USAI BERCERAI - 6
OLEH : DEWI FATIMAH
Menikah baru hitungan bulan kemudian bercerai. Terdengar konyol, memang. Tetapi siapa sangka jika itulah yang justru menjadi titik balik kehidupan seorang Reyhan?
Baru enam bulan, tapi segala hal yang berkaitan dengan Maysa seperti sudah melebur dengan diriku, membawa pengaruh yang begitu dahsyat bagi jiwaku. Jiwa yang selama ini melompong tanpa pengetahuan agama. Jiwa yang hampa tanpa diisi lantunan zikir dan ayat-ayat-Nya.
Aku bertekad memperbaiki diri. Bukankah cepat atau lambat kematian akan menghampiri? Apa yang akan kubawa jika nyawa sudah terpisah dari raga? Dunia yang berhasil kukumpulkan tidak akan sanggup menebus pedihnya siksa neraka. Iya, kan?
Sudah hampir satu bulan belajar tahsin di sebuah lembaga non profit dengan bimbingan seorang ustaz. Namanya Ustaz Hadi. Tahu umurnya berapa? 26 tahun, Men! Lebih muda empat tahun dariku. Awalnya malu. Benar-benar ... muka ini mau ditaruh mana? Dia yang masih belia sudah menjadi hafiz quran. Aku? Tilawah saja masih belepotan.
Namun ada yang bilang, jangan malu untuk urusan agama. Jadi, untuk yang satu ini, singkirkan jauh-jauh yang namanya gengsi.
Lagi pula, ustaz muda keturunan Arab yang mengajar ini, terlanjur membuatku nyaman. Sikapnya lembut, budi bahasanya halus. Cara menegurnya juga sangat sopan.
"Em ... kalau ada tanwin bertemu dengan wawu, bacanya mendengung, Pak. Jadinya begini, 'dzulumātuww wara'duww wabarq. Bukan dzulumātuw wara'duw wabarq." Agak sungkan, ia menegur lalu mengoreksi.
Aku hanya menggaruk-garuk kepala. Padahal itu materi dua hari lalu, tapi sudah lupa.
Melihatku salah tingkah, Ustaz Hadi tersenyum ramah dan berkata, "Enggak apa-apa, Pak. Pelan-pelan."
"Saya juga sering lupa, Pak," ujar Pak Zaid, disusul tawa pendek. Beliau teman belajar satu kelas denganku. Usianya sudah memasuki kepala lima. Biarpun sering salah baca, tapi semangatnya luar biasa.
Oh ya, di kelas ini cuma ada lima orang. Memang dibatasi agar proses belajarnya bisa efektif dan ustaznya tidak kuwalahan. Dari lima orang itu, tiga lainnya masih berstatus mahasiswa S1. Terbayang kan, betapa malunya kalau keliru?
Aku mengulangi. Pelan-pelan dan kali ini benar.
Ingat ya, Reyhan, nun sukun atau tanwin kalau bertemu dengan wawu, dibaca mendengung. Men-de-ngung. Itu bacaan idghom bighunnah. Hurufnya ada empat. Ya, nun, mim, dan wawu. Jangan salah lagi, plis!
Pukul 20.30 WIB, pelajaran selesai. Aku pulang, mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ketika melewati sebuah komplek ruko, aku sengaja memperlambat laju kendaraan. Menoleh ke kiri jalan, fokus pada unit dengan tulisan 'Orchid Cake n' Bakery', toko kue milik Maysa. Sudah tutup, tentu saja. Aku menyemburkan napas kecewa.
Toko itu berdiri dua tahun sebelum kami menikah. Maysa sarjana ekonomi. Suka bisnis. Ketika masih mahasiswa, dia menyewa teras koperasi kampus untuk jualan kue. Bukan dia yang memproduksi, tapi teman-temannya dari Jurusan Tata Boga. Lalu bisnis itu berakhir ketika dia lulus sarjana, saat usianya 22 tahun. Uang hasil jualan di kampus yang dia tabung, rupanya cukup untuk menyewa unit itu.
Kadang aku heran dengan Maysa. Dia orang berada. Papanya seorang pejabat di salah satu perusahaan BUMN. Tetapi kenapa memilih hidup mandiri seperti itu?
Ah, rupanya waktu enam bulan belum cukup untuk membuatku tahu banyak hal tentang dirinya.
Aku menggeleng, mengusir rasa rindu yang tanpa ampun menggigit kalbu. Nyeri. Sakit. Sesak. Terpilin-pilin dalam satu waktu. Fix, aku butuh obat.
Begitu sampai rumah, aku duduk di teras. Ada satu kursi plastik berlengan. Biasanya Maysa duduk di sini. Memandangi bunga-bunga anggrek yang menjuntai dan bermekaran. Sesekali sambil menyemprotkan air dan membubuhkan pupuk. Atau menata ulang letak pot-potnya, yang kurang lebih ada dua puluh empat.
Malam ini, aku melakukan hal yang sama. Mungkin agak gila. Namun dengan melihat mereka, bukan hanya melegakan ruang rindu, tapi juga menumbuhkan sebuah harapan. Bahwa suatu saat Maysa akan kembali ke rumah ini. Sebagai istriku lagi. Entah kapan, atau selamanya hanya akan jadi mimpi?
Iseng, aku memotret bunga anggrek yang kubeli waktu dinas luar di Jawa Timur. Sudah lebih besar dari waktu itu. Ada lima batang dan masing-masing sudah berada di pot yang berbeda.
Dengan bantuan flash dari kamera ponsel, lumayan menghasilkan gambar yang tajam.
Iseng lagi, jempolku mencari ruang percakapan whatsapp dengan Maysa. Lalu aku mengetik di sana,
[Anggrek ini untuk Maysa. Beli waktu dinas luar di Jawa Timur. Waktu itu masih di botol. Sekarang sudah lebih besar. Abang pindahin ke pot. Belajar nanam anggrek dari buku yang Maysa beli.]
Setelah kubaca ulang, segera kuhapus lagi. Dan beginilah caraku mengungkapkan isi hati. Mengetik di ruang percakapan, lalu baca sebentar, dan setelahnya ... delete. Kadang jika Maysa terlihat online, aku berhenti lalu mematikan layar. Menghilang.
Mungkin terlihat seperti pengecut. Biarlah. Ya, biar saja untuk sementara begini. Aku yakin, di sana Maysa butuh waktu. Butuh waktu untuk ... entahlah. Mungkin semacam jeda untuk meredam rasa sakit akibat ulahku.
Ingatanku pun lari, menarik momen ketika bertandang ke rumahnya. Sepulang kantor, beberapa jam setelah anggrek bulan dari si Pengagum Rahasia sampai padanya.
"Aku pikir enggak ada gunanya kamu ke sini. Kalau sekedar mau minta maaf, orang tua kamu sudah melakukannya kemarin," ucap Mahesa, kakak Maysa. Seorang lelaki yang dinginnya mengalahkan freezer es krim.
Aku menatapnya dalam diam. Dari caranya bicara, aku paham bagaimana tersinggungnya keluarga Maysa.
"Setidaknya saya beritikad baik. Entah ada gunanya atau sia-sia." Sebagai pihak yang salah, aku melapangkan dada untuk berada di 'bawah'.
Lelaki yang usianya sepantaran denganku itu tersenyum miring. "Kalau memang beritikad baik, bukan taksi online yang mengantar Maysa pulang ke sini."
Ya, aku memang salah besar. Keliru total. Kupikir Maysa tidak akan pergi secepat itu. Kala itu aku ... aku syock berat.
"Apalagi dengan kondisi badan yang bahkan dipakai berdiri saja belum tegak," desis Mahesa. Kalimatnya berhasil menendang seluruh isi dadaku.
Janin itu .... Keguguran itu ....
Merasa tidak diterima dengan baik, aku segera pamit. Niatnya ingin bertemu dengan Maysa atau orang tuanya, tapi malah berhadapan dengan manusia salju bernama Mahesa. Kata Bi Salamah, tuan dan nyonya pemilik rumah sedang ada acara di luar sana. Salahku juga datang tiba-tiba.
Sebelum meninggalkan rumah itu, aku melirik ke arah taman kecil di samping teras. Lega. Anggrek putih dari si Pengangum Rahasia ada di sana. Tiba dengan selamat tanpa ada secuil pun yang potel. Oh, thanks, Bang Ojol.
Lalu sebelum membuka pintu mobil, aku mendongakkan wajah, ke arah kamar Maysa. Mataku menangkap gorden yang sedikit disingkap oleh jemari lentik seseorang. Mengulum senyum, aku tahu itu dia.
Hari itu, aku pulang dengan separuh hati bahagia dan separuhnya lagi hampa. Sikap Mahesa mematahkan semangatku untuk kembali merengkuh Maysa.
*
Weekend ini, Ratu mengajakku bertemu di Fauna Land, Eco Park Ancol. Dia ingin memperkenalkan Bastian. Aku mengiyakan. Kupikir akan sangat menyenangkan bermain dengan anak kecil.
"Kenalin Sayang, ini namanya Om Reyhan." Ratu mengenalkan Bastian padaku.
Aku tersenyum ramah, lalu membungkuk sembari mengulurkan tangan kanan. "Hai, Bastian."
Anak lelaki berpipi tebal itu menatapku takut-takut. Bukannya menyambut tanganku, ia malah bersembunyi di belakang ibunya.
"Maaf, ya? Bastian emang gini kalau ketemu sama orang baru." Ratu tersenyum lalu menggendong putranya.
"Enggak papa. Mungkin takut lihat aku yang brewokan." Aku terbahak pendek.
Kami pun berjalan menuju loket pembelian tiket. Lumayan, antreannya agak panjang.
"Papa mana?" tanya Bastian dengan artikulasi yang belum begitu jelas.
Ratu mengerling sungkan ke arahku. "Papa .... Em ... hari ini Bastian main sama Mama aja, ya. Sama Om Reyhan juga. Kita mau lihat apa, Sayang? Oh, mau lihat monyet, ya? Sama singa juga! Yeay!"
"Suara singa gimana, Bastian?" tanyaku ikut mengalihkan. Biasanya keponakanku akan antusias jika diminta menirukan suara-suara hewan.
Bastian malah menyembunyikan muka. Aku pun memilih diam saat menyadari sudah mendapatkan giliran untuk membeli tiket.
Begitu tiket di tangan, aku mengiringi langkah Ratu yang agak terseok-seok karena balita berbadan bongsor itu tidak mau turun dari gendongan.
"Papa ...," rengek Bastian berkali-kali.
Aku hanya bisa menggaruk tengkuk. Merasa tidak nyaman dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Eh, itu apa, Sayang?" Ratu mempercepat langkah saat kami hampir mencapai kandang beberapa hewan. Aku hanya mengekor di belakang.
Bastian memandang kucing raksasa yang melingkarkan badan di balik dinding kaca tebal. Tapi hanya sesaat, karena setelahnya ia kembali merengek, menyebut kata papa.
Ratu membawa Bastian berlari kecil. Mungkin biar tertawa. Wanita berpakaian kasual itu menghentikan langkah di kandang singa putih. Telunjuk Ratu mengetuk-ngetuk kaca tebal yang menjadi pembatas antara pengunjung dan si hewan buas. Bukannya senang, anaknya justru menangis kencang.
"Kayaknya dia lengket banget sama papanya," tuturku saat kami duduk di sebuah bangku panjang. Bastian sudah terlelap di pangkuan Ratu. Mungkin karena capek menangis dan merengek selama berjam-jam.
Ratu mendengkus lirih. Wajahnya berpeluh. "Namanya juga papa sama anak. Wajar lah."
Ya, wajar. Keponakanku juga begitu. Lengket bukan main sama Mas Haidar, papanya. Tapi tak separah Bastian, kupikir. Sepertinya, Sony mendapat tempat yang benar-benar istimewa di hati anaknya.
"Sori ya, Han. Bastiannya enggak kooperatif." Ratu menenggak sekaleng minuman kelapa hingga tandas.
"Enggak papa. Namanya juga anak kecil." Aku tersenyum meyakinkan. "Habis ini ke mana?" Tanyaku sembari mengedarkan pandangan. Masih ada satu wahana lagi, berinteraksi dengan burung pemangsa. Tapi belum dibuka.
"Pulang, mungkin. Capek banget." Ratu melahap sebungkus roti. Sepertinya benar-benar kelaparan.
"Aku beliin nasi dulu, ya?"
Ratu mengangguk senang. "Boleh."
Aku beranjak. Menuju outlet salah satu penjual makanan. Saat menerima dua kotak nasi, mataku menangkap sesosok berkerudung lebar.
Maysa?
Kontan jantungku berdentam. Namun lekas mereda saat menyadari bahwa itu bukan dirinya. Aku membuang napas kuat-kuat. Sejak Maysa pergi, aku sering begini. Mengira bahwa semua wanita bergamis dan berkerudung lebar adalah mantan istri.
*
"Silakan, Pak, kuenya." Seorang tenaga administrasi menawarkan sekotak kue besar ketika aku mengisi absensi.
Orchid Cake n' Bakery?
Alisku berkerut. Ah, mungkin ada yang beli di sana lalu dibawa ke sini. Aku menggeleng. Mengusir bayangan Maysa yang datang tiba-tiba.
"Saya masih kenyang, Pak. Makasih. Oh ya, Ustaz Hadi sudah ada?" tanyaku sambil celingukan menengok ke dalam.
"Sudah, Pak. Tapi masih di belakang, kayaknya."
"Oh. Saya masuk kelas dulu, ya?"
"Silakan, Pak."
Letak ruang kelasku kebetulan dekat dengan ruang administrasi. Dengan dinding sekat yang terbuat dari papan, suara-suara di depan masih bisa didengar dengan jelas dari sini. Aku datang paling awal. Sambil menunggu yang lain, aku membuka-buka kitab tajwid. Mengulang pelajaran kemarin.
"Kue dari siapa, nih?" tanya seseorang yang baru datang. Entah siapa.
"Dari Ustazah Maysa, Ustaz. Enak banget, Ustaz. Silakan kalau mau."
Ustazah Maysa?
Mendengar nama itu, konsentrasiku buyar.
"Oh, Ustazah baru yang wajahnya kayak orang Korea itu?"
"Na'am Ustaz. Beliau kan, punya toko kue. Sering bawa makanan ke sini. Tapi kadang udah habis duluan sama yang lain."
"Oh, gitu. Mm ... enak, ya? Bisa pesan ke sana nih, kalau ada acara."
Maysa mengajar di sini?
Aku bangkit keluar ruangan. Membaca jadwal belajar yang ditempel di dinding lorong.
Benar saja, ada nama Maysa Al-Mahira. Mengajar hari Senin sampai Jumat, pukul 16.00-17.30 WIB. Kelas putri.
Jadi ... kita sedekat ini, Maysa?
‐x-
Jumat, 15 Mei 2020
USAI BERCERAI - 5
USAI BERCERAI - 5
OLEH : DEWI FATIMAH
Mungkin tidak berlebihan jika kusebut sebagai patah hati paling parah sepanjang perjalanan hidup.
Ya, ketika kita menjatuhkan perasaan pada seseorang, tetapi terlambat. Karena dia telah pergi. Tanpa sorot mata yang menunjukkan, bahwa ada rasa senada yang ia miliki.
Dengan dada masih berdenyut nyeri, aku menyusul mobil yang ditumpangi Maysa. Logikaku mengatakan, aku harus tetap menjaganya. Harus kupastikan bahwa dia dalam keadaan aman, sopir taksi online tidak macam-macam, dan yang paling penting Maysa sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Gerimis tipis mengguyur Jakarta. Aku yang mengendarai sepeda motor tidak terlalu menggubris. Mobil hitam dengan plat nomor yang sudah kuhafal itu harus berhasil kukejar. Dan misi baru tercapai setelah sepuluh menit menjadi pembalap dadakan.
"Motor pengkor!" rutukku kesal. Sebuah truk melewati kubangan air dan sialnya tubuhku kecipratan!
Namun apakah itu membuatku berhenti? Tentu saja tidak! Anggap saja pengorbanan meski tak seberapa.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berbelok menuju komplek di mana orang tua Maysa tinggal. Debar-debar di dadaku tak terkendali. Selain takut ketahuan, lingkungan ini juga mengingatkanku pada pernikahan yang digelar enam bulan silam. Pernikahan kami.
Aku sedikit membuka kaca helm, menghirup udara dalam-dalam. Ingatan momen pernikahan membuatku hampir kehabisan napas.
Pernikahan itu .... Hari di mana seharusnya aku menjadi laki-laki paling bahagia karena mendapatkan wanita sebaik Maysa. Hari di mana harusnya aku move on dari masa lalu, dan menjadikan Maysa satu-satunya permaisuri di hatiku. Dan sekarang ... semuanya sudah terlambat? Aku berharap tidak, meski semesta seolah mengatakan sebaliknya.
Aku menghentikan motor di bawah tiang listrik, berjarak kira-kira 10 meter dari rumah orang tua Maysa. Mobil hitam tadi berhenti di depan pagar bercat putih. Kulihat Maysa turun dan si driver membuka pintu bagasi belakang, mengambil koper. Setelah benda itu berpindah tangan, Maysa mengangguk terimakasih, lengkap dengan senyum yang menawan.
Andai senyum itu untuk Abang, May .... Dan tanpa sadar, satu lenganku sudah memeluk tiang listrik. Tuhan ... sungguh aku cemburu dengan driver paruh baya itu!
Mobil bergerak menjauh ketika pintu pagar dibuka seseorang. Maysa masuk dan lekas memeluk sosok itu.
Bibi Salamah, ART keluarganya.
Aku bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Sebuah drama kepulangan seorang wanita setelah menjadi janda. Aku membuang napas kasar. Sungguh miris saat mengingat bahwa akulah pelakunya.
*
Pulang kerja dan tidak ada yang menyambut seperti biasa. Bukan hanya berbeda, tetapi keanehannya benar-benar terasa.
Rumah sepi. Tidak ada suara lembut dan tegas itu lagi. Yang menyuruhku mandi, ganti baju, salat, dan makan malam. Tidak ada bebunyian yang berisik dari dapur sana. Juga tak ada lagi suara perabotan jatuh yang mulai akrab selama sebulan terakhir ini.
Rumah ini seperti raga kehilangan nyawanya. Dingin dan sunyi.
Aku merobohkan tubuh di sofa, menyalakan televisi. Dan masih saja seluruh tayangan tampak hambar di mata. Ya, bagaimana bisa menikmati sesuatu dengan hati yang separuhnya dibawa pergi?
Maysa ... kapan engkau kembalikan hati Abang yang separuhnya lagi?
Aku mendesah lesu saat ada telepon masuk dari Ratu. Entah kenapa, kali ini aku tidak ingin diganggu. Kubiarkan ponsel terus berpendar hingga cahayanya kembali pudar. Lalu hapeku berdenting beberapa kali, tanda ada pesan baru. Ah, aku belum bernafsu berinteraksi dengan siapapun di dunia ini. Ya, siapapun.
Namun sialnya ada suara berisik di luar. Seperti pintu pagar yang diguncang-guncang. Siapa coba yang tak sungkan bertamu menjelang magrib begini?
Dengan langkah malas, aku menyingkap gorden. Mengintip siapa si tamu tak diundang. Dan mataku membelalak seketika. Mama?
Buru-buru kubuka pintu dan menghambur keluar. Tentu saja sambil memikirkan susunan kalimat yang tepat, jika Mama menanyakan soal Maysa.
"Mama kok enggak bilang-bilang kalau mau ke sini?" tanyaku sambil membuka pagar.
"Kenapa harus bilang?" jawab Mama ketus. Di balik punggungnya ada Papa yang masih duduk di kursi kemudi.
Perasaanku mulai menebak-nebak. Ada apa sampai mereka datang berdua? Mendadak lagi? Tumben.
Tunggu! Jangan-jangan Maysa sudah bilang ke Mama soal perceraian ini? Mati aku!
Setelah mobil Papa masuk halaman dan terparkir dengan benar, aku masuk rumah menyusul Mama. Wanita bertubuh langsing itu sudah duduk di sofa depan televisi. Tahu apa yang dilakukan? Mematikan televisi.
