandang ke rumahnya hari itu, aku merasa jalanku buntu. Meski kadang terbesit untuk mengunjungi toko kue miliknya, tapi aku takut tidak berani menyapa. Ada pegawai-pegawainya yang mengenalku. Aku yakin, mereka sudah mencapku sangat buruk karena telah menceraikan wanita sebaik bosnya.

Hampir setiap waktu aku berharap, Allah mempertemukan kami kembali. Entah di jalan, di warung makan, di tempat tambal ban, di tempat wisata, di mana saja. Lalu tiba-tiba di tempat itu, yang sama sekali tak terduga. Meskipun memang belum berjumpa, tapi peluang itu seakan nyata.

"Semoga ini awal yang baik," bisikku dengan tekad yang kuat.

Paginya, aku menjalani hari yang tak biasa. Seluruh sel dalam tubuh seakan riuh, bersemangat. Urat nadi berlompat-lompat. Aku merasakan lonjakan energi yang berlebihan, butuh diluapkan.

Sembari bersenandung kecil, aku membereskan rumah yang ... penampakanannya hampir mirip gudang. Wajar. Dua bulan tidak mendapatkan sentuhan wanita dan bagi laki-laki sepertiku, yang penting bisa lewat dan tidur nyenyak. Itu sudah cukup. Lalu pagi ini, aku benar-benar beberes seolah ada seseorang yang istimewa yang akan singgah dan menilai.

Setelah rumah terlihat layak, aku menyiram anggrek. Menata ulang pot-potnya, dan memotong daun-daun yang sudah tak enak dilihat. Kupastikan Maysa akan senang melihat bunga kesayangannya tumbuh indah dan sehat.

Maysa akan ke sini? Em ... mungkin bukan hari ini atau besok atau lusa atau pekan depan. Tapi suatu saat nanti.

Ya, suatu saat nanti jika Allah menghendaki.

*

Selama di kantor, pikiranku sibuk mengatur strategi. Bagaimana agar bisa bertemu Maysa esok hari. Setengah mati otakku berusaha konsentrasi pada laporan audit yang sudah ditagih berkali-kali. Namun ... argh! Gagal lagi dan gagal lagi!

"Maysa ...," aku mendesis geregetan, "bisa-bisanya kamu ...." Tanganku mengepal, mengambang. Lekas bibirku beristigfar berulang-ulang. Meredam gejolak yang kian menggila dan garang.

"Hei, Reyhan! Kenapa?" Bu Maya, kepala sub bidang, menegur. Mungkin aku terlihat seperti orang frustasi?

"Enggak papa, Bu." Aku menyandarkan punggung di kursi, berlagak santai sambil meniup-niup ujung rambut yang menjuntai di kening. Baru sadar sudah sepanjang ini.

"Pusing sama temuan, kali, Bu," seloroh yang lain.

Bu Maya terbahak menanggapi. "Biasa kalau temuan banyak, mah. Migas, gitu loh! Nikmati aja, Rey."

Aku menyemburkan napas. Lega. Kecurigaan di wajah wanita menjelang paruh baya itu telah sirna.

"Oke, Bu. Dinikmati sambil minum kopi kayaknya enak, ya?" Aku beranjak, menuju 'pojok makanan' ruangan. Membuat kopi hitam sambil menanggapi celoteh orang-orang, yang kutahu tujuannya cuma meredam stres akibat laporan yang penuh dengan temuan.

Beginilah audit obyek strategis negara. Anggaran yang digunakan besar. Sudah pasti banyak dana yang penggunaannya melenceng dari aturan.

Begitu kembali ke kursi, aku memusatkan konsentrasi pada layar laptop 11 inchi. Memandangi tulisan-tulisan yang begitu memusingkan. Aku pun menyeruput kopi yang hanya kububuhi sedikit gula. Biasanya sih, rasa pahit berpadu panas membantu otak kembali segar.

Lalu terlintas ide agar bisa bertemu Maysa.

Eh, kok malah Maysa lagi?

Memang dari tadi mencari-cari, kan? Gimana sih, Reyhan ini! Pelan, aku menepuk jidat sendiri.

Dan keesokan harinya ... di sinilah aku. Berhadapan dengan Ustaz Hadi di jam 16.00 WIB. Sengaja minta jadwal dimajukan dengan alasan ada lembur 'berjamaah' di kantor dan itu memang fakta, aku tidak mengada-ada.