"Sini!" perintahnya sambil menepuk kasar sofa di sebelahnya.
Aku menurut.
"Kamu apakan mantu Mama?" Mama menginterogasi dengan kedua mata berkilat terluka.
Jujur, jantungku hampir saja melompat saking terkejut. Tetapi bukan Reyhan jika tak bisa berkamuflase. Aku pun memasang wajah datar seolah tak terjadi apa-apa.
"Emang Maysa kenapa, Ma?"
"Maysa kenapa, Maysa kenapa?" Mama menirukanku. "Coba jelasin ke Mama, kenapa kalian sampai bercerai?!"
Papa masuk, melempar kunci mobil ke atas meja. Garis wajahnya yang memang tegas dengan kumis dan jenggot putih tebal, ditambah ada campuran emosi, semakin membuat nyaliku ciut untuk menghadapi. Lelaki yang usianya baru menginjak 64 tahun itu menarik kursi bulat lalu duduk dengan dada tegap.
"Rey," tegurnya dengan suara ngebas. "Papa sama Mama datang ke sini, menuntut penjelasan yang masuk akal dari kamu. Usia pernikahan kalian baru enam bulan tapi sudah cerai. Maysa itu anak orang. Jangan kamu permainkan sembarangan gitu, dong!"
Aku baru sanggup menghela napas, belum bisa membalas.
"Kalau memang Maysa bersalah, enggak semudah itu bercerai, Reyhan. Rumah tangga itu bukan sesuatu yang boleh dibubarkan dengan gampang!
"Sebelum menikah, Papa kan sudah ngasih tahu tahapan-tahapan menyelesaikan masalah. Masih ingat enggak kamu?"
Aku menggaruk kepala dengan kasar. Waktu Papa ceramah soal itu, aku memang malas mendengarkan.
"Lupa itulah!" sahut Mama kesal.
Papa mengembuskan napas lesu bersamaan dengan kedua bahunya yang lemas. Pastilah beliau menganggap aku ini anak yang payah.
"Rey ...," Papa menautkan kedua telapak tangannya, "para ulama itu sudah menyusun panduan bagaimana menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Karena para ulama itu tahu bahwa rumah tangga bukan akad yang dimudah-mudahkan untuk dibubarkan. Jangan karena bertengkar sedikit, cekcok sedikit, suami mengucapkan cerai. Keliru besar, itu!"
Aku menunduk dengan leher lemas. Aku memang salah besar. Aku tak bisa membantah.
"Kalau istri melakukan kesalahan, yang pertama dilakukan suami itu adalah menasehati. Supaya apa? Supaya istrinya memperbaiki diri. Kalau dengan nasehat belum mempan, pisah ranjang. Diharapkan dengan pisah ranjang, istri itu jadi tersiksa lalu mau memperbaiki kesalahannya. Nah, kalau dengan pisah ranjang masih enggak mempan, pukul istri tapi dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Ingat, ya, pukulan yang tidak menyakitkan!" Papa bicara dengan tegas. Kedua pundaknya kembali tegap.
"Jangan-jangan Maysa udah pernah kamu pukul?" selidik Mama penuh emosi.
"Ya Allah, Ma. Belum pernah lah, Ma." Aku menjawab dengan sebal. Enak saja dituduh begitu.
"Ya sudah, kalau belum pernah. Karena dosa besar memukul istri, apalagi memukul wajah," tegas Papa.
"Iya, memang belum pernah." Aku menyandarkan punggung di sofa. Nasehat Papa membuatku lelah.
"Nah," Papa melanjutkan ceramahnya, "kalau sudah dipukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan tapi masalah belum juga selesai, maka selanjutnya masing-masing pihak mengirim utusan untuk berkomunikasi, mencari jalan keluar. Kalau langkah ini masih belum menyelesaikan masalah juga, ya ... tidak ada jalan lain lagi."
"Jadi bukan tiba-tiba cerai, Reyhan ...!" Mama bicara sambil meremas bantal kecil. Melampiaskan rasa kesal.
"Sekarang bilang sama Papa, kenapa kalian bercerai?" Papa bertanya dengan wajah dingin. Mengingatkanku pada proses interogasi di film-film Barat. Mirisnya, aku berperan menjadi si pesakitan.
Mataku melirik Mama dan Papa bergantian. Aku yakin jawaban yang akan aku sodorkan akan membuat mereka kecewa. Maka, aku putuskan untuk balik bertanya.
"Emang Maysa bilang gimana ke Mama?"
Mama menghela napas berat. Seperti orang sedih karena sebuah masalah besar. "Dia cuma bilang minta maaf ke Mama sama Papa, karena belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu."
Perkataan Mama membuat persendianku lemas. Astaga, Maysa ....
"Cuma itu doang, Ma?" tanyaku lagi setelah beberapa detik keheningan menjeda obrolan kami.
"Ya. Makanya Papa tanya sama kamu, sebenarnya kalian ada apa?" Nada bicara Papa seperti orang tergesa-gesa.
"Maysa nelpon Mama duluan?" Aku sengaja membelokkan topik. Ya Allah, aku belum siap membeberkan alasan yang sebenarnya.
"Enggak. Mama yang nelpon duluan. Kamu harus tahu, Rey. Ibu kamu ini punya perasaan yang peka. Dan terbukti, kan? Memang ada apa-apa sama kalian?" Papa menjawab dengan agak emosi. "Jadi kenapa?"
Aku meneguk ludah. Berbelit-belit rupanya hanya membuat Papa tambah marah.
"Reyhan belum bisa cinta sama Maysa." Akhirnya aku menjawab lirih.
"Astagfirullah ...."
"Ya Allah, Ya Tuhanku ...."
Papa dan Mama melenguh bersama. Sesuai dugaan, mereka kecewa besar.
Tapi itu dulu, lanjutku sebatas dalam kalbu.
"Rey!" Papa setengah membentak, "kamu pikir Papa sama Mama dulu waktu menikah udah saling cinta? Enggak, Rey! Papa sama Mama ini dijodohkan. Tapi Papa sebagai laki-laki punya prinsip! Itu tadi, pernikahan bukan sesuatu yang main-main. Bukan sesuatu yang boleh dibubarkan dengan seenaknya! Papa nerima Mama, Mama nerima Papa. Dan dengan kita berinteraksi tiap hari, berjuang bersama, tumbuhlah rasa cinta."
"Harusnya kamu dulu nolak Maysa sejak awal, dari pada ujung-ujungnya begini!" tukas Papa.
"Maysa salah apa sih, Rey?" Mama belum puas dengan jawaban tadi.
Aku meraup muka dengan kasar. Merasa tertekan. "Salahnya dia mau nikah sama laki-laki bodoh kayak Reyhan!" Aku beranjak meninggalkan mereka berdua.
Kesal, marah, dan kecewa. Bukan pada Papa atau Mama apalagi Maysa. Tapi lebih pada diri sendiri.
Aku lalu masuk kamar bersamaan dengan suara azan magrib yang menggema dari sudut-sudut Kota Jakarta. Mengempaskan tubuh di atas ranjang sembari menikmati lantunan takbir yang menenangkan.
*
Ratu minta bertemu di restoran yang sering kami kunjungi. Aku mengiyakan. Sekalian makan siang, pikirku. Dengan semangat, wanita yang duduk di hadapanku itu menceritakan proses persidangan. Dia juga membeberkan berapa besaran nafkah selama menjalani masa iddah, dan rencananya uang itu akan ia gunakan sebagai modal bisnis kecil-kecilan.
Aku hanya mendengarkan sembari mengaduk-aduk nasi goreng kambing. Mencari-cari perasaan yang seharusnya ada. Perasaan untuknya, yang kukira masih menggebu seperti awal ketika kami bertemu. Satu bulan lalu.
"Han ...," Ratu berusaha melihat mukaku yang memang menunduk.
"Hm?" Aku sedikit mengangkat wajah.
"Kamu kenapa sih, Han?"
Aku menghela napas. "Lagi banyak kerjaan di kantor," jawabku sekenanya. Tapi memang itu fakta. Laporan audit tempo hari belum kelar dan sudah ditindih tugas baru. Melelahkan.
"Kenapa enggak bilang, sih? Tahu gitu aku enggak ngajak ketemuan. Udah semangat curhat, malah dicuekin." Ratu menggerutu.
Aku diam. Menyadari ada sesuatu yang mulai tak nyaman. Entah apa. Padahal sebelumnya, semua seperti normal-normal saja.
"Lain kali bilang aja, Han. Aku enggak suka lihat kamu suntuk kayak gitu." Ia terlihat mulai kesal.
"Iya, sori. Aku balik ke kantor dulu, ya?" Aku lantas memanggil pelayan, membayar pesanan.
"Makanan kamu?" Ratu merujuk pada nasi goreng yang tampak utuh. Hanya berkurang dua sendok. Akhir-akhir ini nafsu makanku memburuk.
"Bisa tolong dibungkusin, Mas?" pintaku pada si pelayan yang lekas disahut dengan anggukan ramah. Setelahnya, laki-laki itu pergi dengan membawa pesananku.
"Oh ya, soal Bastian, ada kesepakatan untuk berbagi hari. Nanti kalau udah giliran sama aku, aku pengen ngajak Bastian main ke tempat kamu. Boleh, kan?" Ratu sudah kuberi tahu bahwa Maysa pulang ke rumah orang tuanya.
Detik kemudian, Ratu menautkan kesepuluh jemarinya untuk menopang dagu. Dulu pose yang begitu membuatku benar-benar ingin segera memilikinya. Namun sekarang, terasa begitu biasa.
"Oke," sahutku singkat. Sepertinya memang tak ada jawaban yang lebih baik dari itu.
Pelayan datang membawa bungkusan makanan. Aku pamit pada Ratu dan meminta maaf tidak bisa mengantarnya pulang. Dia maklum meski raut kecewa jelas terpahat di wajah ovalnya.
Mobil kulajukan dengan kecepatan sedang. Alih-alih kembali ke kantor, aku malah berbelok ke sebuah toko buku paling besar di Jakarta. Ada pameran anggrek yang digelar di sana.
Hampir setengah jam mengelilingi stand demi stand. Memandangi tanaman seindah ini membuat senyumku terus mengembang. Wajah Maysa ... seperti ada di setiap mahkota bunga yang terpajang.
"Mbak," sapaku pada salah satu penjaga stand.
"Iya, Pak?"
"Bisa enggak, kalau ini dikemas dengan bagus untuk hadiah?"
"Oh, bisa banget, Pak. Silakan Bapak pilih yang mana, nanti kami kemas sesuai keinginan Bapak."
Hatiku membuncah, disusul senyum yang tak berkesudahan. Membayangkan wajah Maysa yang berseri-seri menerima bingkisan ini. Anggrek Bulan namanya. Warna kelopaknya putih bersih. Cantik. Maysa belum punya. Mungkin karena pertimbangan harga atau memang langka?
"Oh ya, Mbak. Ini aman, kan, kalau mau dikirim pakai ojek online?" Aku memastikan.
"Aman, Pak. Insyaallah aman." Penjaga stand meyakinkan.
Aku mengangguk-angguk lalu menunjuk satu pot bunga anggrek yang berisi dua pohon. Bunganya sudah menjulur panjang. Eksotik. Seperti yang pernah Maysa katakan.
Sebelum dikemas, aku menyelipkan sebuah kertas. Berisi tiga baris tulisan.
"Dear Maysa Al-Mahira,
Semoga kamu suka.
Dari Pengagum Rahasia."
- x -
Bersambung
OLEH : DEWI FATIMAH
Mungkin tidak berlebihan jika kusebut sebagai patah hati paling parah sepanjang perjalanan hidup.
Ya, ketika kita menjatuhkan perasaan pada seseorang, tetapi terlambat. Karena dia telah pergi. Tanpa sorot mata yang menunjukkan, bahwa ada rasa senada yang ia miliki.
Dengan dada masih berdenyut nyeri, aku menyusul mobil yang ditumpangi Maysa. Logikaku mengatakan, aku harus tetap menjaganya. Harus kupastikan bahwa dia dalam keadaan aman, sopir taksi online tidak macam-macam, dan yang paling penting Maysa sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Gerimis tipis mengguyur Jakarta. Aku yang mengendarai sepeda motor tidak terlalu menggubris. Mobil hitam dengan plat nomor yang sudah kuhafal itu harus berhasil kukejar. Dan misi baru tercapai setelah sepuluh menit menjadi pembalap dadakan.
"Motor pengkor!" rutukku kesal. Sebuah truk melewati kubangan air dan sialnya tubuhku kecipratan!
Namun apakah itu membuatku berhenti? Tentu saja tidak! Anggap saja pengorbanan meski tak seberapa.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil berbelok menuju komplek di mana orang tua Maysa tinggal. Debar-debar di dadaku tak terkendali. Selain takut ketahuan, lingkungan ini juga mengingatkanku pada pernikahan yang digelar enam bulan silam. Pernikahan kami.
Aku sedikit membuka kaca helm, menghirup udara dalam-dalam. Ingatan momen pernikahan membuatku hampir kehabisan napas.
Pernikahan itu .... Hari di mana seharusnya aku menjadi laki-laki paling bahagia karena mendapatkan wanita sebaik Maysa. Hari di mana harusnya aku move on dari masa lalu, dan menjadikan Maysa satu-satunya permaisuri di hatiku. Dan sekarang ... semuanya sudah terlambat? Aku berharap tidak, meski semesta seolah mengatakan sebaliknya.
Aku menghentikan motor di bawah tiang listrik, berjarak kira-kira 10 meter dari rumah orang tua Maysa. Mobil hitam tadi berhenti di depan pagar bercat putih. Kulihat Maysa turun dan si driver membuka pintu bagasi belakang, mengambil koper. Setelah benda itu berpindah tangan, Maysa mengangguk terimakasih, lengkap dengan senyum yang menawan.
Andai senyum itu untuk Abang, May .... Dan tanpa sadar, satu lenganku sudah memeluk tiang listrik. Tuhan ... sungguh aku cemburu dengan driver paruh baya itu!
Mobil bergerak menjauh ketika pintu pagar dibuka seseorang. Maysa masuk dan lekas memeluk sosok itu.
Bibi Salamah, ART keluarganya.
Aku bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Sebuah drama kepulangan seorang wanita setelah menjadi janda. Aku membuang napas kasar. Sungguh miris saat mengingat bahwa akulah pelakunya.
*
Pulang kerja dan tidak ada yang menyambut seperti biasa. Bukan hanya berbeda, tetapi keanehannya benar-benar terasa.
Rumah sepi. Tidak ada suara lembut dan tegas itu lagi. Yang menyuruhku mandi, ganti baju, salat, dan makan malam. Tidak ada bebunyian yang berisik dari dapur sana. Juga tak ada lagi suara perabotan jatuh yang mulai akrab selama sebulan terakhir ini.
Rumah ini seperti raga kehilangan nyawanya. Dingin dan sunyi.
Aku merobohkan tubuh di sofa, menyalakan televisi. Dan masih saja seluruh tayangan tampak hambar di mata. Ya, bagaimana bisa menikmati sesuatu dengan hati yang separuhnya dibawa pergi?
Maysa ... kapan engkau kembalikan hati Abang yang separuhnya lagi?
Aku mendesah lesu saat ada telepon masuk dari Ratu. Entah kenapa, kali ini aku tidak ingin diganggu. Kubiarkan ponsel terus berpendar hingga cahayanya kembali pudar. Lalu hapeku berdenting beberapa kali, tanda ada pesan baru. Ah, aku belum bernafsu berinteraksi dengan siapapun di dunia ini. Ya, siapapun.
Namun sialnya ada suara berisik di luar. Seperti pintu pagar yang diguncang-guncang. Siapa coba yang tak sungkan bertamu menjelang magrib begini?
Dengan langkah malas, aku menyingkap gorden. Mengintip siapa si tamu tak diundang. Dan mataku membelalak seketika. Mama?
Buru-buru kubuka pintu dan menghambur keluar. Tentu saja sambil memikirkan susunan kalimat yang tepat, jika Mama menanyakan soal Maysa.
"Mama kok enggak bilang-bilang kalau mau ke sini?" tanyaku sambil membuka pagar.
"Kenapa harus bilang?" jawab Mama ketus. Di balik punggungnya ada Papa yang masih duduk di kursi kemudi.
Perasaanku mulai menebak-nebak. Ada apa sampai mereka datang berdua? Mendadak lagi? Tumben.
Tunggu! Jangan-jangan Maysa sudah bilang ke Mama soal perceraian ini? Mati aku!
Setelah mobil Papa masuk halaman dan terparkir dengan benar, aku masuk rumah menyusul Mama. Wanita bertubuh langsing itu sudah duduk di sofa depan televisi. Tahu apa yang dilakukan? Mematikan televisi.
"Sini!" perintahnya sambil menepuk kasar sofa di sebelahnya.
Aku menurut.
"Kamu apakan mantu Mama?" Mama menginterogasi dengan kedua mata berkilat terluka.
Jujur, jantungku hampir saja melompat saking terkejut. Tetapi bukan Reyhan jika tak bisa berkamuflase. Aku pun memasang wajah datar seolah tak terjadi apa-apa.
"Emang Maysa kenapa, Ma?"
"Maysa kenapa, Maysa kenapa?" Mama menirukanku. "Coba jelasin ke Mama, kenapa kalian sampai bercerai?!"
Papa masuk, melempar kunci mobil ke atas meja. Garis wajahnya yang memang tegas dengan kumis dan jenggot putih tebal, ditambah ada campuran emosi, semakin membuat nyaliku ciut untuk menghadapi. Lelaki yang usianya baru menginjak 64 tahun itu menarik kursi bulat lalu duduk dengan dada tegap.
"Rey," tegurnya dengan suara ngebas. "Papa sama Mama datang ke sini, menuntut penjelasan yang masuk akal dari kamu. Usia pernikahan kalian baru enam bulan tapi sudah cerai. Maysa itu anak orang. Jangan kamu permainkan sembarangan gitu, dong!"
Aku baru sanggup menghela napas, belum bisa membalas.
"Kalau memang Maysa bersalah, enggak semudah itu bercerai, Reyhan. Rumah tangga itu bukan sesuatu yang boleh dibubarkan dengan gampang!
"Sebelum menikah, Papa kan sudah ngasih tahu tahapan-tahapan menyelesaikan masalah. Masih ingat enggak kamu?"
Aku menggaruk kepala dengan kasar. Waktu Papa ceramah soal itu, aku memang malas mendengarkan.
"Lupa itulah!" sahut Mama kesal.
Papa mengembuskan napas lesu bersamaan dengan kedua bahunya yang lemas. Pastilah beliau menganggap aku ini anak yang payah.
"Rey ...," Papa menautkan kedua telapak tangannya, "para ulama itu sudah menyusun panduan bagaimana menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Karena para ulama itu tahu bahwa rumah tangga bukan akad yang dimudah-mudahkan untuk dibubarkan. Jangan karena bertengkar sedikit, cekcok sedikit, suami mengucapkan cerai. Keliru besar, itu!"
Aku menunduk dengan leher lemas. Aku memang salah besar. Aku tak bisa membantah.
"Kalau istri melakukan kesalahan, yang pertama dilakukan suami itu adalah menasehati. Supaya apa? Supaya istrinya memperbaiki diri. Kalau dengan nasehat belum mempan, pisah ranjang. Diharapkan dengan pisah ranjang, istri itu jadi tersiksa lalu mau memperbaiki kesalahannya. Nah, kalau dengan pisah ranjang masih enggak mempan, pukul istri tapi dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Ingat, ya, pukulan yang tidak menyakitkan!" Papa bicara dengan tegas. Kedua pundaknya kembali tegap.
"Jangan-jangan Maysa udah pernah kamu pukul?" selidik Mama penuh emosi.
"Ya Allah, Ma. Belum pernah lah, Ma." Aku menjawab dengan sebal. Enak saja dituduh begitu.
"Ya sudah, kalau belum pernah. Karena dosa besar memukul istri, apalagi memukul wajah," tegas Papa.
"Iya, memang belum pernah." Aku menyandarkan punggung di sofa. Nasehat Papa membuatku lelah.
"Nah," Papa melanjutkan ceramahnya, "kalau sudah dipukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan tapi masalah belum juga selesai, maka selanjutnya masing-masing pihak mengirim utusan untuk berkomunikasi, mencari jalan keluar. Kalau langkah ini masih belum menyelesaikan masalah juga, ya ... tidak ada jalan lain lagi."
"Jadi bukan tiba-tiba cerai, Reyhan ...!" Mama bicara sambil meremas bantal kecil. Melampiaskan rasa kesal.
"Sekarang bilang sama Papa, kenapa kalian bercerai?" Papa bertanya dengan wajah dingin. Mengingatkanku pada proses interogasi di film-film Barat. Mirisnya, aku berperan menjadi si pesakitan.
Mataku melirik Mama dan Papa bergantian. Aku yakin jawaban yang akan aku sodorkan akan membuat mereka kecewa. Maka, aku putuskan untuk balik bertanya.
"Emang Maysa bilang gimana ke Mama?"
Mama menghela napas berat. Seperti orang sedih karena sebuah masalah besar. "Dia cuma bilang minta maaf ke Mama sama Papa, karena belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu."
Perkataan Mama membuat persendianku lemas. Astaga, Maysa ....
"Cuma itu doang, Ma?" tanyaku lagi setelah beberapa detik keheningan menjeda obrolan kami.
"Ya. Makanya Papa tanya sama kamu, sebenarnya kalian ada apa?" Nada bicara Papa seperti orang tergesa-gesa.
"Maysa nelpon Mama duluan?" Aku sengaja membelokkan topik. Ya Allah, aku belum siap membeberkan alasan yang sebenarnya.
"Enggak. Mama yang nelpon duluan. Kamu harus tahu, Rey. Ibu kamu ini punya perasaan yang peka. Dan terbukti, kan? Memang ada apa-apa sama kalian?" Papa menjawab dengan agak emosi. "Jadi kenapa?"
Aku meneguk ludah. Berbelit-belit rupanya hanya membuat Papa tambah marah.
"Reyhan belum bisa cinta sama Maysa." Akhirnya aku menjawab lirih.
"Astagfirullah ...."
"Ya Allah, Ya Tuhanku ...."
Papa dan Mama melenguh bersama. Sesuai dugaan, mereka kecewa besar.
Tapi itu dulu, lanjutku sebatas dalam kalbu.
"Rey!" Papa setengah membentak, "kamu pikir Papa sama Mama dulu waktu menikah udah saling cinta? Enggak, Rey! Papa sama Mama ini dijodohkan. Tapi Papa sebagai laki-laki punya prinsip! Itu tadi, pernikahan bukan sesuatu yang main-main. Bukan sesuatu yang boleh dibubarkan dengan seenaknya! Papa nerima Mama, Mama nerima Papa. Dan dengan kita berinteraksi tiap hari, berjuang bersama, tumbuhlah rasa cinta."
"Harusnya kamu dulu nolak Maysa sejak awal, dari pada ujung-ujungnya begini!" tukas Papa.
"Maysa salah apa sih, Rey?" Mama belum puas dengan jawaban tadi.
Aku meraup muka dengan kasar. Merasa tertekan. "Salahnya dia mau nikah sama laki-laki bodoh kayak Reyhan!" Aku beranjak meninggalkan mereka berdua.
Kesal, marah, dan kecewa. Bukan pada Papa atau Mama apalagi Maysa. Tapi lebih pada diri sendiri.
Aku lalu masuk kamar bersamaan dengan suara azan magrib yang menggema dari sudut-sudut Kota Jakarta. Mengempaskan tubuh di atas ranjang sembari menikmati lantunan takbir yang menenangkan.
*
Ratu minta bertemu di restoran yang sering kami kunjungi. Aku mengiyakan. Sekalian makan siang, pikirku. Dengan semangat, wanita yang duduk di hadapanku itu menceritakan proses persidangan. Dia juga membeberkan berapa besaran nafkah selama menjalani masa iddah, dan rencananya uang itu akan ia gunakan sebagai modal bisnis kecil-kecilan.
Aku hanya mendengarkan sembari mengaduk-aduk nasi goreng kambing. Mencari-cari perasaan yang seharusnya ada. Perasaan untuknya, yang kukira masih menggebu seperti awal ketika kami bertemu. Satu bulan lalu.
"Han ...," Ratu berusaha melihat mukaku yang memang menunduk.
"Hm?" Aku sedikit mengangkat wajah.
"Kamu kenapa sih, Han?"
Aku menghela napas. "Lagi banyak kerjaan di kantor," jawabku sekenanya. Tapi memang itu fakta. Laporan audit tempo hari belum kelar dan sudah ditindih tugas baru. Melelahkan.
"Kenapa enggak bilang, sih? Tahu gitu aku enggak ngajak ketemuan. Udah semangat curhat, malah dicuekin." Ratu menggerutu.
Aku diam. Menyadari ada sesuatu yang mulai tak nyaman. Entah apa. Padahal sebelumnya, semua seperti normal-normal saja.
"Lain kali bilang aja, Han. Aku enggak suka lihat kamu suntuk kayak gitu." Ia terlihat mulai kesal.
"Iya, sori. Aku balik ke kantor dulu, ya?" Aku lantas memanggil pelayan, membayar pesanan.
"Makanan kamu?" Ratu merujuk pada nasi goreng yang tampak utuh. Hanya berkurang dua sendok. Akhir-akhir ini nafsu makanku memburuk.
"Bisa tolong dibungkusin, Mas?" pintaku pada si pelayan yang lekas disahut dengan anggukan ramah. Setelahnya, laki-laki itu pergi dengan membawa pesananku.
"Oh ya, soal Bastian, ada kesepakatan untuk berbagi hari. Nanti kalau udah giliran sama aku, aku pengen ngajak Bastian main ke tempat kamu. Boleh, kan?" Ratu sudah kuberi tahu bahwa Maysa pulang ke rumah orang tuanya.
Detik kemudian, Ratu menautkan kesepuluh jemarinya untuk menopang dagu. Dulu pose yang begitu membuatku benar-benar ingin segera memilikinya. Namun sekarang, terasa begitu biasa.
"Oke," sahutku singkat. Sepertinya memang tak ada jawaban yang lebih baik dari itu.
Pelayan datang membawa bungkusan makanan. Aku pamit pada Ratu dan meminta maaf tidak bisa mengantarnya pulang. Dia maklum meski raut kecewa jelas terpahat di wajah ovalnya.
Mobil kulajukan dengan kecepatan sedang. Alih-alih kembali ke kantor, aku malah berbelok ke sebuah toko buku paling besar di Jakarta. Ada pameran anggrek yang digelar di sana.
Hampir setengah jam mengelilingi stand demi stand. Memandangi tanaman seindah ini membuat senyumku terus mengembang. Wajah Maysa ... seperti ada di setiap mahkota bunga yang terpajang.
"Mbak," sapaku pada salah satu penjaga stand.
"Iya, Pak?"
"Bisa enggak, kalau ini dikemas dengan bagus untuk hadiah?"
"Oh, bisa banget, Pak. Silakan Bapak pilih yang mana, nanti kami kemas sesuai keinginan Bapak."
Hatiku membuncah, disusul senyum yang tak berkesudahan. Membayangkan wajah Maysa yang berseri-seri menerima bingkisan ini. Anggrek Bulan namanya. Warna kelopaknya putih bersih. Cantik. Maysa belum punya. Mungkin karena pertimbangan harga atau memang langka?
"Oh ya, Mbak. Ini aman, kan, kalau mau dikirim pakai ojek online?" Aku memastikan.
"Aman, Pak. Insyaallah aman." Penjaga stand meyakinkan.
Aku mengangguk-angguk lalu menunjuk satu pot bunga anggrek yang berisi dua pohon. Bunganya sudah menjulur panjang. Eksotik. Seperti yang pernah Maysa katakan.
Sebelum dikemas, aku menyelipkan sebuah kertas. Berisi tiga baris tulisan.
"Dear Maysa Al-Mahira,
Semoga kamu suka.
Dari Pengagum Rahasia."
- x -
Bersambung
USAI BERCERAI - 4
USAI BERCERAI - 4
OLEH : DEWI FATIMAH
"Jadi istri saya hamil?"
Eh, sebentar. Istri?
Hm, iya. Sudah ada niat kuat untuk rujuk. Rupanya terlalu berat melepaskan seorang wanita sebaik Maysa. Apalagi setelah melihatnya kesakitan dan tak berdaya, sekujur tubuh ini ingin menanggung semua yang ia derita.
Dokter obsgyn di hadapanku mengangguk yakin. "Sudah 13 minggu usia janinnya."
Aku menghela napas kemudian mengempaskan diri ke punggung kursi. Otot-otot mendadak lemas bersamaan dengan jantung yang perlahan-lahan teremas.
Calon bayi kami ... kata dokter sudah tidak hidup lagi. Ditandai dengan detak jantung yang terhenti.
Penyebabnya diduga terkena infeksi rubella. Karena pekan lalu Maysa mengalami demam disertai muncul ruam. Kekhawatiran Mama wakt itu ... ketika nomor Maysa tidak aktif, rupanya terbukti. Yah ibuku memang sepeka itu dengan menantu yang satu ini.
Karena sudah tidak bisa diselamatkan, maka tidak ada opsi lain. Malam ini juga, janin itu harus dikeluarkan dari rahim Maysa melalui proses kuretase.
Lalu di sinilah aku sekarang. Duduk seorang diri di depan ruang tindakan. Menunggu proses di dalam sana sembari merutuki diri, menangisi keadaan. Menyadari bahwa semua ini buntut dari kesalahanku.
Salahku tak pernah berjuang untuk mencintai seseorang yang jelas telah halal. Seseorang yang bahkan tidak layak untuk disakiti.
Salahku membiarkan diri tenggelam dalam kubangan masa lalu padahal itu menyesakkan. Dan ini seperti tamparan keras bagi seorang yang angkuh seperti Reyhan!
Allah ... bagaimana harus meminta maaf pada Maysa?
Derit pintu mengangetkan, memaksaku memasang wajah tegar khas laki-laki. Dokter keluar memberi kabar. Selang beberapa menit, dua orang perawat menggeledek Maysa yang masih memejam menuju ruang pemulihan.
Sengaja kupilih ruang VIP agar Maysa merasa nyaman. Maksudku kami. Ya, kami. Setelah ini, aku hanya ingin berdua saja dengannya. Sembari menunggu matanya terbuka, ingin kuungkap apa saja yang tersimpan untuknya.
Dari hati yang kini merasakan sesak dan perih seorang diri.
"Nanti kalau Bu Maysa sudah sadar, segera panggil kami ya, Pak? Mngkin 15 sampai 30 menit lagi," ucap seorang perawat sebelum meninggalkan ruangan.
"Oke. Makasih, Sus," kataku ramah.
Perawat itu mengangguk dan berlalu.
"May ...," ucapku saat tangan lembut itu kugenggam. "Maafin Abang ...." Aku mencium punggung tangannya dengan mata memejam. Menikmati sesuatu yang belum pernah kulakukan pada wanita di hadapanku.
Tiba-tiba memori tentang malam pertama terputar di otak. Saat di mana kusaksikan seorang Maysa menungguku di kamar dengan pakaian kurang bahan. Ia tersenyum malu sambil mendekap bantal, menutupi bagian dada yang agak terbuka.
Waktu itu, aku tak menghargai usahanya sebagai istri. Selama belum ada cinta, aku berjanji tidak akan melakukan hubungan itu. Terdengar naif, tapi kupikir itulah sikap sejati seorang laki-laki. Daripada melakukannya tapi tidak dari hati?
"Maysa, Abang tahu kita sudah sah sebagai suami-istri. Abang tahu kita sudah boleh melakukan apapun. Tapi selama belum ada cinta di hati kita masing-masing ... lebih baik tidak kita lakukan dulu."
Maysa menanggapi kalimatku dengan sorot mata yang tidak bisa kuartikan dan memang waktu itu, aku tak mau peduli. Karena yang kupikirkan hanya bagaimana agar egoku menang.
Setelah itu, kami menjalani biduk rumah tangga dan menurutku semua berjalan normal. Dia melaksanakan tugasnya sebagai istri dan aku melakukan tugasku sebagai suami. Kecuali urusan ranjang. Sampai menjelang bulan ketiga pernikahan, Maysa kembali membicarakan ini.
"Bang, em ... ada yang ingin aku sampaikan." Dia bicara dengan ragu-ragu.
"Apa?"
"Bang, em ... dalam agama ... em ...."
"Apa, Maysa?" Tanyaku tak sabar. Geregetan juga mendapatinya am-em-am-em seperti itu.
Dia memandangku takut-takut. Setelah berselang beberapa menit, dia kembali bicara. "Bang ... dalam Islam, kalau sudah empat bulan sejak menikah seorang suami tidak memberi nafkah batin, maka ... akan diberi pilihan."
Aku memandangnya serius. "Pilihan gimana?"
Maysa menunduk, lalu melirikku sejenak. "Berpisah atau melanjutkan pernikahan tapi dengan konsekuensi ...."
Tanpa melanjutkan kata berikutnya, aku tahu maksudnya apa.
Aku mendengkus lirih. Menyadari bahwa Maysa berhak menuntut haknya. Meski belum ada cinta, akhirnya kami melakukannya. Daripada usia pernikahan kami empat bulan saja?
Gerakan tangan Maysa menarikku kembali dalam ruangan ini. Kedua matanya perlahan mengerjap. Senyumku mengembang seiring usahanya membuka mata. Ketika dia masih mencerna keadaan, aku bangkit berdiri memanggil perawat.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Maysa datang bersama seorang perawat. Setelah melakukan pemeriksaan, wanita berhijab itu mengabarkan bahwa kondisi Maysa membaik. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kemungkinan besar, besok siang sudah diperbolehkan pulang.
"Sejak kapan Maysa tahu kalau lagi hamil?" tanyaku setelah beberapa menit dokter dan perawat berlalu.
"Baru pekan lalu." Maysa menjawab dengan suara lirih.
"Kenapa enggak ngasih tahu Abang?" tanyaku lagi penuh penyesalan.
"Maaf ...."
"Usia kandungannya udah 13 minggu, May. Apa sebelumnya Maysa enggak mengalami tanda-tanda seperti orang lagi hamil?"
Teringat dengan kehamilan Mbak Mita yang sudah diketahui sejak usia janinnya baru enam minggu.
Maysa melihatku sekilas lalu beralih memandang plavon bercat putih. Mungkin memproyeksikan ingatannya di sana atau baginya langit-langit ruangan lebih menarik dari wajahku?
"Sebelumnya udah curiga waktu telat haid. Tapi ... saya khawatir Abang enggak suka atau malah marah. Jadi ... saya sengaja enggak ngecek pake tespek atau ke dokter."
Maysa memang bicara pelan tapi terdengar seperti sambaran petir yang menggelegar. Khawatir aku tak suka, katanya? Ya Allah, Maysa ....
Aku menghela napas, mengurai sesak yang semakin menjadi-jadi.
Menit kemudian hening. Aku tertunduk lemas sementara Maysa sibuk mengusap sudut matanya.
"Maafin Abang, May ...." Akhirnya kalimat itu yang keluar setelah hampir setengah jam kami saling terdiam.
*
Pagi ini Maysa tampak lebih segar. Kemarin tubuhnya lemas dan gemetar karena memang tidak makan hampir seharian. Dia bilang, perutnya mengalami kram cukup hebat sehingga tidak kuat ke mana-mana. Kondisi yang membuatku ditimpa rasa sesal berlapis-lapis.
Makanan untuk sarapan yang baru datang langsung kuambil alih. Menunya cukup enak. Nasi dengan capcay, perkedel kentang campur daging, dan telur ceplok. Seperti yang biasa Maysa hidangkan ketika sarapan atau makan malam. Ah, jadi rindu masakan wanita yang satu ini.
"Abang suapin, ya?" kataku sambil membuka pastic wrap yang membungkus makanan.
Maysa memandangku ragu-ragu. Tangannya lalu terulur, hendak mengambil piring yang ada di tanganku. "Bisa makan sendiri, kok."
"Maysa ...." Aku mencegahnya lewat tatapan ketika tangan Maysa menarik piring yang kupegang.
Ponsel berdering. Shiitake botak! Siapa sih, yang berani mengganggu momen penting? Aku mengambil benda itu dari atas sofa. Kali ini kubiarkan Maysa menang dalam kompetisi tarik-menarik tadi.
Nama Ratu yang terpampang membuatku agak gamang. Tapi begitu mendapati Maysa makan dengan tampang tak peduli, aku putuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Bentar ya, May?" ucapku sambil melangkah keluar.
"Halo, Ra?"
"Han ..., kamu di mana?" tanya Ratu di seberang sana.
"Di rumah sakit. Ada apa?"
"Siapa yang sakit?"
"Maysa. Dia ... dia keguguran."
"Astaga! Sori, Han .... Kalau gitu enggak jadi."
Dahiku terlipat. Seperti ada yang urung disampaikan Ratu.
"Ada masalah apa, Ra?" tanyaku lagi.
"Enggak kok, cuma pengen ketemu. Tapi ya udah deh. Semoga Maysa baik-baik aja. Bye."
Sebelum menjawab apa-apa, telepon sudah dimatikan sepihak oleh Ratu.
Aku membuang napas kasar. Telepon yang agak ganjil dari Ratu mengusik pikiran. Menimbulkan banyak spekulasi. Ada apa sampai minta bertemu? Apakah terjadi sesuatu?
Semoga dia baik-baik saja.
Untuk saat ini, aku ingin fokus dulu ke Maysa dan biarlah Ratu mengurus masalahnya sendiri. Aku yakin dia mampu.
Aku pun kembali masuk dan kulihat Maysa sudah menyelesaikan sarapannya. Pandangannya tertuju pada jendela yang tirainya sedikit kusingkap. Seperti memikirkan sesuatu dengan sangat dalam, sampai-sampai kehadiranku sama sekali tidak mengganggu. Atau dia sengaja mengacuhkanku?
"May," sapaku yang membuat pundaknya berjingkat kaget.
"Ya?"
"Mikirin apa?" Aku menarik kursi, duduk di sebelah ranjangnya.
"Enggak apa-apa."
Detik kemudian hening. Aku sibuk memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan kata rujuk. Sebagaimana artikel yang sempat kubaca tadi malam--ketika Maysa kembali terlelap--rujuk tidak hanya dengan niat. Tapi juga dengan ucapan dan disaksikan oleh dua orang. Lalu saat ini aku ragu, bagaimana jika Maysa menolak? Walaupun di artikel itu dijelaskan bahwa untuk merujuk tidak perlu menunggu persetujuan istri ... tapi aku tidak mau ada paksaan di pihak Maysa.
"May," ucapku setelah berdehem dua kali, sekedar untuk mengurangi grogi.
"Iya, Bang?" sahut Maysa tanpa sedikit pun memandang wajahku. Heran, apakah mukaku yang memang belum mandi ini terlihat lusuh sehingga tidak enak dipandang?
Baiklah, abaikan dulu.
"May," kataku lagi sambil menarik kursi agak ke depan, agar bisa lebih dekat dengan sosok yang kini terlihat lebih cantik itu, "em ... kalau mau rujuk, harus ada dua orang yang menjadi saksi, ya?" Aku sengaja mengonfirmasi dan berharap Maysa peka dengan ini.
Wanita berkerudung cokelat itu menoleh. Untuk beberapa detik dia memandang wajahku dengan alis sedikit berkerut. Yes! Sepertinya Maysa sudah bisa menangkap maksudku.
"Iya. Emangnya kenapa?"
Ah, pertanyaannya membuat pipiku mengendur.
"Em ... cuma memastikan aja," jawabku sambil memasang wajah se-cool mungkin. Padahal urat-urat nadiku terasa berlompatan dan sulit diredam.
"Oh," sahutnya pendek dan datar.
Suasana kembali hening. Sesekali terdengar detak heels di luar. Entah perawat atau dokter perempuan yang lewat. Lumayan sebagai selingan di antara kebisuan.
"Bang," panggilan Maysa membuyarkan pikiranku yang tengah sibuk memikirkan kalimat rujuk.