Sore ini aku satu kelas dengan mereka-mereka yang sudah di level tahfiz. Fokusnya menghafal. Kelima orang di sampingku ini sudah hampir menyelesaikan 2 juz Alquran. Dalam hati, aku bertanya, kamu kapan, Reyhan?

Mendengarkan mereka setoran, aku menunduk dalam. Seperti merasakan gerimis di tengah kemarau panjang. Lafal demi lafal mengalun syahdu, mengirim kesejukan. Hingga tak terasa, kedua mataku basah. Padahal aku tidak tahu makna dari ayat yang mereka baca. Tapi ... itulah indahnya Alquran, menyentuh kalbu siapa saja yang mau mendengarkan. Menundukkan setiap jiwa yang memang mencari kebenaran.

"Pak Reyhan," tegur Ustaz hadi. Halus seperti biasa tapi sanggup membuatku gelagapan.

"Iya, Ustaz," sahutku setelah diam-diam menyeka air mata.

Ustaz muda itu tersenyum ramah kepada semua santri di hadapannya. "Bapak-bapak ...."

Oke. Pause dulu bagian ini.

Bapak-bapak? Iya, kelima orang santri yang duduk berjajar ini usianya kira-kira sudah masuk lima puluhan. Namun semangatnya untuk belajar Alquran jangan diragukan. Dari cara mereka membaca saja sudah terdengar kesungguhan yang datang dari hati terdalam.

"... perkenalkan, ini Pak Reyhan. Baru satu bulanan belajar di sini," lanjut Ustaz Hadi.

Kami pun saling menjabat tangan.

Setelah berbasa-basi sebentar, mereka pamit pulang. Tinggalah aku sendirian, berhadapan dengan ustaz berkarisma ini.

"Kemarin materinya sampai mana, Pak?" tanyanya dengan wajah tenang.

"Mm ...," aku membuka buku tajwid, "sampai idgham mimi."

Ustaz Hadi tersenyum, lalu menulis di papan. Mengajakku me-refresh materi sebelumnya. Idghom mimi. Yang dibaca mendengung jika ada mim sukun bertemu dengan mim.

"Contohnya apa, Pak?" tanya beliau.

"In kuntum mu'minūn ...," jawabku.

Ustaz Hadi mengangguk-angguk, lalu melanjutkan materi berikutnya.

Saat pembelajaran akan berakhir ....

"Mau langsung pulang, Ustazah?" tanya tenaga administrasi di depan. Entah kepada siapa.

"Iya."

Detak jantungku terhenti, lalu kembali berdegub dengan keras hingga dadaku terasa nyeri. Itu ... suara Maysa.

"Enggak nunggu yang di dalem, Ustazah?" tanya tenaga administrasi yang membuatku mengulum senyum karena geer.

"Yang di dalem? Siapa?"

"Ustaz ...," penjaga administrasi berdehem, "yang masih ngajar."

Tubuhku membeku sesaat. Kulirik sosok di hadapanku. Tertangkap tarikan tipis di bibir kemerahan itu.

"Kenapa harus ditunggu?" tanya Maysa lagi.

"Ah, Ustazah Maysa."

"Loh, saya nanya serius ini." Maysa tertawa kecil. Tawa yang kurindukan, yang tak terdengar selama dua bulan.

Ustaz Hadi menghela napas panjang. Mungkin meredam debaran dalam dadanya. Ia pun menatapku dengan senyum mengembang, lalu menutup pertemuan.

"Saya keluar dulu, ya, Pak?" pamitnya ketika aku membereskan buku pelajaran.

"Iya, Ustaz," sahutku dengan hati tersayat.

Tidak biasanya ia keluar duluan. Apakah memang ada hubungan spesial di antara mereka? Secepat inikah, Maysa?

"Yah, ustazahnya baru saja pulang, Ustaz," seloroh penjaga administrasi.

"Ustazah siapa?" tanya Ustaz Hadi pura-pura tak mengerti.

"Ah, Ustaz ini sama saja. Kita semua sudah tahu, Ustaz."

"Tahu apa?"

"Ck. Ya sudahlah. Yang penting ditunggu kabar baiknya, Ustaz."

Ustaz Hadi tertawa renyah. "Antum ini."

Aku hanya bisa menelan ludah. Menyadari sayatan di hati yang kian bertambah.