"Iya, May?"
"Masa iddah saya sudah habis."
Kalimatnya sontak menghentikan lompatan seluruh nadi. Bahkan dunia seakan berhenti berotasi, menyisakan seorang Maysa dengan kelopak mata berkedip teratur.
Maksudnya apa? Bukankah dia bilang, masa iddahnya tiga kali masa suci dan itu bisa tiga bulan lebih lamanya?
Aku masih diam dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Wanita hamil itu, masa iddah-nya sampai melahirkan. Dan keguguran yang saya alami kemarin, dengan janin yang usianya sudah 13 minggu, maka sudah semakna dengan melahirkan. Karena janin di usia itu sudah berbentuk seperti manusia."
Ya, janin yang dikuret kemarin memang sudah sangat mirip dengan manusia. Aku tahu dari lembaran foto USG.
Aku masih diam. Dalam hati berontak tak terima dengan segala penjelasan yang keluar dari bibirnya. Jemariku mengepal karena emosi. Ingin rasanya berteriak menyalahkan Maysa yang menyimpan kehamilannya seorang diri. Ingin rasanya memaki dirinya yang tidak berani memberi kabar soal ini. Tapi aku lekas sadar bahwa ini semua salahku.
Ya, salahku.
Ya Allah ..., rasanya ingin membenturkan kepala ke tembok sampai berdarah-darah. Menyadari betapa otak di dalam sini seperti tumpul sekali. Kenapa aku sebodoh ini?
"Jadi setelah pulang dari sini, saya izin mengambil baju dan barang-barang. Insyaallah saya akan pulang ke rumah Papa."
Dengan dada yang teramat sakit, aku bangkit. Melangkah ke luar, membiarkan kaki ini berjalan entah ke mana.
Aku butuh waktu. Untuk menenangkan batin yang begitu pilu.
*
Sebelum zuhur, Maysa sudah diizinkan pulang. Aku mengendarai mobil dalam diam. Maysa yang duduk di sebelah pun tidak berkata apa-apa. Praktis, rute rumah sakit hingga rumah, kami lewati dengan keheningan.
Sesampainya di rumah, Maysa mengeluarkan koper, mengemasi barang-barang. Jujur, aku emosi menyaksikan ini. Bagaimana tidak? Kondisinya belum pulih benar, tapi terlihat sekali memaksakan diri.
"Maysa, istirahat dulu!" perintahkan setengah berteriak.
Tangan Maysa yang sedang melipat pakaian, terhenti sejenak. Ia memandangku sekilas, lalu berkata, "Enggak apa-apa, Bang. Saya enggak enak ada di sini."
"Oke. Abang akan keluar dan kamu tinggal di sini. Istirahat!" ucapku penuh penekanan. Berharap Maysa taat. Tapi siapalah aku sekarang? Hanya mantan yang jelas tidak bisa memintanya patuh seperti dulu.
Namun aku sangat cemas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya. Apa dia tidak bisa menangkap segenap rasa khawatir yang tersorot dari kedua mataku? Apakah dia tidak bisa membaca bagaimana perasaanku?
Ya, perasaanku. Sesuatu yang aneh yang muncul sejak kata cerai itu terucap. Sesuatu yang membuatku merasa damai jika melihatnya, sesuatu yang membuat batin disiksa rindu jika jauh darinya.
Maysa menatapku sebentar lalu menghela napas berat. Mungkin mempertimbangkan atau malah menganggapku seperti anak kecil yang memohon agar jangan ditinggalkan?
Ponselnya berbunyi, ia lekas mengangkat.
"Ya? Oh, iya Pak. Agak maju sedikit, ya? Iya, betul. Rumah nomor 21." Setelah telepon ditutup, ia menoleh. "Taksi yang saya pesan sudah menuju ke sini."
Napasku tersekat. Aku sudah tidak berdaya mempertahankan Maysa.
Terdengar bunyi klakson di luar, tanda mobil yang dipesan Maysa tiba. Mantan istriku itu bergegas menutup kopernya. Setelah berkomunikasi sebentar dengan driver melalui telepon, Maysa pamit.
Kulihat dirinya menyeret koper dengan langkah pelan. Sungguh, aku berharap dia menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil hitam yang ia pesan. Namun, Maysa sama sekali tak melakukan itu. Membuatku hampir melolong panjang karena rasa sakit yang demikian hebat telah bersarang.
Kusaksikan mobil bergerak maju. Membawa Maysa, wanita yang kini hanya boleh kusebut sebagai masa lalu.
-x-
--- bersambung ---
OLEH : DEWI FATIMAH
"Jadi istri saya hamil?"
Eh, sebentar. Istri?
Hm, iya. Sudah ada niat kuat untuk rujuk. Rupanya terlalu berat melepaskan seorang wanita sebaik Maysa. Apalagi setelah melihatnya kesakitan dan tak berdaya, sekujur tubuh ini ingin menanggung semua yang ia derita.
Dokter obsgyn di hadapanku mengangguk yakin. "Sudah 13 minggu usia janinnya."
Aku menghela napas kemudian mengempaskan diri ke punggung kursi. Otot-otot mendadak lemas bersamaan dengan jantung yang perlahan-lahan teremas.
Calon bayi kami ... kata dokter sudah tidak hidup lagi. Ditandai dengan detak jantung yang terhenti.
Penyebabnya diduga terkena infeksi rubella. Karena pekan lalu Maysa mengalami demam disertai muncul ruam. Kekhawatiran Mama wakt itu ... ketika nomor Maysa tidak aktif, rupanya terbukti. Yah ibuku memang sepeka itu dengan menantu yang satu ini.
Karena sudah tidak bisa diselamatkan, maka tidak ada opsi lain. Malam ini juga, janin itu harus dikeluarkan dari rahim Maysa melalui proses kuretase.
Lalu di sinilah aku sekarang. Duduk seorang diri di depan ruang tindakan. Menunggu proses di dalam sana sembari merutuki diri, menangisi keadaan. Menyadari bahwa semua ini buntut dari kesalahanku.
Salahku tak pernah berjuang untuk mencintai seseorang yang jelas telah halal. Seseorang yang bahkan tidak layak untuk disakiti.
Salahku membiarkan diri tenggelam dalam kubangan masa lalu padahal itu menyesakkan. Dan ini seperti tamparan keras bagi seorang yang angkuh seperti Reyhan!
Allah ... bagaimana harus meminta maaf pada Maysa?
Derit pintu mengangetkan, memaksaku memasang wajah tegar khas laki-laki. Dokter keluar memberi kabar. Selang beberapa menit, dua orang perawat menggeledek Maysa yang masih memejam menuju ruang pemulihan.
Sengaja kupilih ruang VIP agar Maysa merasa nyaman. Maksudku kami. Ya, kami. Setelah ini, aku hanya ingin berdua saja dengannya. Sembari menunggu matanya terbuka, ingin kuungkap apa saja yang tersimpan untuknya.
Dari hati yang kini merasakan sesak dan perih seorang diri.
"Nanti kalau Bu Maysa sudah sadar, segera panggil kami ya, Pak? Mngkin 15 sampai 30 menit lagi," ucap seorang perawat sebelum meninggalkan ruangan.
"Oke. Makasih, Sus," kataku ramah.
Perawat itu mengangguk dan berlalu.
"May ...," ucapku saat tangan lembut itu kugenggam. "Maafin Abang ...." Aku mencium punggung tangannya dengan mata memejam. Menikmati sesuatu yang belum pernah kulakukan pada wanita di hadapanku.
Tiba-tiba memori tentang malam pertama terputar di otak. Saat di mana kusaksikan seorang Maysa menungguku di kamar dengan pakaian kurang bahan. Ia tersenyum malu sambil mendekap bantal, menutupi bagian dada yang agak terbuka.
Waktu itu, aku tak menghargai usahanya sebagai istri. Selama belum ada cinta, aku berjanji tidak akan melakukan hubungan itu. Terdengar naif, tapi kupikir itulah sikap sejati seorang laki-laki. Daripada melakukannya tapi tidak dari hati?
"Maysa, Abang tahu kita sudah sah sebagai suami-istri. Abang tahu kita sudah boleh melakukan apapun. Tapi selama belum ada cinta di hati kita masing-masing ... lebih baik tidak kita lakukan dulu."
Maysa menanggapi kalimatku dengan sorot mata yang tidak bisa kuartikan dan memang waktu itu, aku tak mau peduli. Karena yang kupikirkan hanya bagaimana agar egoku menang.
Setelah itu, kami menjalani biduk rumah tangga dan menurutku semua berjalan normal. Dia melaksanakan tugasnya sebagai istri dan aku melakukan tugasku sebagai suami. Kecuali urusan ranjang. Sampai menjelang bulan ketiga pernikahan, Maysa kembali membicarakan ini.
"Bang, em ... ada yang ingin aku sampaikan." Dia bicara dengan ragu-ragu.
"Apa?"
"Bang, em ... dalam agama ... em ...."
"Apa, Maysa?" Tanyaku tak sabar. Geregetan juga mendapatinya am-em-am-em seperti itu.
Dia memandangku takut-takut. Setelah berselang beberapa menit, dia kembali bicara. "Bang ... dalam Islam, kalau sudah empat bulan sejak menikah seorang suami tidak memberi nafkah batin, maka ... akan diberi pilihan."
Aku memandangnya serius. "Pilihan gimana?"
Maysa menunduk, lalu melirikku sejenak. "Berpisah atau melanjutkan pernikahan tapi dengan konsekuensi ...."
Tanpa melanjutkan kata berikutnya, aku tahu maksudnya apa.
Aku mendengkus lirih. Menyadari bahwa Maysa berhak menuntut haknya. Meski belum ada cinta, akhirnya kami melakukannya. Daripada usia pernikahan kami empat bulan saja?
Gerakan tangan Maysa menarikku kembali dalam ruangan ini. Kedua matanya perlahan mengerjap. Senyumku mengembang seiring usahanya membuka mata. Ketika dia masih mencerna keadaan, aku bangkit berdiri memanggil perawat.
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Maysa datang bersama seorang perawat. Setelah melakukan pemeriksaan, wanita berhijab itu mengabarkan bahwa kondisi Maysa membaik. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kemungkinan besar, besok siang sudah diperbolehkan pulang.
"Sejak kapan Maysa tahu kalau lagi hamil?" tanyaku setelah beberapa menit dokter dan perawat berlalu.
"Baru pekan lalu." Maysa menjawab dengan suara lirih.
"Kenapa enggak ngasih tahu Abang?" tanyaku lagi penuh penyesalan.
"Maaf ...."
"Usia kandungannya udah 13 minggu, May. Apa sebelumnya Maysa enggak mengalami tanda-tanda seperti orang lagi hamil?"
Teringat dengan kehamilan Mbak Mita yang sudah diketahui sejak usia janinnya baru enam minggu.
Maysa melihatku sekilas lalu beralih memandang plavon bercat putih. Mungkin memproyeksikan ingatannya di sana atau baginya langit-langit ruangan lebih menarik dari wajahku?
"Sebelumnya udah curiga waktu telat haid. Tapi ... saya khawatir Abang enggak suka atau malah marah. Jadi ... saya sengaja enggak ngecek pake tespek atau ke dokter."
Maysa memang bicara pelan tapi terdengar seperti sambaran petir yang menggelegar. Khawatir aku tak suka, katanya? Ya Allah, Maysa ....
Aku menghela napas, mengurai sesak yang semakin menjadi-jadi.
Menit kemudian hening. Aku tertunduk lemas sementara Maysa sibuk mengusap sudut matanya.
"Maafin Abang, May ...." Akhirnya kalimat itu yang keluar setelah hampir setengah jam kami saling terdiam.
*
Pagi ini Maysa tampak lebih segar. Kemarin tubuhnya lemas dan gemetar karena memang tidak makan hampir seharian. Dia bilang, perutnya mengalami kram cukup hebat sehingga tidak kuat ke mana-mana. Kondisi yang membuatku ditimpa rasa sesal berlapis-lapis.
Makanan untuk sarapan yang baru datang langsung kuambil alih. Menunya cukup enak. Nasi dengan capcay, perkedel kentang campur daging, dan telur ceplok. Seperti yang biasa Maysa hidangkan ketika sarapan atau makan malam. Ah, jadi rindu masakan wanita yang satu ini.
"Abang suapin, ya?" kataku sambil membuka pastic wrap yang membungkus makanan.
Maysa memandangku ragu-ragu. Tangannya lalu terulur, hendak mengambil piring yang ada di tanganku. "Bisa makan sendiri, kok."
"Maysa ...." Aku mencegahnya lewat tatapan ketika tangan Maysa menarik piring yang kupegang.
Ponsel berdering. Shiitake botak! Siapa sih, yang berani mengganggu momen penting? Aku mengambil benda itu dari atas sofa. Kali ini kubiarkan Maysa menang dalam kompetisi tarik-menarik tadi.
Nama Ratu yang terpampang membuatku agak gamang. Tapi begitu mendapati Maysa makan dengan tampang tak peduli, aku putuskan untuk mengangkat telepon itu.
"Bentar ya, May?" ucapku sambil melangkah keluar.
"Halo, Ra?"
"Han ..., kamu di mana?" tanya Ratu di seberang sana.
"Di rumah sakit. Ada apa?"
"Siapa yang sakit?"
"Maysa. Dia ... dia keguguran."
"Astaga! Sori, Han .... Kalau gitu enggak jadi."
Dahiku terlipat. Seperti ada yang urung disampaikan Ratu.
"Ada masalah apa, Ra?" tanyaku lagi.
"Enggak kok, cuma pengen ketemu. Tapi ya udah deh. Semoga Maysa baik-baik aja. Bye."
Sebelum menjawab apa-apa, telepon sudah dimatikan sepihak oleh Ratu.
Aku membuang napas kasar. Telepon yang agak ganjil dari Ratu mengusik pikiran. Menimbulkan banyak spekulasi. Ada apa sampai minta bertemu? Apakah terjadi sesuatu?
Semoga dia baik-baik saja.
Untuk saat ini, aku ingin fokus dulu ke Maysa dan biarlah Ratu mengurus masalahnya sendiri. Aku yakin dia mampu.
Aku pun kembali masuk dan kulihat Maysa sudah menyelesaikan sarapannya. Pandangannya tertuju pada jendela yang tirainya sedikit kusingkap. Seperti memikirkan sesuatu dengan sangat dalam, sampai-sampai kehadiranku sama sekali tidak mengganggu. Atau dia sengaja mengacuhkanku?
"May," sapaku yang membuat pundaknya berjingkat kaget.
"Ya?"
"Mikirin apa?" Aku menarik kursi, duduk di sebelah ranjangnya.
"Enggak apa-apa."
Detik kemudian hening. Aku sibuk memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan kata rujuk. Sebagaimana artikel yang sempat kubaca tadi malam--ketika Maysa kembali terlelap--rujuk tidak hanya dengan niat. Tapi juga dengan ucapan dan disaksikan oleh dua orang. Lalu saat ini aku ragu, bagaimana jika Maysa menolak? Walaupun di artikel itu dijelaskan bahwa untuk merujuk tidak perlu menunggu persetujuan istri ... tapi aku tidak mau ada paksaan di pihak Maysa.
"May," ucapku setelah berdehem dua kali, sekedar untuk mengurangi grogi.
"Iya, Bang?" sahut Maysa tanpa sedikit pun memandang wajahku. Heran, apakah mukaku yang memang belum mandi ini terlihat lusuh sehingga tidak enak dipandang?
Baiklah, abaikan dulu.
"May," kataku lagi sambil menarik kursi agak ke depan, agar bisa lebih dekat dengan sosok yang kini terlihat lebih cantik itu, "em ... kalau mau rujuk, harus ada dua orang yang menjadi saksi, ya?" Aku sengaja mengonfirmasi dan berharap Maysa peka dengan ini.
Wanita berkerudung cokelat itu menoleh. Untuk beberapa detik dia memandang wajahku dengan alis sedikit berkerut. Yes! Sepertinya Maysa sudah bisa menangkap maksudku.
"Iya. Emangnya kenapa?"
Ah, pertanyaannya membuat pipiku mengendur.
"Em ... cuma memastikan aja," jawabku sambil memasang wajah se-cool mungkin. Padahal urat-urat nadiku terasa berlompatan dan sulit diredam.
"Oh," sahutnya pendek dan datar.
Suasana kembali hening. Sesekali terdengar detak heels di luar. Entah perawat atau dokter perempuan yang lewat. Lumayan sebagai selingan di antara kebisuan.
"Bang," panggilan Maysa membuyarkan pikiranku yang tengah sibuk memikirkan kalimat rujuk.
"Iya, May?"
"Masa iddah saya sudah habis."
Kalimatnya sontak menghentikan lompatan seluruh nadi. Bahkan dunia seakan berhenti berotasi, menyisakan seorang Maysa dengan kelopak mata berkedip teratur.
Maksudnya apa? Bukankah dia bilang, masa iddahnya tiga kali masa suci dan itu bisa tiga bulan lebih lamanya?
Aku masih diam dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Wanita hamil itu, masa iddah-nya sampai melahirkan. Dan keguguran yang saya alami kemarin, dengan janin yang usianya sudah 13 minggu, maka sudah semakna dengan melahirkan. Karena janin di usia itu sudah berbentuk seperti manusia."
Ya, janin yang dikuret kemarin memang sudah sangat mirip dengan manusia. Aku tahu dari lembaran foto USG.
Aku masih diam. Dalam hati berontak tak terima dengan segala penjelasan yang keluar dari bibirnya. Jemariku mengepal karena emosi. Ingin rasanya berteriak menyalahkan Maysa yang menyimpan kehamilannya seorang diri. Ingin rasanya memaki dirinya yang tidak berani memberi kabar soal ini. Tapi aku lekas sadar bahwa ini semua salahku.
Ya, salahku.
Ya Allah ..., rasanya ingin membenturkan kepala ke tembok sampai berdarah-darah. Menyadari betapa otak di dalam sini seperti tumpul sekali. Kenapa aku sebodoh ini?
"Jadi setelah pulang dari sini, saya izin mengambil baju dan barang-barang. Insyaallah saya akan pulang ke rumah Papa."
Dengan dada yang teramat sakit, aku bangkit. Melangkah ke luar, membiarkan kaki ini berjalan entah ke mana.
Aku butuh waktu. Untuk menenangkan batin yang begitu pilu.
*
Sebelum zuhur, Maysa sudah diizinkan pulang. Aku mengendarai mobil dalam diam. Maysa yang duduk di sebelah pun tidak berkata apa-apa. Praktis, rute rumah sakit hingga rumah, kami lewati dengan keheningan.
Sesampainya di rumah, Maysa mengeluarkan koper, mengemasi barang-barang. Jujur, aku emosi menyaksikan ini. Bagaimana tidak? Kondisinya belum pulih benar, tapi terlihat sekali memaksakan diri.
"Maysa, istirahat dulu!" perintahkan setengah berteriak.
Tangan Maysa yang sedang melipat pakaian, terhenti sejenak. Ia memandangku sekilas, lalu berkata, "Enggak apa-apa, Bang. Saya enggak enak ada di sini."
"Oke. Abang akan keluar dan kamu tinggal di sini. Istirahat!" ucapku penuh penekanan. Berharap Maysa taat. Tapi siapalah aku sekarang? Hanya mantan yang jelas tidak bisa memintanya patuh seperti dulu.
Namun aku sangat cemas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya. Apa dia tidak bisa menangkap segenap rasa khawatir yang tersorot dari kedua mataku? Apakah dia tidak bisa membaca bagaimana perasaanku?
Ya, perasaanku. Sesuatu yang aneh yang muncul sejak kata cerai itu terucap. Sesuatu yang membuatku merasa damai jika melihatnya, sesuatu yang membuat batin disiksa rindu jika jauh darinya.
Maysa menatapku sebentar lalu menghela napas berat. Mungkin mempertimbangkan atau malah menganggapku seperti anak kecil yang memohon agar jangan ditinggalkan?
Ponselnya berbunyi, ia lekas mengangkat.
"Ya? Oh, iya Pak. Agak maju sedikit, ya? Iya, betul. Rumah nomor 21." Setelah telepon ditutup, ia menoleh. "Taksi yang saya pesan sudah menuju ke sini."
Napasku tersekat. Aku sudah tidak berdaya mempertahankan Maysa.
Terdengar bunyi klakson di luar, tanda mobil yang dipesan Maysa tiba. Mantan istriku itu bergegas menutup kopernya. Setelah berkomunikasi sebentar dengan driver melalui telepon, Maysa pamit.
Kulihat dirinya menyeret koper dengan langkah pelan. Sungguh, aku berharap dia menoleh ke belakang sebelum masuk ke mobil hitam yang ia pesan. Namun, Maysa sama sekali tak melakukan itu. Membuatku hampir melolong panjang karena rasa sakit yang demikian hebat telah bersarang.
Kusaksikan mobil bergerak maju. Membawa Maysa, wanita yang kini hanya boleh kusebut sebagai masa lalu.
-x-
--- bersambung ---
USAI BERCERAI - 3
USAI BERCERAI - 3
OLEH : DEWI FATIMAH
Jika ada orang lain yang paling terluka karena perceraian ini, mungkin itulah Mama. Aku perlu mengatur strategi bagaimana cara menyampaikan kabar mengejutkan ini. Intinya, jangan sampai Mama marah besar atau yang paling buruk ... jantungan. Meskipun selama ini Mama sehat-sehat saja, tapi mengingat punya riwayat hipertensi, aku jadi worry.
Itulah kenapa, aku belum berniat melayangkan gugatan cerai melalui Pengadilan Agama. Menunggu waktu yang tepat. Entah kapan.
Lagipula besok ada dinas luar hingga dua pekan ke depan. Ada yang harus disiapkan. Berkas-berkas penting dan tentu saja pakaian.
Pandanganku terpaku pada sebuah koper di sudut kamar. Biasanya, Maysa yang menyiapkan seluruh keperluan dinas luar dengan cekatan. Sebelum bertindak, dia akan menanyakan baju apa saja yang dibutuhkan, jumlahnya berapa, warnanya apa, dan ... semuanya diurutkan agar aku tidak perlu membongkar dan membuatnya berantakan.
Lalu sekarang, aku harus melakukannya sendirian? Keadaan yang membuatku bertanya, apakah benar keputusan menceraikannya?
Aku mengurut kening. Berharap hal-hal rancu yang mengganggu otak selama hampir 36 jam belakangan ini akan sirna.
Dari luar terdengar suara Maysa menggumam. Melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan. Menarik perhatianku untuk mengintipnya dari kaca jendela. Bibirku melengkung tipis mendapati Maysa sedang asyik menyiram anggrek-anggreknya. Ya, dia hobi mengoleksi bunga yang satu itu.
"Kenapa suka anggrek?" tanyaku saat pertama kali menemaninya ke toko bunga. Mata sipitnya agak membulat memandangi bunga-bunga anggrek yang berjajar rapi di atas rak.
Setelah menyuguhkan senyum manis, Maysa berkata, "Dulu, Almarhumah Ibu suka anggrek."
Ibunya meninggal sejak dia masih SMP. Beruntungnya Maysa, dia punya papa yang kaya raya dan ibu tiri yang menyayanginya. Sehingga dia terurus dengan baik hingga dewasa. Berbeda dengan Ratu yang memang agak terlunta-lunta.
"Cuma karena itu?" Aku melanjutkan.
Dengan mata berkilat senang, Maysa kembali menjawab, "Ya. Apa-apa yang Ibu suka, aku juga akan suka. Dan bunga anggrek memang terlalu cantik untuk enggak disukai. Gimana ya, bentuk bunganya itu eksotis. Dia sebetulnya sederhana, tapi kesannya mewah dan elegan. Terus bunganya awet. Cara hidupnya juga unik. Kalau bunga-bunga yang lain hidup dengan media tanah, dia malah suka nempel di pohon-pohon. Tapi dia enggak jadi parasit. Istilahnya, numpang hidup tapi enggak merepotkan."
Numpang hidup tapi enggak merepotkan?
Dulu terdengar biasa, tapi kini terasa berbeda. Senyumku mengembang seiring rasa hangat yang mengalir di wajah ini.
*
Tugas dinas luar yang akan dikerjakan oleh tim berkaitan dengan audit K3S--Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Obyek pemeriksaannya adalah sebuah perusahaan minyak milik Jepang yang beroperasi di Blok Kangean. Sebuah kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam pelaksanaannya, kami bekerjasama dengan Dirjen Pajak dan Migas.
Tim yang bertugas kali ini terdiri dari enam orang. Satu orang pengendali teknis, satu orang ketua tim, dan empat lainnya--termasuk aku--adalah anggota tim. Tugas yang kata orang merupakan lahan basah. Entah maksudnya bagaimana, karena bagiku semua tugas itu sama. Harus dikerjakan dengan profesional.
Surabaya menjadi kota tujuan pertama tim kami. Ada data yang dibutuhkan dari kantor yang mengurusi migas di Jawa Timur.
Kepala kantornya menyambut kami dengan keramahan khas orang Jawa. Laki-laki dengan kisaran usia 50 tahun. Tahu bahwa kami berenam jarang ke Jawa Timur, beliau mengajak kami makan malam di rumah makan yang khusus menyediakan hidangan khas provinsi paling timur pulau Jawa ini. Salah satu menu andalannya adalah rawon. Rasa kuahnya manis, gurih, dan bila dicampur sambal dan jeruk nipis, semakin membuat semangat makan.
Kebetulan, beliau mengajak anak dan istri. Dan yang cukup membuatku tercengang, istrinya bercadar. Seorang yang punya jabatan tapi tidak sungkan mengenalkan istrinya yang hanya kelihatan mata dan telapak tangan. Aku salut. Sungguh. Bahkan aku belum pernah mengenalkan Maysa ke teman-teman kantor karena khawatir dengan stigma negatif soal istri yang pakaiannya terlalu tertutup seperti itu.
"Sudah punya anak berapa, Pak?" Pertanyaan lelaki itu ditujukan padaku. Mungkin karena aku yang terlihat paling muda di sini.
Terus terang, aku agak gelagapan. Seakan mendapat ujian dadakan dan tidak ada persiapan apapun untuk mencegah apalagi menyiapkan jawaban.
"Em ... belum ada, Pak," jawabku singkat.
"Pak Reyhan ini baru menikah, Pak. Lima bulan atau enam bulan lalu, ya, Pak Rey?" Ketua Tim menimpali sembari menyikut lenganku main-main.
"Pengantin lumayan baru, to?" jawab lelaki di hadapanku disusul tawa beberapa orang, termasuk si wanita bercadar. "Kerja apa istrinya?" tanya beliau lagi.
Istri? Apa Maysa masih boleh kusebut istri?
"Em ... dia punya toko kue," jawabku setelah menenangkan hati yang sedikit gelisah.
Gelisah, karena aku tahu ada dusta terselip di antara ucapanku.
"Wah, enak, ya? Kalau punya usaha sendiri bisa leluasa atur waktu untuk ngurusi keluarga. Kalau istri saya ini, dulu kerja kantoran, Pak. Begitu nikah, udah, saya suruh resign saja. Fokus ke keluarga, kata saya. Apalagi kerjaan saya kan, kebanyakan di luar, ya. Kasihan nanti kalau punya anak, ditinggal bapak-ibunya terus."
Aku tersenyum canggung.
Wanita bercadar itu kemudian bangkit saat mendapati anaknya yang paling bungsu--kira-kira berusia enam tahun-- menangis karena jatuh kesandung kursi. Cara menenangkan tangis anak laki-laki itu cukup menarik perhatianku.
"Oh, Adik kesandung kursi, ya? Lain kali hati-hati, ya? Sabar .... Mana yang sakit?"
Seketika, kelembutan itu mengingatkanku pada sosok Maysa.
Aku menghela napas, berharap kesesakan ini pergi.
[May, rumah aman?]
Menjelang subuh, aku mengirim pesan untuk si wanita salihah. Sekedar basa-basi. Atau memang ada rindu yang menyusup dalam hati? Entahlah.
[Iya. Alhamdulillah.]
Hanya itu dan cukup membuat hati ngilu. Berharap mendapatkan jawaban panjang, tapi cuma sesingkat itu.
Aku pun keluar kamar, pergi salat subuh di masjid dekat hotel. Heran? Aku juga.
Sejak mengucapkan kata cerai, entah kenapa kenormalan hidupku mulai bergeser. Bahkan bangun subuh menjadi rutinitas baru.
Usai menunaikan ibadah yang begitu syahdu, aku duduk termenung. Rupanya sedamai ini salat subuh berjamaah di masjid. Ya Allah, selama ini ke mana saja aku? Tak terasa air mata haru menitik di sudut netra. Ingin kukatakan pada Maysa bahwa pagi ini malaikat telah mencatat, Reyhan tidak bangun kesiangan! Ah, aku jadi senyum-senyum sendiri.
Beberapa menit kemudian, kajian rutin di mulai. Hatiku bersorak entah kenapa. Yang jelas ada rasa bahagia yang sulit didefinisikan dengan kata-kata.
Istri yang menyejukka mata. Tema yang diangkat pagi ini. Seketika mengingatkanku pada Maysa Al-Mahira. Sialnya, aku mengikuti kajian sambil terkantuk-kantuk. Mungkin karena tadi malam tidur larut karena terpaksa begadang memasukkan data-data yang akan diperiksa.
"Ustaz, saya sudah lima tahun menikah. Saya memang baru belajar agama beberapa bulan belakangan ini. Hati saya juga baru tergerak untuk menutup aurat. Tapi masalahnya, suami saya tidak setuju. Apa yang harus saya lakukan, Ustaz? Bukankah saya juga harus taat pada suami?" Salah satu pertanyaan hadirin melalui selembar kertas yang dibaca oleh Sang Ustaz. Cukup menarik. Mataku segar kembali.
"Subhanallah," Sang Ustaz menghela napas, "memang masih banyak suami yang seperti ini ya, Jamaah. Banyak sekali di luar sana. Suami yang dikatakan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dengan sebutan dayyust. Apa itu dayyust? Tidak punya rasa cemburu. Dan ini dicela oleh agama.
"Pak, laki-laki yang bener, laki-laki yang saleh itu, harusnya cemburu melihat istrinya keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna. Cemburu dong, aurat itu kan harusnya dipersembahkan untuk suami seorang, bukan untik dilihat laki-laki lain yang tidak ada hak."
Mempersembahkan aurat untuk suami seorang?
"Yang lebih parah lagi, seperti ini, Jamaah. Melarang istrinya berhijab. Alasannya pun macem-macem. Enggak kelihatan kalau cantik, enggak kelihatan kalau seksi. Hei, Pak! Cantik dan seksinya istri antum, itu hanya antum yang berhak menikmati. Jangan disodorkan sama orang lain!" Sang Ustaz bicara dengan nada tinggi.
"Kalau suami saya melarang, gimana, Ustaz? Bukankah istri harus taat?" Ustaz berjenggot lebat itu melanjutkan, "kata Nabi, tidak ada ketaatan pada maksiat. Dan buka aurat di luar rumah, di hadapan lelaki yang bukan suami dan mahramnya itu maksiat. Terus gimana, Ustaz kalau suami saya marah?
"Bilang pelan-pelan sama suaminya. Jelaskan dengan lembut kepada suaminya. Tentang urgensi menutup aurat bagi wanita. Memang menghadapi suami model begini harus sabar, Bu. Dalam surah At-Taghabun, Allah telah memberi peringatan, "Yā ayyuhalladziina aamanuu inna min azwājikum wa aulādikum 'aduwwal lakum. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian dari istri-istrimu dan anak-anakmu menjadi musuh bagimu. Ini berlaku juga untuk para istri. Bahwa suami itu ada yang jadi musuh. Musuh dalam artian menjalankan ketaatan kepada Allah."
Mataku memejam. Apakah aku telah menjadi musuhnya Maysa?
"Dan Allah punya solusi untuk itu. Apa? Kata Allah, fahdzaruuhum. Ha-da-pi. Hadapi, bukan tinggalkan. Ibu punya suami yang modelnya kayak tadi, hadapi, Bu. Hadapi dengan sabar. Hadapi dengan lembut. Kasih pengertian. Doakan dia semoga Allah kasih hidayah. Supaya Allah melembutkan hatinya."
Maysa ... dia begitu sabar menghadapi kelakuanku. Menasehati dengan lembut meskipun kalau sudah geregetan, emosinya ikut keluar. Tapi baiknya lagi, ia akan segera minta maaf.
"Abang sudah rida?" Pertanyaan yang sering keluar dari bibirnya.
Aku menghela napas. Bagai menemui sumber mata air di tengah padang yang gersang. Bagai diguyur hujan di tengah kemarau panjang. Mungkin begitulah gambaran jiwaku saat ini.
*
Pesawat kecil berkapasitas 11 penumpang terbang melintasi lautan lalu mendarat mulus di landasan bandara, di tengah pulau Pangerungan.
Tugas baru dimulai. Pemeriksaan fisik pada mesin pengolah minyak mentah yang serupa tangki-tangki raksasa. Juga memeriksa pipa gas--melalui video yang direkam oleh robot penyelam--yang langsung tersambung pada mesin pengolahan di Perusahaan pengolahan minyak milik PT. Pertamina di Gresik sana. Dan jujur, aku takjub. Begitu besarnya effort yang dibutuhkan oleh perusahaan asing untuk mengeksploitasi minyak bumi di Indoensia.
Ya, mereka butuh modal sangat besar.
Maka jangan heran jika yang mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia rata-rata perusahaan asing. Itu tadi alasannya, modal yang dibutuhkan sangat besar. Negara kita tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan APBN--yang memang terbatas--untuk melakukan eksplorasi maupun eksploitasi. Karena kegiatan eksplorasi sendiri tidak jarang berujung pada resiko fatal berupa pembuangan dana yang cukup besar.
Perusahaan minyak yang beroperasi di Blok Kangean ini saja, mengaku pernah "membuang" dana triliyunan rupiah di lepas pantai. Karena pada saat tahap eksplorasi, minyak yang diprediksi akan dihasilkan tidak sebanding dengan modal yang digelontorkan. Terpaksa, proyek tidak dilanjutkan ke tahap eksplorasi.
Sore setelah cek fisik hari pertama usai, aku memisahkan diri dengan tim. Berjalan menyusuri pantai. Tapi jangan dibayangkan dengan pasir putih dan ombak yang dipenuhi buih-buih. Ini perusahaan, bukan tempat wisata. Namun cukup oke dijadikan tempat menyendiri sembari menikmati belaian angin sore.
Mengusap layar ponsel, berharap ada satu pesan saja dari seseorang. Entah Maysa atau Ratu. Keduanya ... seperti berkedudukan seimbang di hatiku.
Pesan Maysa jelas tidak ada dan pesan Ratu bertumpukan sejak pagi tadi.
Dia hanya mengabarkan perkembangan masalah yang ia hadapi. Salah satunya,
[Pekan depan, sidang perceraian kami akan digelar.]
Baguslah. Setidaknya dia bisa lepas dari lelaki zalim seperti Sony.
[Semoga lancar, Ra. Aku di luar kota. Sampai pekan depan. Doa dari sini untuk kamu. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang ke aku.]
Kembali kumasukkan ponsel ke dalam kantong celana, lalu menikmati pemandangan biru yang terhampar di hadapan. Pemandangan yang kurindu. Ah, entah kapan terakhir kali pergi ke pantai. Mungkin tiga tahun lalu ketika termehek-mehek berpisah dengan Ratu. Itupun di Pantai Ancol. Setelah itu, semua tempat hiburan rasanya hambar. Bagaimana mau berkesan jika dinikmati dengan hati yang separuhnya seakan mati?
Lalu setelah menikah dengan Maysa, kami belum pernah liburan ke mana-mana. Dia juga bukan tipikal wanita yang suka keluar rumah. Kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Rutenya sehari-hari hanya seputar rumah-toko-supermarket. Kadang-kadang tukang bubur ayam langganan di komplek atau sesekali ke toko buku dan toko bunga.
Ponsel berdering. Ah, rupanya Mama. Setelah terpaku sejenak pada layar karena ragu-ragu untuk menjawab, akhirnya kugeser ikon warna hijau.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Rey, Maysa di mana?"
"Di rumah, mungkin. Reyhan lagi dinas luar di Jawa."
"Nomor Maysa enggak aktif."
Mati aku! Bagaimana kalau Mama bertanya kapan terakhir kali kami berkomunikasi?
"Eng ... kehabisan batrai mungkin. Ada apa sih, Ma?"
"Ini, Mbak Mita mau pesen kue tart ke dia. Sama jajanan pasar. Untuk syukuran kenaikan pangkat Mas Haidar. Dianya tanya ke Mama kenapa nomor Maysa enggak aktif. Sejak siang tadi, loh. Masa habis batre hampir seharian?"
Mbak Mita nama kakakku dan Mas Haidar adalah suaminya.
"Eng ... kenapa Mbak Mita enggak nelpon tokonya aja, Ma?"
"Jam segini mah, udah tutup."
Menilik arloji, jam setengah enam sore. Toko Maysa tutup jam empat.
"Rey, Maysa baik-baik aja, kan?"
"Em ... i-iya, baik-baik aja. Kok Mama tanya gitu?"
"Ya enggak apa-apa. Bilang ke Maysa, Mama kangen."
Kakiku yang terbungkus sneaker hitam menyaruk-nyaruk pasir. Melemaskan otot-otot kaki yang mendadak gemetar karena lapar. Melawan kesesakan batin sendiri, rupanya cukup menyedot energi.
"Rey ...."
"Iya, Ma?"
"Udah, ya? Hati-hati. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
Setelah telepon ditutup, kubiarkan ponsel dalam genggaman. Aku memutar-mutar benda hitam ini sambil memikirkan cara untuk menyampaikan masalah kami pada Mama. Tidak bisa membayangkan betapa kecewanya wanita yang telah melahirkanku itu. Apalagi, Mama teramat sayang pada Maysa.
"Maysa itu anaknya lemah lembut, mandiri. Pinter ngaji. Dan yang paling penting, dia paham ilmu agama," ucap Mama dengan mata berkilau kagum.
"Mama ini kan, udah pensiun, Rey. Mungkin bentar lagi bakalan mati--"
"Ma ...," protesku waktu itu yang disambut tawa pendek Mama.
"Maksud Mama, enggak ada lagi yang dibutuhin orang yang sudah mati dari anak-anaknya kecuali doa. Dan kalau anaknya atau cucunya saleh-salihah, Mama yakin akan jadi investasi yang enggak putus-putus sampai kiamat nanti."
Itulah alasan utama kenapa Mama menyodorkan seorang Maysa untuk menjadi istriku. Berharap anaknya yang agak bandel ini ketularan salehnya, lalu dari pernikahan ini lahir keturuan saleh dan salihah. Dan siapa sangka Maysa mau. Padahal aku yakin, di luar sana banyak laki-laki baik yang mau menikahinya. Kenapa pilih aku?
Sampai sekarang, aku belum menemukan jawaban itu. Setiap kutanya, Maysa hanya tersenyum lalu berkata, "Aku merasa, Abang adalah jawaban atas doa-doaku."
Aku? Jawaban atas doa-doanya? Waktu itu bahkan hingga kini, aku tidak percaya. Makanya kukatakan bahwa aku adalah pelarian agar dia bisa move on dari calon suaminya yang telah meninggal.
Namun aku tahu, Maysa belum pernah berdusta. Satu kali pun, di hadapanku.
*
Dua pekan berlalu dengan baik. Saatnya pulang, melepas kerinduan. Entah pada siapa atau bahkan apa. Yang jelas, berada di kota ini lagi, jarak yang rasanya terbentang sekian lama dan jauh, terhapus begitu saja.
Ah, kadang-kadang perasaan kita sendiri menjadi absurd dan membingungkan.
Usai mandi sore, aku membongkar isi koper. Mengeluarkan baju-baju kotor dan beberapa bungkus buah tangan. Camilan untuk Mama dan Papa juga sebuah botol berisi bibit anggrek untuk ... Maysa.
Maysa?