*

Pada pemilik sepertiga malam terakhir, Yang Maha Tahu. Aku kembali bersimpuh. Mengadu, bertanya, dan merenung.

Seperti habis terbang tinggi, membumbung, lalu tiba-tiba jatuh, terhempas begitu saja. Tulang-tulang terasa remuk. Persendian seperti tak lagi pada tempatnya.

"Hamba malu sudah terlalu geer," aku mengadu.

"Apakah ini suatu teguran atau semacam hukuman, Ya Allah?" aku bertanya.

Ya, hukuman. Karena telah menyakiti wanita yang bahkan tidak pantas untuk disakiti. Seorang istri yang begitu berbakti.

Aku merenung. Ingatan awal bertemu dengan Ratu terputar kembali. Saat di mana, kupikir aku masih begitu mencintainya. Lalu setelah menyaksikan derai air matanya, aku benar-benar ingin kembali, memperjuangkannya.

Namun pantaskah disebut perjuangan jika malah kehilangan sesuatu yang lebih berharga? Bukankah itu kebodohan yang hanya jadi bahan tertawaan seluruh makhluk di dunia?

Ya, kebodohan. Sesuatu yang sangat kusesali. Terlebih lagi, lambat kusadari bahwa rasa yang ada untuk Ratu saat ini bukanlah cinta. Melainkan rasa kasihan belaka.

Kasihan melihatnya kembali didera sengsara. Dan aku keliru telah hadir melebihi batas yang dibolehkan agama.

Aku menghela napas dalam-dalam. Mengurai kesesakan.

Untuk Maysa .... Ia memang pantas bersanding dengan Ustaz Hadi. Seperti kataku dulu. Bahwa ia berhak mendapatkan lelaki saleh, yang akan membawanya ke surga.

Jika Ustaz Hadi membuatnya bahagia, maka aku akan belajar untuk ikut berbahagia. Mungkin tidak mudah. Tapi aku yakin bisa. Entah butuh waktu berapa lama.

Lalu untuk hati ini .... Bersabarlah. Kata orang, waktu adalah penyembuh luka.

*

Patah hati memang harus segera diobati. Jika tidak, berpotensi terjangkit infeksi.

Maka sedapat mungkin aku bersikap normal di kantor. Menenggelamkan diri pada aneka pekerjaan alih-alih kembali memikirkan Maysa. Berusaha se-enjoy mungkin menghadapi layar datar di hadapan, sambil menikmati kopi setengah pahit dan camilan yang dibawa beberapa rekan.

Orang-orang di ruangan ini saling melempar candaan. Baguslah. Hari ini aku butuh banyak tertawa. Selain mengusir kejenuhan juga lumayan mengusir kesedihan.

Laporan pun akhirnya jadi! Siap dicetak dan dimintakan tanda tangan.

"Selesai, Rey?" tanya salah satu senior.

"Yo'i, Pak!" sahutku dengan semangat.

"Wah, tungguin gue, dong! Main slesai aje, lu!" seru yang lain.

Aku tertawa pendek. "Saatnya yang muda selesai duluan, Pak. Biar SPJ cepat cair."

"Ah elu, Rey. Belom punya anak mah, santai aja. SPJ cair belakangan juga gak bakalan ada yang protes."

Ya, dari dulu juga enggak ada yang protes. Maysa mana pernah mengeluh atau menggerutu soal uang yang kuberikan?

Astagfirullah! Aku menggeleng cepat. Mengusir bayangan Maysa yang tiba-tiba berkelebat.

Begitu berkas selesai dicetak, aku menyerahkannya pada ketua tim. Setelahnya beranjak ke luar ruangan, ke kamar mandi. Ada 'panggilan alam' mendesak. Namun seluruh toilet pria di lantai ini 'berpenghuni'.

"Cacing karatan!"

Eh, sori, keceplosan. Kebiasaan mengumpat susah hilang.

Dengan langkah tergesa, aku turun ke lantai bawah.

Setelah hajat tertunaikan, aku berjalan santai, kembali ke ruangan yang berada di lantai sembilan.

"Reyhan!" Seseorang memanggil ketika diriku berdiri di depan lift. Menunggu pintu terbuka.

Aku memelintir kepala dengan cepat ke arah sumber suara. Dahiku mengernyit otomatis ketika mendapati sosok yang secara ajaib berada di sini.

Sony.

-x-