Entahlah, waktu kembali ke Surabaya, menemukan toko bunga dan menjual anggrek yang katanya langka. Setelah dilihat-lihat, Maysa memang belum punya. Karena tidak bisa membawa satu pot yang sudah besar dan berbunga, terpaksa hanya membawa bibitnya.
Aku keluar kamar. Melirik sebelah. Pintunya tertutup rapat seperti biasa.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian, aku mengetuk pintu itu perlahan.
Satu kali ... dua kali ... hingga yang ketiga, baru terdengar bunyi handle pintu berputar. Membuat irama jantungku seketika berantakan. Dan begitu pintu terbuka ....
Ya ampun! Wajah Maysa pucat sekali!
"May, kamu sakit?" tanyaku sambil meletakkan botol di bawah kaki.
"Abang bisa tolong antar saya ke rumah sakit?" pintanya dengan suara lemah dan tubuh gemetar. Satu tangannya bertumpu pada tembok. Menopang tubuh yang hampir roboh.
Tanpa banyak berpikir, aku menggendong tubuhnya lalu memasukkannya ke dalam mobil. Setelah Maysa duduk dengan nyaman, aku melesat kembali ke dalam untuk mengambil dompet dan ponsel. Dua benda penting yang harus dibawa.
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Menerobos kepadatan lalu lintas Jakarta di akhir pekan. Yang kuinginkan hanya satu. Maysa segera mendapatkan pertolongan.
Bertahanlah, Sayang ....
-x-
OLEH : DEWI FATIMAH
Jika ada orang lain yang paling terluka karena perceraian ini, mungkin itulah Mama. Aku perlu mengatur strategi bagaimana cara menyampaikan kabar mengejutkan ini. Intinya, jangan sampai Mama marah besar atau yang paling buruk ... jantungan. Meskipun selama ini Mama sehat-sehat saja, tapi mengingat punya riwayat hipertensi, aku jadi worry.
Itulah kenapa, aku belum berniat melayangkan gugatan cerai melalui Pengadilan Agama. Menunggu waktu yang tepat. Entah kapan.
Lagipula besok ada dinas luar hingga dua pekan ke depan. Ada yang harus disiapkan. Berkas-berkas penting dan tentu saja pakaian.
Pandanganku terpaku pada sebuah koper di sudut kamar. Biasanya, Maysa yang menyiapkan seluruh keperluan dinas luar dengan cekatan. Sebelum bertindak, dia akan menanyakan baju apa saja yang dibutuhkan, jumlahnya berapa, warnanya apa, dan ... semuanya diurutkan agar aku tidak perlu membongkar dan membuatnya berantakan.
Lalu sekarang, aku harus melakukannya sendirian? Keadaan yang membuatku bertanya, apakah benar keputusan menceraikannya?
Aku mengurut kening. Berharap hal-hal rancu yang mengganggu otak selama hampir 36 jam belakangan ini akan sirna.
Dari luar terdengar suara Maysa menggumam. Melantunkan ayat-ayat suci dengan suara pelan. Menarik perhatianku untuk mengintipnya dari kaca jendela. Bibirku melengkung tipis mendapati Maysa sedang asyik menyiram anggrek-anggreknya. Ya, dia hobi mengoleksi bunga yang satu itu.
"Kenapa suka anggrek?" tanyaku saat pertama kali menemaninya ke toko bunga. Mata sipitnya agak membulat memandangi bunga-bunga anggrek yang berjajar rapi di atas rak.
Setelah menyuguhkan senyum manis, Maysa berkata, "Dulu, Almarhumah Ibu suka anggrek."
Ibunya meninggal sejak dia masih SMP. Beruntungnya Maysa, dia punya papa yang kaya raya dan ibu tiri yang menyayanginya. Sehingga dia terurus dengan baik hingga dewasa. Berbeda dengan Ratu yang memang agak terlunta-lunta.
"Cuma karena itu?" Aku melanjutkan.
Dengan mata berkilat senang, Maysa kembali menjawab, "Ya. Apa-apa yang Ibu suka, aku juga akan suka. Dan bunga anggrek memang terlalu cantik untuk enggak disukai. Gimana ya, bentuk bunganya itu eksotis. Dia sebetulnya sederhana, tapi kesannya mewah dan elegan. Terus bunganya awet. Cara hidupnya juga unik. Kalau bunga-bunga yang lain hidup dengan media tanah, dia malah suka nempel di pohon-pohon. Tapi dia enggak jadi parasit. Istilahnya, numpang hidup tapi enggak merepotkan."
Numpang hidup tapi enggak merepotkan?
Dulu terdengar biasa, tapi kini terasa berbeda. Senyumku mengembang seiring rasa hangat yang mengalir di wajah ini.
*
Tugas dinas luar yang akan dikerjakan oleh tim berkaitan dengan audit K3S--Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Obyek pemeriksaannya adalah sebuah perusahaan minyak milik Jepang yang beroperasi di Blok Kangean. Sebuah kepulauan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam pelaksanaannya, kami bekerjasama dengan Dirjen Pajak dan Migas.
Tim yang bertugas kali ini terdiri dari enam orang. Satu orang pengendali teknis, satu orang ketua tim, dan empat lainnya--termasuk aku--adalah anggota tim. Tugas yang kata orang merupakan lahan basah. Entah maksudnya bagaimana, karena bagiku semua tugas itu sama. Harus dikerjakan dengan profesional.
Surabaya menjadi kota tujuan pertama tim kami. Ada data yang dibutuhkan dari kantor yang mengurusi migas di Jawa Timur.
Kepala kantornya menyambut kami dengan keramahan khas orang Jawa. Laki-laki dengan kisaran usia 50 tahun. Tahu bahwa kami berenam jarang ke Jawa Timur, beliau mengajak kami makan malam di rumah makan yang khusus menyediakan hidangan khas provinsi paling timur pulau Jawa ini. Salah satu menu andalannya adalah rawon. Rasa kuahnya manis, gurih, dan bila dicampur sambal dan jeruk nipis, semakin membuat semangat makan.
Kebetulan, beliau mengajak anak dan istri. Dan yang cukup membuatku tercengang, istrinya bercadar. Seorang yang punya jabatan tapi tidak sungkan mengenalkan istrinya yang hanya kelihatan mata dan telapak tangan. Aku salut. Sungguh. Bahkan aku belum pernah mengenalkan Maysa ke teman-teman kantor karena khawatir dengan stigma negatif soal istri yang pakaiannya terlalu tertutup seperti itu.
"Sudah punya anak berapa, Pak?" Pertanyaan lelaki itu ditujukan padaku. Mungkin karena aku yang terlihat paling muda di sini.
Terus terang, aku agak gelagapan. Seakan mendapat ujian dadakan dan tidak ada persiapan apapun untuk mencegah apalagi menyiapkan jawaban.
"Em ... belum ada, Pak," jawabku singkat.
"Pak Reyhan ini baru menikah, Pak. Lima bulan atau enam bulan lalu, ya, Pak Rey?" Ketua Tim menimpali sembari menyikut lenganku main-main.
"Pengantin lumayan baru, to?" jawab lelaki di hadapanku disusul tawa beberapa orang, termasuk si wanita bercadar. "Kerja apa istrinya?" tanya beliau lagi.
Istri? Apa Maysa masih boleh kusebut istri?
"Em ... dia punya toko kue," jawabku setelah menenangkan hati yang sedikit gelisah.
Gelisah, karena aku tahu ada dusta terselip di antara ucapanku.
"Wah, enak, ya? Kalau punya usaha sendiri bisa leluasa atur waktu untuk ngurusi keluarga. Kalau istri saya ini, dulu kerja kantoran, Pak. Begitu nikah, udah, saya suruh resign saja. Fokus ke keluarga, kata saya. Apalagi kerjaan saya kan, kebanyakan di luar, ya. Kasihan nanti kalau punya anak, ditinggal bapak-ibunya terus."
Aku tersenyum canggung.
Wanita bercadar itu kemudian bangkit saat mendapati anaknya yang paling bungsu--kira-kira berusia enam tahun-- menangis karena jatuh kesandung kursi. Cara menenangkan tangis anak laki-laki itu cukup menarik perhatianku.
"Oh, Adik kesandung kursi, ya? Lain kali hati-hati, ya? Sabar .... Mana yang sakit?"
Seketika, kelembutan itu mengingatkanku pada sosok Maysa.
Aku menghela napas, berharap kesesakan ini pergi.
[May, rumah aman?]
Menjelang subuh, aku mengirim pesan untuk si wanita salihah. Sekedar basa-basi. Atau memang ada rindu yang menyusup dalam hati? Entahlah.
[Iya. Alhamdulillah.]
Hanya itu dan cukup membuat hati ngilu. Berharap mendapatkan jawaban panjang, tapi cuma sesingkat itu.
Aku pun keluar kamar, pergi salat subuh di masjid dekat hotel. Heran? Aku juga.
Sejak mengucapkan kata cerai, entah kenapa kenormalan hidupku mulai bergeser. Bahkan bangun subuh menjadi rutinitas baru.
Usai menunaikan ibadah yang begitu syahdu, aku duduk termenung. Rupanya sedamai ini salat subuh berjamaah di masjid. Ya Allah, selama ini ke mana saja aku? Tak terasa air mata haru menitik di sudut netra. Ingin kukatakan pada Maysa bahwa pagi ini malaikat telah mencatat, Reyhan tidak bangun kesiangan! Ah, aku jadi senyum-senyum sendiri.
Beberapa menit kemudian, kajian rutin di mulai. Hatiku bersorak entah kenapa. Yang jelas ada rasa bahagia yang sulit didefinisikan dengan kata-kata.
Istri yang menyejukka mata. Tema yang diangkat pagi ini. Seketika mengingatkanku pada Maysa Al-Mahira. Sialnya, aku mengikuti kajian sambil terkantuk-kantuk. Mungkin karena tadi malam tidur larut karena terpaksa begadang memasukkan data-data yang akan diperiksa.
"Ustaz, saya sudah lima tahun menikah. Saya memang baru belajar agama beberapa bulan belakangan ini. Hati saya juga baru tergerak untuk menutup aurat. Tapi masalahnya, suami saya tidak setuju. Apa yang harus saya lakukan, Ustaz? Bukankah saya juga harus taat pada suami?" Salah satu pertanyaan hadirin melalui selembar kertas yang dibaca oleh Sang Ustaz. Cukup menarik. Mataku segar kembali.
"Subhanallah," Sang Ustaz menghela napas, "memang masih banyak suami yang seperti ini ya, Jamaah. Banyak sekali di luar sana. Suami yang dikatakan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dengan sebutan dayyust. Apa itu dayyust? Tidak punya rasa cemburu. Dan ini dicela oleh agama.
"Pak, laki-laki yang bener, laki-laki yang saleh itu, harusnya cemburu melihat istrinya keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna. Cemburu dong, aurat itu kan harusnya dipersembahkan untuk suami seorang, bukan untik dilihat laki-laki lain yang tidak ada hak."
Mempersembahkan aurat untuk suami seorang?
"Yang lebih parah lagi, seperti ini, Jamaah. Melarang istrinya berhijab. Alasannya pun macem-macem. Enggak kelihatan kalau cantik, enggak kelihatan kalau seksi. Hei, Pak! Cantik dan seksinya istri antum, itu hanya antum yang berhak menikmati. Jangan disodorkan sama orang lain!" Sang Ustaz bicara dengan nada tinggi.
"Kalau suami saya melarang, gimana, Ustaz? Bukankah istri harus taat?" Ustaz berjenggot lebat itu melanjutkan, "kata Nabi, tidak ada ketaatan pada maksiat. Dan buka aurat di luar rumah, di hadapan lelaki yang bukan suami dan mahramnya itu maksiat. Terus gimana, Ustaz kalau suami saya marah?
"Bilang pelan-pelan sama suaminya. Jelaskan dengan lembut kepada suaminya. Tentang urgensi menutup aurat bagi wanita. Memang menghadapi suami model begini harus sabar, Bu. Dalam surah At-Taghabun, Allah telah memberi peringatan, "Yā ayyuhalladziina aamanuu inna min azwājikum wa aulādikum 'aduwwal lakum. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian dari istri-istrimu dan anak-anakmu menjadi musuh bagimu. Ini berlaku juga untuk para istri. Bahwa suami itu ada yang jadi musuh. Musuh dalam artian menjalankan ketaatan kepada Allah."
Mataku memejam. Apakah aku telah menjadi musuhnya Maysa?
"Dan Allah punya solusi untuk itu. Apa? Kata Allah, fahdzaruuhum. Ha-da-pi. Hadapi, bukan tinggalkan. Ibu punya suami yang modelnya kayak tadi, hadapi, Bu. Hadapi dengan sabar. Hadapi dengan lembut. Kasih pengertian. Doakan dia semoga Allah kasih hidayah. Supaya Allah melembutkan hatinya."
Maysa ... dia begitu sabar menghadapi kelakuanku. Menasehati dengan lembut meskipun kalau sudah geregetan, emosinya ikut keluar. Tapi baiknya lagi, ia akan segera minta maaf.
"Abang sudah rida?" Pertanyaan yang sering keluar dari bibirnya.
Aku menghela napas. Bagai menemui sumber mata air di tengah padang yang gersang. Bagai diguyur hujan di tengah kemarau panjang. Mungkin begitulah gambaran jiwaku saat ini.
*
Pesawat kecil berkapasitas 11 penumpang terbang melintasi lautan lalu mendarat mulus di landasan bandara, di tengah pulau Pangerungan.
Tugas baru dimulai. Pemeriksaan fisik pada mesin pengolah minyak mentah yang serupa tangki-tangki raksasa. Juga memeriksa pipa gas--melalui video yang direkam oleh robot penyelam--yang langsung tersambung pada mesin pengolahan di Perusahaan pengolahan minyak milik PT. Pertamina di Gresik sana. Dan jujur, aku takjub. Begitu besarnya effort yang dibutuhkan oleh perusahaan asing untuk mengeksploitasi minyak bumi di Indoensia.
Ya, mereka butuh modal sangat besar.
Maka jangan heran jika yang mengeksploitasi minyak bumi di Indonesia rata-rata perusahaan asing. Itu tadi alasannya, modal yang dibutuhkan sangat besar. Negara kita tidak ingin mengambil resiko dengan mengorbankan APBN--yang memang terbatas--untuk melakukan eksplorasi maupun eksploitasi. Karena kegiatan eksplorasi sendiri tidak jarang berujung pada resiko fatal berupa pembuangan dana yang cukup besar.
Perusahaan minyak yang beroperasi di Blok Kangean ini saja, mengaku pernah "membuang" dana triliyunan rupiah di lepas pantai. Karena pada saat tahap eksplorasi, minyak yang diprediksi akan dihasilkan tidak sebanding dengan modal yang digelontorkan. Terpaksa, proyek tidak dilanjutkan ke tahap eksplorasi.
Sore setelah cek fisik hari pertama usai, aku memisahkan diri dengan tim. Berjalan menyusuri pantai. Tapi jangan dibayangkan dengan pasir putih dan ombak yang dipenuhi buih-buih. Ini perusahaan, bukan tempat wisata. Namun cukup oke dijadikan tempat menyendiri sembari menikmati belaian angin sore.
Mengusap layar ponsel, berharap ada satu pesan saja dari seseorang. Entah Maysa atau Ratu. Keduanya ... seperti berkedudukan seimbang di hatiku.
Pesan Maysa jelas tidak ada dan pesan Ratu bertumpukan sejak pagi tadi.
Dia hanya mengabarkan perkembangan masalah yang ia hadapi. Salah satunya,
[Pekan depan, sidang perceraian kami akan digelar.]
Baguslah. Setidaknya dia bisa lepas dari lelaki zalim seperti Sony.
[Semoga lancar, Ra. Aku di luar kota. Sampai pekan depan. Doa dari sini untuk kamu. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan bilang ke aku.]
Kembali kumasukkan ponsel ke dalam kantong celana, lalu menikmati pemandangan biru yang terhampar di hadapan. Pemandangan yang kurindu. Ah, entah kapan terakhir kali pergi ke pantai. Mungkin tiga tahun lalu ketika termehek-mehek berpisah dengan Ratu. Itupun di Pantai Ancol. Setelah itu, semua tempat hiburan rasanya hambar. Bagaimana mau berkesan jika dinikmati dengan hati yang separuhnya seakan mati?
Lalu setelah menikah dengan Maysa, kami belum pernah liburan ke mana-mana. Dia juga bukan tipikal wanita yang suka keluar rumah. Kecuali untuk hal-hal yang sangat penting. Rutenya sehari-hari hanya seputar rumah-toko-supermarket. Kadang-kadang tukang bubur ayam langganan di komplek atau sesekali ke toko buku dan toko bunga.
Ponsel berdering. Ah, rupanya Mama. Setelah terpaku sejenak pada layar karena ragu-ragu untuk menjawab, akhirnya kugeser ikon warna hijau.
"Assalamu'alaikum, Ma."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Rey, Maysa di mana?"
"Di rumah, mungkin. Reyhan lagi dinas luar di Jawa."
"Nomor Maysa enggak aktif."
Mati aku! Bagaimana kalau Mama bertanya kapan terakhir kali kami berkomunikasi?
"Eng ... kehabisan batrai mungkin. Ada apa sih, Ma?"
"Ini, Mbak Mita mau pesen kue tart ke dia. Sama jajanan pasar. Untuk syukuran kenaikan pangkat Mas Haidar. Dianya tanya ke Mama kenapa nomor Maysa enggak aktif. Sejak siang tadi, loh. Masa habis batre hampir seharian?"
Mbak Mita nama kakakku dan Mas Haidar adalah suaminya.
"Eng ... kenapa Mbak Mita enggak nelpon tokonya aja, Ma?"
"Jam segini mah, udah tutup."
Menilik arloji, jam setengah enam sore. Toko Maysa tutup jam empat.
"Rey, Maysa baik-baik aja, kan?"
"Em ... i-iya, baik-baik aja. Kok Mama tanya gitu?"
"Ya enggak apa-apa. Bilang ke Maysa, Mama kangen."
Kakiku yang terbungkus sneaker hitam menyaruk-nyaruk pasir. Melemaskan otot-otot kaki yang mendadak gemetar karena lapar. Melawan kesesakan batin sendiri, rupanya cukup menyedot energi.
"Rey ...."
"Iya, Ma?"
"Udah, ya? Hati-hati. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
Setelah telepon ditutup, kubiarkan ponsel dalam genggaman. Aku memutar-mutar benda hitam ini sambil memikirkan cara untuk menyampaikan masalah kami pada Mama. Tidak bisa membayangkan betapa kecewanya wanita yang telah melahirkanku itu. Apalagi, Mama teramat sayang pada Maysa.
"Maysa itu anaknya lemah lembut, mandiri. Pinter ngaji. Dan yang paling penting, dia paham ilmu agama," ucap Mama dengan mata berkilau kagum.
"Mama ini kan, udah pensiun, Rey. Mungkin bentar lagi bakalan mati--"
"Ma ...," protesku waktu itu yang disambut tawa pendek Mama.
"Maksud Mama, enggak ada lagi yang dibutuhin orang yang sudah mati dari anak-anaknya kecuali doa. Dan kalau anaknya atau cucunya saleh-salihah, Mama yakin akan jadi investasi yang enggak putus-putus sampai kiamat nanti."
Itulah alasan utama kenapa Mama menyodorkan seorang Maysa untuk menjadi istriku. Berharap anaknya yang agak bandel ini ketularan salehnya, lalu dari pernikahan ini lahir keturuan saleh dan salihah. Dan siapa sangka Maysa mau. Padahal aku yakin, di luar sana banyak laki-laki baik yang mau menikahinya. Kenapa pilih aku?
Sampai sekarang, aku belum menemukan jawaban itu. Setiap kutanya, Maysa hanya tersenyum lalu berkata, "Aku merasa, Abang adalah jawaban atas doa-doaku."
Aku? Jawaban atas doa-doanya? Waktu itu bahkan hingga kini, aku tidak percaya. Makanya kukatakan bahwa aku adalah pelarian agar dia bisa move on dari calon suaminya yang telah meninggal.
Namun aku tahu, Maysa belum pernah berdusta. Satu kali pun, di hadapanku.
*
Dua pekan berlalu dengan baik. Saatnya pulang, melepas kerinduan. Entah pada siapa atau bahkan apa. Yang jelas, berada di kota ini lagi, jarak yang rasanya terbentang sekian lama dan jauh, terhapus begitu saja.
Ah, kadang-kadang perasaan kita sendiri menjadi absurd dan membingungkan.
Usai mandi sore, aku membongkar isi koper. Mengeluarkan baju-baju kotor dan beberapa bungkus buah tangan. Camilan untuk Mama dan Papa juga sebuah botol berisi bibit anggrek untuk ... Maysa.
Maysa?
Entahlah, waktu kembali ke Surabaya, menemukan toko bunga dan menjual anggrek yang katanya langka. Setelah dilihat-lihat, Maysa memang belum punya. Karena tidak bisa membawa satu pot yang sudah besar dan berbunga, terpaksa hanya membawa bibitnya.
Aku keluar kamar. Melirik sebelah. Pintunya tertutup rapat seperti biasa.
Setelah mengumpulkan segenap keberanian, aku mengetuk pintu itu perlahan.
Satu kali ... dua kali ... hingga yang ketiga, baru terdengar bunyi handle pintu berputar. Membuat irama jantungku seketika berantakan. Dan begitu pintu terbuka ....
Ya ampun! Wajah Maysa pucat sekali!
"May, kamu sakit?" tanyaku sambil meletakkan botol di bawah kaki.
"Abang bisa tolong antar saya ke rumah sakit?" pintanya dengan suara lemah dan tubuh gemetar. Satu tangannya bertumpu pada tembok. Menopang tubuh yang hampir roboh.
Tanpa banyak berpikir, aku menggendong tubuhnya lalu memasukkannya ke dalam mobil. Setelah Maysa duduk dengan nyaman, aku melesat kembali ke dalam untuk mengambil dompet dan ponsel. Dua benda penting yang harus dibawa.
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Menerobos kepadatan lalu lintas Jakarta di akhir pekan. Yang kuinginkan hanya satu. Maysa segera mendapatkan pertolongan.
Bertahanlah, Sayang ....
-x-
USAI BERCERAI - 2
USAI BERCERAI - 2
OLEH : DEWI FATIMAH
"Celana dalam, kaos hitam .... Di mana, sih?" Aku menggumam sendiri di kamar. Menghadap lemari yang terbuka. Pusing menatap tumpukan pakaian di dalamnya.
Kostum hari ini batik. Warna gelap. Mudah dicari karena digantung, bukan dilipat. Tapi celana dalam dan kaos hitamnya ....
Masalahnya aku tidak hafal di mana letak masing-masing. Aku pun menyemburkan napas kuat-kuat. Menit kemudian menggaruk rambut yang masih basah dengan kasar lantaran frustasi.
Apa minta tolong Maysa saja? Biasanya dia yang menyiapkan pakaian kerja.
Kamper jamuran! Gengsimu ditaruh mana, Reyhan?! Sadar status, woi!
Oke, tenang. Tarik napas ..., embuskan .... Cari satu persatu dan pelan-pelan.
Aku menatap setiap baris tumpukan pakaian dengan seteliti mungkin. "Nah! Ketemu, kan?" Tersenyum lega, sebuah celana dalam sudah berhasil kukeluarkan.
"Terus ... kaos hitam ...." Sepertinya perlu diintip satu persatu tumpukan kaos ini!
"Nah, kan!" Aku berseru lirih. Keselip rupanya. Namun ketika ditarik, kaos-kaos yang lain malah berguguran. Rasanya seluruh kosakata umpatan hendak keluar!
Istigfar, Reyhan .... Istigfar .... Sabar.
Dengan perasaan setengah enggan, kupunguti kaos-kaos yang berceceran di lantai. Ini kalau Maysa tahu, dia bisa mengomel.
"Subhanallah suamiku, luar biasa sekali! Menambah ladang amal istri!" Biasanya dia akan berujar begitu sambil mengelus dada. Lalu berikutnya dia tidak akan membiarkan suaminya ini, eh, maksudku mantannya ini untuk mengambil baju sendiri.
Ah, Maysa ....
Aku menggeleng cepat. Mengusir pikiran yang mulai rancu.
Baiklah .... Hampir 30 menit habis hanya untuk memilih outfit hari ini. Dan begitu menyadari jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka 7.30 WIB, diriku bergegas keluar. Batas absensi tinggal setengah jam lagi! Padahal mobil belum dipanasi, jalanan juga tidak ada jaminan lancar. Mati aku! Tunjangan terancam kena potongan!
Ketika hendak mengenakan sepatu, baru sadar kalau belum mengambil kaos kaki. Aku pun berlari ke kamar. Kembali membongkar lemari. Berantakan? Bodo amat!
Lega. Sepatu sudah terpasang. Kulangkahkan kaki menuju garasi. Lalu kudapati Maysa sedang memegang sapu di teras, membersihkan pecahan pot anggrek. Biasalah, ulah kucing berantem.
Tapi ... bukannya dia harus ke toko kue?
Ya, Maysa adalah owner sebuah toko kue. Biasanya sebelum jam tujuh pagi sudah berangkat. Ini? Kenapa masih santai?
Tanya, jangan. Tanya, jangan. Tanya ....
Dia menoleh. Menatapku dengan kedua alis bertaut. Aku gelagapan sendiri, ketahuan mencuri pandang.
"Eng ... enggak ke toko, May?" tanyaku gugup.
Maysa kembali menggerakkan sapunya--yang sempat terhenti karena menoleh padaku, mengumpulkan tanah dan kepingan pot yang berserakan. "Insyaallah jam sembilan." Ia tidak memandangku lagi.
"Oh, jam bukanya berubah, ya?" tanyaku lagi sembari memasukkan tas kerja ke dalam mobil.
"Enggak. Kan, ini hari Sabtu. Bukanya siang. Masa lupa?" Maysa mengucapkan masa-lupa dengan sedikit ngedumel.
Sabtu? Aku menatap punggung Maysa tanpa kedip. Lalu pelan-pelan kulirik arloji yang melilit di pergelangan tangan kiri.
SAT.
Tiga huruf yang tertera di layar benda itu. Artinya ... SATURDAY alias Sabtu.
Kucing kecemplung got! Jadi hari ini Sabtu? Aku berpikir lagi, mengingat-ingat.
Iya ya, kemarin aku menemui Ratu setelah salat Jumat. Ya salam .... Sejak kapan Reyhan jadi pikun begini? Usia juga baru 30 tahun.
Karena tak ingin terlihan oon, aku tetap menampakkan wajah stay cool.
"May, Abang ada acara. Pergi dulu," pamitku sebelum masuk mobil.
Sebenarnya tidak penting, cuma jaga-jaga karena Maysa terlihat heran mendapatiku rapi di akhir pekan. Padahal biasanya tidur sampai menjelang zuhur. Dia juga tidak boleh tahu kalau aku telah melewati pagi yang luar biasa kacau, tapi ujung-ujungnya salah hari.
"Ya." Maysa menyahut datar sembari melirik sekilas. Kedua tangannya sibuk menata pot anggrek yang bergeser--karena ulah kucing.
Nyeri. Entah kenapa sikap dingin Maysa membuat dada ini terasa sakit.
Setelah menyemburkan napas kasar, aku duduk di kursi kemudi. Kunyalakan mobil dengan hati dongkol. Membiarkannya hidup, berharap mesinnya panas. Ya siapa tahu hangatnya nular ke Maysa. Biar cair sikap dinginnya.
Ketika mobil sudah mundur perlahan, aku menepuk jidat. Bagaimana bisa keluar kalau pagar masih tertutup rapat?
*
Usai sarapan di sebuah resto cepat saji dekat komplek, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Entah akan pergi ke mana. Aku juga belum tahu. Paling tidak harus keluar dua sampai tiga jam agar Maysa tidak curiga. Eh, sejak kapan Maysa menjadi alasanku melakukan sesuatu? Aku menyentak napas dan menggeleng samar. Heran.
Saat beberapa menit berhenti karena lampu merah, sikap dingin Maysa melintas di ingatan. Sikap yang mengingatkanku saat pertama kali kami bertemu.
Waktu itu hari Minggu. Mama membawanya ke rumah setelah balik dari pengajian. Untuk dikenalkan padaku.
Denganku, Maysa tidak banyak bicara. Kecuali memang benar-benar perlu. Cara menjawabnya pun datar. Sangat kontras jika dia berhadapan dengan Mama atau Papa.
Dalam hati, aku tertawa sinis. Wanita model begitu mau jadi istriku? Parasnya biasa tanpa polesan make-up sedikit pun. Sungguh berbeda dengan Ratu dan beberapa mantan yang pernah singgah di hatiku, yang semuanya pintar dandan. Begitu membanggakan saat diajak jalan.
Bagiku, pakaian Maysa juga terlalu tertutup. Kayak Mama. Kalau beliau sih, wajar. Sudah hampir kepala enam. Siapa juga yang bakalan komentar? Lah Maysa? Duh, artis hijrah saja pakaiannya enak dipandang. Dia? Benar-benar polosan. Tanpa pernak-pernik atau hiasan.
"Aku enggak cinta sama kamu. Gimana kita mau menikah kalau di hati masing-masing tidak ada rasa?" Akhirnya pertanyaan itu mencuat dari mulutku.
Sesungging senyuman terbit dari bibirnya yang memang berwarna merah alami. "Setahu saya, sebuah pernikahan tidak harus diawali dengan cinta. Bahkan mayoritas rumah tangga Rasulullah dan shahabat terjalin bukan karena cinta."
Aku mengangguk-angguk. Ada ya, cewek yang enggak memuja-muja cinta kayak Maysa?
"Pernah ta'aruf sebelumnya?" tanyaku lagi.
"Pernah."
"Kenapa enggak nikah sama yang pernah ta'aruf sama kamu?" Waktu itu aku menduga, pasti ketahuan belangnya.
Setelah diam beberapa detik, Maysa menghela napas. Seolah itu kenangan buruk dalam hidupnya. "Dia meninggal karena kecelakaan. Satu pekan sebelum kami menikah."
Jawabannya membuatku bungkam. Prihatin. Tapi juga membuatku penasaran, seperti apa sosok lelaki itu.
Ponselku berdering, memutus memori. Sekilas kulirik benda berukuran lima inchi yang terletak di atas dashboard. Terbaca nama Ratu di layarnya.
"Han ...," lirihnya sebelum aku sempat bersuara. Terdengar dia sedang tidak baik-baik saja.
"Iya, Ra? Kamu kenapa?"
Ratu terisak.
Sepertinya ada yang serius.
Lampu hijau menyala, kulajukan mobil lalu segera menepi di tempat yang aman. "Ada apa, Ra?"
"Han ...."
"Kamu di mana?"
Terdengar suara susutan ingus. "Di ... di makam ibu."
Mataku memejam. Ratu yang tengah bersedih dan curhat pada ibunya, membayang-bayang.
"Aku jemput. Tunggu di sana," tukasku.
Kubelokkan mobil ke arah sebuah TPU. Agak ngebut. Ratu butuh aku.
Sepuluh menit, aku tiba di sana. Setelah memarkir mobil di tepi jalan, kakiku melangkah di antara makam-makam. Ratu duduk sendirian. Terpekur dengan mata memandangi nisan ibunya. Mungkin ada banyak kata yang ia ungkapkan melalui hatinya.
"Ra ...," sapaku ketika jarak kami sudah dekat.
Ratu sedikit mendongak. Setelah memandangku sekilas, ia kembali terisak-isak.
Aku berjongkok, meraih tangan kanan wanita itu. Astaga! Pipinya lebam.
"Ra, kenapa?" tanyaku lembut.
Ratu mengusap linangan air matanya dengan cepat. Seolah ingin mengatakan bahwa dirinya kuat. Aku pun memutari makam lalu duduk di sisinya. Naluriku mengatakan, Ratu hanya butuh pelukan.
Di depan dadaku, tangis Ratu semakin tersedu. Kubiarkan air mata campur ingus tumpah di baju batik yang kukenakan.
Lima menit ... sepuluh menit .... Perlahan wanita cantik itu menarik kepalanya. Kedua mata indah yang kini sayu menatapku terimakasih, sedangkan aku menatapnya penuh tunggu.
"Biar aku jelasin di mobil," lirihnya parau.
Aku mengangguk. Kami pun beranjak, berjalan beriringan. Meninggalkan makam wanita yang meninggal dua tahun silam. Sosok yang kutahu menjadi sandaran seorang Ratu.
"Tadi malam aku pulang ke rumah," tuturnya setelah kami berdua berada dalam mobil, "cuma untuk jemput Bastian. Tapi ... Mas Sony ngelarang aku nemuin anak aku sendiri. Aku ngelawan. Dan ... ya ... akhirnya kena damprat."
Sony, nama suaminya.
"Aku pulang ke rumah Ayah. Tapi setelah dia tahu persoalan rumah tangga kami, Ayah malah marah. Ngusir aku. Katanya, aku yang salah. Jadi istri pembangkang." Ia tersenyum miris.
Air mata itu tak lagi berlinang. Namun luka terlihat jelas pada wajah yang tampak pias. Luka pada seonggok daging merah di dalam dada. Hatinya.
"Terus ... semalam kamu tidur di mana?" tanyaku setelah beberapa detik saling terdiam. Memikirkan pesan yang kukirim semalam tidak ada balasan.
"Numpang di tempat temen."
Aku menghela napas berat. Wanita di sampingku ini, dari dulu tak pernah lepas dari ujian hidup. Dan yang membuatku salut, dia selalu tampak seolah baik-baik saja. Sesusah apapun hidupnya.
Dia bukan wanita yang dibesarkan di keluarga berada. Ayahnya seorang satpam di sebuah perusahaan. Ya, perusahaan orang tua si Sony itu. Almarhumah ibunya sejak dulu sakit-sakitan. Penghasilan ayahnya tidak cukup untuk menghidupi ibu, Ratu, dan adiknya yang masih kuliah, termasuk biaya berobat. Hutang menumpuk. Ratu diminta untuk menikah dengan Sony. Perjodohan yang dianggap sebagai jalan keluar masalah ekonomi.
Ketika itu, aku baru jadi ASN. Gajiku di tahun pertama baru 80%. Belum bisa membantu masalah di keluarga Ratu. Terpaksa kami berpisah.
Kalau tahu pada akhirnya akan begini ... mungkin tidak semudah itu membiarkan Ratu pergi.
"Han, maaf ...," ucap Ratu lirih. "Semalem enggak sempat balas pesannya. Maaf juga ... lagi-lagi aku ganggu kamu. Aku jadi enggak enak sama Maysa."
"Kami udah pisah," sahutku cepat.
Ratu memandangku penuh tanya. Seakan tak percaya.
"Tadi malam," jelasku singkat.
"Gara-gara aku? Apa dia tahu kamu nemuin aku kemarin? Dia--"
"Bukan, Ra. Bukan gara-gara kamu."
"Tapi kenapa?"
"Aku akan cerita. Tapi enggak sekarang. Masalah kamu lebih penting."
Ratu terpaku beberapa saat. Mata bulatnya berkedip-kedip teratur. Seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulutku.
"Oke. Rencana kamu hari ini apa? Kebetulan, aku punya banyak waktu."
Mendapati Ratu masih diam, aku melanjutkan, "Oh, ya, udah sarapan?"
Wanita itu menggeleng.
"Oke. Mau sarapan apa?"
"Enggak tahu. Lagi enggak mood makan."
Aku menyentak napas. Enggak mood makan, katanya? Tanpa bertanya lagi, aku melajukan mobil. Menuju resto cepat saji terdekat. Tidak ada ide lain. Dan aku tahu dari dulu Ratu suka sarapan burger dipadu dengan minuman bersoda.
Bukan pilihan yang sehat, tapi lebih baik dari pada kelaparan. Kalau pingsan, bisa tambah runyam.
*
Selain kehilangan tempat tinggal secara mendadak, Ratu juga kehilangan pekerjaan. Sony si laki-laki sialan itu sudah mendepak Ratu dari butiknya. Bukan hanya itu, kartu kredit dan debit dibekukan sepihak. Gampang saja, karena semua atas nama dirinya sendiri.
Zalim bener jadi laki. Lihat, tuh! Ratu makan dengan lahap kayak orang yang enggak nemu makanan sebulan.
Ponselku berdenting. Setelah kuusap layarnya, kudapati pesan dari Maysa.
[Izin masuk kamar. Mau ngambil barang.]
Napasku tertahan sejenak. Maysa mendadak jadi makhluk luar angkasa. Saking asingnya.
Biasanya, pesan Maysa tidak pernah to the point seperti ini. Apakah perceraian telah mengubah banyak hal pada dirinya? Padahal aku tidak zalim seperti Sony.
"Kenapa, Han?" Ratu menatapku sembari menenggak minuman berkarbonasi.
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa pasang muka sedih kayak gitu?"
"What? Sedih?"
Hello Kitty kejepit pintu! Apakah pesan dari Maysa berhasil mengubah riak mukaku?
Ratu meletakkan gelas lalu mengangguk-angguk.
"Enggak. Aku enggak sedih." Kataku yakin. "Udahan makannya?" tanyaku mengalihkan perhatian.
Ratu mengangguk sambil menyuguhkan senyum tipis. Setelah makan, ada perubahan cukup signifikan pada wajahnya. Sudah cerah meskipun lebam biru itu masih sangat kentara.
Kami beranjak. Rencana berikutnya, mencari tempat tinggal sementara untuk Ratu. Sambil jalan, menyusun rencana untuk mencarikannya pekerjaan.
Kamu wanita kuat, Ra. Tenang, aku akan berada di sampingmu. Menemani perjuanganmu. Seperti dulu.
*
Sampai rumah jam empat sore. Aku langsung merebahkan diri di atas ranjang. Mungkin karena terlalu lelah, kedua mata langsung terpejam. Hingga gelegar petir membuat kaget dan memaksaku bangun.
Gelap. Sesekali kilatan petir menerobos, lewat kaca jendela yang masih tersingkap gordennya. Memberi pencahayaan sementara.
Aku bangkit dengan tubuh yang kembali bertenaga. Meraba-raba letak saklar. Lampu menyala. Baru pukul enam. Kenapa sudah segelap ini? Mungkin karena mendung pekat. Aku menebak-nebak.
Meraih handuk, lalu mandi. Rumah sepi. Maysa belum pulang? Di luar hujan deras. Tiba-tiba rasa khawatir datang. Bagaimana kalau dia kejebak di tokonya? Atau kuketuk saja kamar sebelah untuk memastikan dia sudah kembali dan ... baik-baik saja?
Ah, tidak perlu. Aku menggeleng samar. Mengusir rasa khawatir yang tidak biasanya datang.
Usai mandi, aku membuka lemari. Kaget. Isinya sudah tertata rapi. Pasti Maysa pelakunya. Siapa lagi?
Tubuhku membeku sejenak. Menyadari lemari tampak lebih longgar. Baju-baju Maysa sudah dipindahkan. Dan yang lebih mencengangkan, celana kerja, celana rumahan, kaos dalam, kaos berkerah, kaos kaki, celana dalam, sarung, dan sebagainya terletak di tempat yang berbeda-beda.
Ah, Maysa ....
Dengan perasaan bersalah, aku mengambil baju untuk dikenakan malam ini. Bersalah telah mengobrak-abrik isi lemari pagi tadi. Bersalah telah ... menceraikannya?
Tidak, tidak. Aku yakin rasa aneh yang tiba-tiba datang bukan karena itu.
Aku pun menunaikan salat magrib. Setelah itu keluar kamar. Perut lapar. Tapi hujan masih deras, tidak memungkinkan cari makan di luar. Berharap masih ada stok telur dan mi instan.
Kudapati Maysa berdiri menghadap kompor. Menatap punggung itu, entah kenapa membuat hatiku bersyukur, lega. Dia baik-baik saja. Tanpa sadar, senyum di bibirku merekah. Aku pun menarik kursi, duduk menunggu ... Maysa.
Mungkin kaget, Maysa mundur satu langkah saat mendapatiku sudah di sini. Sejenak, dia tampak bingung atau ragu-ragu. Namun akhirnya melangkah juga ke meja makan. Menaruh semangkok mi instan. Aromanya memicu perutku menjerit-jerit minta segera diisi.
"Masih ada stok mi, May?" tanyaku penuh harap.
"Habis," jawab Maysa singkat. Dia masih berdiri dengan wajah ragu-ragu.
Aku menyemburkan napas. "Laper tapi masih hujan, nasib!" gumamku cukup keras. Berharap Maysa peka.
"Mau?" Maysa menawarkan.
"Enggak usah. Nunggu hujan reda aja." Aku memasang wajah santai. Padahal perut sudah melilit-lilit tak karuan.
"Ini juga enggak bakalan habis, kok."
Ya, aku tahu wanita di hadapanku ini tidak banyak makan. Tak heran kalau badannya mirip tiang.
Agak jaim, aku menjawab, "Boleh, deh."
Maysa mengambil mangkok dan sendok. Lalu membagi dua mi kuah yang masih mengepulkan uap panas. Membuat liur di mulutku seketika berkumpul.
"Makasih," ucapku setelah mangkok itu disodorkan di hadapanku. Menyadari Maysa masih berdiri ragu, aku berkata, "Duduklah, May. Makan bareng mantan enggak bikin dosa, kok."
"Aku makan di kamar aja." Maysa mengambil mi miliknya lalu nggeloyor masuk kamar sebelah.
Ekor mataku hanya bisa mengikuti sosok tinggi berbalut kerudung abu-abu. Agak kesal ditinggal sendirian, aku pun melampiaskannya dengan menandaskan separuh mangkok mi rasa ayam bawang.
Hanya berselang lima belas menit, Maysa kembali keluar. Meletakkan mangkok di wastafel. Sedangkan aku sudah duduk di sofa depan televisi. Menonton acara lawakan yang entah kenapa malam ini terkesan garing.
Terdengar suara benda pecah. Aku menoleh kaget. Kontan beranjak menuju sumber suara dan kudapati Maysa memunguti pecahan beling. Sebentar kemudian, ia mendesis kesakitan. Membuatku ikut berjongkok, membantunya.
"Biar Abang aja." Aku menggenggam lengannya dan segera saja ia menepis tanganku.
Mataku melirik jemarinya. Telunjuk panjang itu berdarah. Kucekal kembali lengannya, lalu memaksanya mencuci luka di bawah aliran air wastafel. Maysa masih berusaha melepaskan genggaman.
Aku mendesis kesal. "Diem aja kenapa, sih? Mau luka ini kena infeksi?"
Terdengar lebay, memang. Tapi kalimat itu cukup ampuh untuk membuat Maysa pasrah. Aku mengulum senyum, menyadari ada rasa nyaman saat melakukan ini.
Setelah darah di tangannya bersih, aku meraih tisu roll yang tergantung tak jauh dari keran air. Kubungkus telunjuk itu dengan gulungan tisu.
"Duduk dulu," perintahku merujuk meja makan.
Maysa menurut. Ia menekan luka sambil sesekali melirik ke arahku yang tengah membereskan pecahan beling.
"Kenapa, May? Kabur lagi pandangannya?"
Sudah hampir sebulanan ini, Maysa beberapa kali memecahkan perabotan. Katanya, pandangannya kadang-kadang kabur. Dia pikir, barang sudah diletakkan di tempatnya. Tapi rupanya meleset.
"Iya." Ia menjawab lirih.
"Mata kamu minus kali. Atau silinder." Ah, ya. Aku bahkan belum sempat mengantarnya periksa ke dokter.
Lagi, rasa bersalah itu menghampiri tiba-tiba.
-x-
OLEH : DEWI FATIMAH
"Celana dalam, kaos hitam .... Di mana, sih?" Aku menggumam sendiri di kamar. Menghadap lemari yang terbuka. Pusing menatap tumpukan pakaian di dalamnya.
Kostum hari ini batik. Warna gelap. Mudah dicari karena digantung, bukan dilipat. Tapi celana dalam dan kaos hitamnya ....
Masalahnya aku tidak hafal di mana letak masing-masing. Aku pun menyemburkan napas kuat-kuat. Menit kemudian menggaruk rambut yang masih basah dengan kasar lantaran frustasi.
Apa minta tolong Maysa saja? Biasanya dia yang menyiapkan pakaian kerja.
Kamper jamuran! Gengsimu ditaruh mana, Reyhan?! Sadar status, woi!
Oke, tenang. Tarik napas ..., embuskan .... Cari satu persatu dan pelan-pelan.
Aku menatap setiap baris tumpukan pakaian dengan seteliti mungkin. "Nah! Ketemu, kan?" Tersenyum lega, sebuah celana dalam sudah berhasil kukeluarkan.
"Terus ... kaos hitam ...." Sepertinya perlu diintip satu persatu tumpukan kaos ini!
"Nah, kan!" Aku berseru lirih. Keselip rupanya. Namun ketika ditarik, kaos-kaos yang lain malah berguguran. Rasanya seluruh kosakata umpatan hendak keluar!
Istigfar, Reyhan .... Istigfar .... Sabar.
Dengan perasaan setengah enggan, kupunguti kaos-kaos yang berceceran di lantai. Ini kalau Maysa tahu, dia bisa mengomel.
"Subhanallah suamiku, luar biasa sekali! Menambah ladang amal istri!" Biasanya dia akan berujar begitu sambil mengelus dada. Lalu berikutnya dia tidak akan membiarkan suaminya ini, eh, maksudku mantannya ini untuk mengambil baju sendiri.
Ah, Maysa ....
Aku menggeleng cepat. Mengusir pikiran yang mulai rancu.
Baiklah .... Hampir 30 menit habis hanya untuk memilih outfit hari ini. Dan begitu menyadari jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka 7.30 WIB, diriku bergegas keluar. Batas absensi tinggal setengah jam lagi! Padahal mobil belum dipanasi, jalanan juga tidak ada jaminan lancar. Mati aku! Tunjangan terancam kena potongan!
Ketika hendak mengenakan sepatu, baru sadar kalau belum mengambil kaos kaki. Aku pun berlari ke kamar. Kembali membongkar lemari. Berantakan? Bodo amat!
Lega. Sepatu sudah terpasang. Kulangkahkan kaki menuju garasi. Lalu kudapati Maysa sedang memegang sapu di teras, membersihkan pecahan pot anggrek. Biasalah, ulah kucing berantem.
Tapi ... bukannya dia harus ke toko kue?
Ya, Maysa adalah owner sebuah toko kue. Biasanya sebelum jam tujuh pagi sudah berangkat. Ini? Kenapa masih santai?
Tanya, jangan. Tanya, jangan. Tanya ....
Dia menoleh. Menatapku dengan kedua alis bertaut. Aku gelagapan sendiri, ketahuan mencuri pandang.
"Eng ... enggak ke toko, May?" tanyaku gugup.
Maysa kembali menggerakkan sapunya--yang sempat terhenti karena menoleh padaku, mengumpulkan tanah dan kepingan pot yang berserakan. "Insyaallah jam sembilan." Ia tidak memandangku lagi.
"Oh, jam bukanya berubah, ya?" tanyaku lagi sembari memasukkan tas kerja ke dalam mobil.
"Enggak. Kan, ini hari Sabtu. Bukanya siang. Masa lupa?" Maysa mengucapkan masa-lupa dengan sedikit ngedumel.
Sabtu? Aku menatap punggung Maysa tanpa kedip. Lalu pelan-pelan kulirik arloji yang melilit di pergelangan tangan kiri.
SAT.
Tiga huruf yang tertera di layar benda itu. Artinya ... SATURDAY alias Sabtu.
Kucing kecemplung got! Jadi hari ini Sabtu? Aku berpikir lagi, mengingat-ingat.
Iya ya, kemarin aku menemui Ratu setelah salat Jumat. Ya salam .... Sejak kapan Reyhan jadi pikun begini? Usia juga baru 30 tahun.
Karena tak ingin terlihan oon, aku tetap menampakkan wajah stay cool.
"May, Abang ada acara. Pergi dulu," pamitku sebelum masuk mobil.
Sebenarnya tidak penting, cuma jaga-jaga karena Maysa terlihat heran mendapatiku rapi di akhir pekan. Padahal biasanya tidur sampai menjelang zuhur. Dia juga tidak boleh tahu kalau aku telah melewati pagi yang luar biasa kacau, tapi ujung-ujungnya salah hari.
"Ya." Maysa menyahut datar sembari melirik sekilas. Kedua tangannya sibuk menata pot anggrek yang bergeser--karena ulah kucing.
Nyeri. Entah kenapa sikap dingin Maysa membuat dada ini terasa sakit.
Setelah menyemburkan napas kasar, aku duduk di kursi kemudi. Kunyalakan mobil dengan hati dongkol. Membiarkannya hidup, berharap mesinnya panas. Ya siapa tahu hangatnya nular ke Maysa. Biar cair sikap dinginnya.
Ketika mobil sudah mundur perlahan, aku menepuk jidat. Bagaimana bisa keluar kalau pagar masih tertutup rapat?
*
Usai sarapan di sebuah resto cepat saji dekat komplek, aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Entah akan pergi ke mana. Aku juga belum tahu. Paling tidak harus keluar dua sampai tiga jam agar Maysa tidak curiga. Eh, sejak kapan Maysa menjadi alasanku melakukan sesuatu? Aku menyentak napas dan menggeleng samar. Heran.
Saat beberapa menit berhenti karena lampu merah, sikap dingin Maysa melintas di ingatan. Sikap yang mengingatkanku saat pertama kali kami bertemu.
Waktu itu hari Minggu. Mama membawanya ke rumah setelah balik dari pengajian. Untuk dikenalkan padaku.
Denganku, Maysa tidak banyak bicara. Kecuali memang benar-benar perlu. Cara menjawabnya pun datar. Sangat kontras jika dia berhadapan dengan Mama atau Papa.
Dalam hati, aku tertawa sinis. Wanita model begitu mau jadi istriku? Parasnya biasa tanpa polesan make-up sedikit pun. Sungguh berbeda dengan Ratu dan beberapa mantan yang pernah singgah di hatiku, yang semuanya pintar dandan. Begitu membanggakan saat diajak jalan.
Bagiku, pakaian Maysa juga terlalu tertutup. Kayak Mama. Kalau beliau sih, wajar. Sudah hampir kepala enam. Siapa juga yang bakalan komentar? Lah Maysa? Duh, artis hijrah saja pakaiannya enak dipandang. Dia? Benar-benar polosan. Tanpa pernak-pernik atau hiasan.
"Aku enggak cinta sama kamu. Gimana kita mau menikah kalau di hati masing-masing tidak ada rasa?" Akhirnya pertanyaan itu mencuat dari mulutku.
Sesungging senyuman terbit dari bibirnya yang memang berwarna merah alami. "Setahu saya, sebuah pernikahan tidak harus diawali dengan cinta. Bahkan mayoritas rumah tangga Rasulullah dan shahabat terjalin bukan karena cinta."
Aku mengangguk-angguk. Ada ya, cewek yang enggak memuja-muja cinta kayak Maysa?
"Pernah ta'aruf sebelumnya?" tanyaku lagi.
"Pernah."
"Kenapa enggak nikah sama yang pernah ta'aruf sama kamu?" Waktu itu aku menduga, pasti ketahuan belangnya.
Setelah diam beberapa detik, Maysa menghela napas. Seolah itu kenangan buruk dalam hidupnya. "Dia meninggal karena kecelakaan. Satu pekan sebelum kami menikah."
Jawabannya membuatku bungkam. Prihatin. Tapi juga membuatku penasaran, seperti apa sosok lelaki itu.
Ponselku berdering, memutus memori. Sekilas kulirik benda berukuran lima inchi yang terletak di atas dashboard. Terbaca nama Ratu di layarnya.
"Han ...," lirihnya sebelum aku sempat bersuara. Terdengar dia sedang tidak baik-baik saja.
"Iya, Ra? Kamu kenapa?"
Ratu terisak.
Sepertinya ada yang serius.
Lampu hijau menyala, kulajukan mobil lalu segera menepi di tempat yang aman. "Ada apa, Ra?"
"Han ...."
"Kamu di mana?"
Terdengar suara susutan ingus. "Di ... di makam ibu."
Mataku memejam. Ratu yang tengah bersedih dan curhat pada ibunya, membayang-bayang.
"Aku jemput. Tunggu di sana," tukasku.
Kubelokkan mobil ke arah sebuah TPU. Agak ngebut. Ratu butuh aku.
Sepuluh menit, aku tiba di sana. Setelah memarkir mobil di tepi jalan, kakiku melangkah di antara makam-makam. Ratu duduk sendirian. Terpekur dengan mata memandangi nisan ibunya. Mungkin ada banyak kata yang ia ungkapkan melalui hatinya.
"Ra ...," sapaku ketika jarak kami sudah dekat.
Ratu sedikit mendongak. Setelah memandangku sekilas, ia kembali terisak-isak.
Aku berjongkok, meraih tangan kanan wanita itu. Astaga! Pipinya lebam.
"Ra, kenapa?" tanyaku lembut.
Ratu mengusap linangan air matanya dengan cepat. Seolah ingin mengatakan bahwa dirinya kuat. Aku pun memutari makam lalu duduk di sisinya. Naluriku mengatakan, Ratu hanya butuh pelukan.
Di depan dadaku, tangis Ratu semakin tersedu. Kubiarkan air mata campur ingus tumpah di baju batik yang kukenakan.
Lima menit ... sepuluh menit .... Perlahan wanita cantik itu menarik kepalanya. Kedua mata indah yang kini sayu menatapku terimakasih, sedangkan aku menatapnya penuh tunggu.
"Biar aku jelasin di mobil," lirihnya parau.
Aku mengangguk. Kami pun beranjak, berjalan beriringan. Meninggalkan makam wanita yang meninggal dua tahun silam. Sosok yang kutahu menjadi sandaran seorang Ratu.
"Tadi malam aku pulang ke rumah," tuturnya setelah kami berdua berada dalam mobil, "cuma untuk jemput Bastian. Tapi ... Mas Sony ngelarang aku nemuin anak aku sendiri. Aku ngelawan. Dan ... ya ... akhirnya kena damprat."
Sony, nama suaminya.
"Aku pulang ke rumah Ayah. Tapi setelah dia tahu persoalan rumah tangga kami, Ayah malah marah. Ngusir aku. Katanya, aku yang salah. Jadi istri pembangkang." Ia tersenyum miris.
Air mata itu tak lagi berlinang. Namun luka terlihat jelas pada wajah yang tampak pias. Luka pada seonggok daging merah di dalam dada. Hatinya.
"Terus ... semalam kamu tidur di mana?" tanyaku setelah beberapa detik saling terdiam. Memikirkan pesan yang kukirim semalam tidak ada balasan.
"Numpang di tempat temen."
Aku menghela napas berat. Wanita di sampingku ini, dari dulu tak pernah lepas dari ujian hidup. Dan yang membuatku salut, dia selalu tampak seolah baik-baik saja. Sesusah apapun hidupnya.
Dia bukan wanita yang dibesarkan di keluarga berada. Ayahnya seorang satpam di sebuah perusahaan. Ya, perusahaan orang tua si Sony itu. Almarhumah ibunya sejak dulu sakit-sakitan. Penghasilan ayahnya tidak cukup untuk menghidupi ibu, Ratu, dan adiknya yang masih kuliah, termasuk biaya berobat. Hutang menumpuk. Ratu diminta untuk menikah dengan Sony. Perjodohan yang dianggap sebagai jalan keluar masalah ekonomi.
Ketika itu, aku baru jadi ASN. Gajiku di tahun pertama baru 80%. Belum bisa membantu masalah di keluarga Ratu. Terpaksa kami berpisah.
Kalau tahu pada akhirnya akan begini ... mungkin tidak semudah itu membiarkan Ratu pergi.
"Han, maaf ...," ucap Ratu lirih. "Semalem enggak sempat balas pesannya. Maaf juga ... lagi-lagi aku ganggu kamu. Aku jadi enggak enak sama Maysa."
"Kami udah pisah," sahutku cepat.
Ratu memandangku penuh tanya. Seakan tak percaya.
"Tadi malam," jelasku singkat.
"Gara-gara aku? Apa dia tahu kamu nemuin aku kemarin? Dia--"
"Bukan, Ra. Bukan gara-gara kamu."
"Tapi kenapa?"
"Aku akan cerita. Tapi enggak sekarang. Masalah kamu lebih penting."
Ratu terpaku beberapa saat. Mata bulatnya berkedip-kedip teratur. Seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja terlontar dari mulutku.
"Oke. Rencana kamu hari ini apa? Kebetulan, aku punya banyak waktu."
Mendapati Ratu masih diam, aku melanjutkan, "Oh, ya, udah sarapan?"
Wanita itu menggeleng.
"Oke. Mau sarapan apa?"
"Enggak tahu. Lagi enggak mood makan."
Aku menyentak napas. Enggak mood makan, katanya? Tanpa bertanya lagi, aku melajukan mobil. Menuju resto cepat saji terdekat. Tidak ada ide lain. Dan aku tahu dari dulu Ratu suka sarapan burger dipadu dengan minuman bersoda.
Bukan pilihan yang sehat, tapi lebih baik dari pada kelaparan. Kalau pingsan, bisa tambah runyam.
*
Selain kehilangan tempat tinggal secara mendadak, Ratu juga kehilangan pekerjaan. Sony si laki-laki sialan itu sudah mendepak Ratu dari butiknya. Bukan hanya itu, kartu kredit dan debit dibekukan sepihak. Gampang saja, karena semua atas nama dirinya sendiri.
Zalim bener jadi laki. Lihat, tuh! Ratu makan dengan lahap kayak orang yang enggak nemu makanan sebulan.
Ponselku berdenting. Setelah kuusap layarnya, kudapati pesan dari Maysa.
[Izin masuk kamar. Mau ngambil barang.]
Napasku tertahan sejenak. Maysa mendadak jadi makhluk luar angkasa. Saking asingnya.
Biasanya, pesan Maysa tidak pernah to the point seperti ini. Apakah perceraian telah mengubah banyak hal pada dirinya? Padahal aku tidak zalim seperti Sony.
"Kenapa, Han?" Ratu menatapku sembari menenggak minuman berkarbonasi.
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa pasang muka sedih kayak gitu?"
"What? Sedih?"
Hello Kitty kejepit pintu! Apakah pesan dari Maysa berhasil mengubah riak mukaku?
Ratu meletakkan gelas lalu mengangguk-angguk.
"Enggak. Aku enggak sedih." Kataku yakin. "Udahan makannya?" tanyaku mengalihkan perhatian.
Ratu mengangguk sambil menyuguhkan senyum tipis. Setelah makan, ada perubahan cukup signifikan pada wajahnya. Sudah cerah meskipun lebam biru itu masih sangat kentara.
Kami beranjak. Rencana berikutnya, mencari tempat tinggal sementara untuk Ratu. Sambil jalan, menyusun rencana untuk mencarikannya pekerjaan.
Kamu wanita kuat, Ra. Tenang, aku akan berada di sampingmu. Menemani perjuanganmu. Seperti dulu.
*
Sampai rumah jam empat sore. Aku langsung merebahkan diri di atas ranjang. Mungkin karena terlalu lelah, kedua mata langsung terpejam. Hingga gelegar petir membuat kaget dan memaksaku bangun.
Gelap. Sesekali kilatan petir menerobos, lewat kaca jendela yang masih tersingkap gordennya. Memberi pencahayaan sementara.
Aku bangkit dengan tubuh yang kembali bertenaga. Meraba-raba letak saklar. Lampu menyala. Baru pukul enam. Kenapa sudah segelap ini? Mungkin karena mendung pekat. Aku menebak-nebak.
Meraih handuk, lalu mandi. Rumah sepi. Maysa belum pulang? Di luar hujan deras. Tiba-tiba rasa khawatir datang. Bagaimana kalau dia kejebak di tokonya? Atau kuketuk saja kamar sebelah untuk memastikan dia sudah kembali dan ... baik-baik saja?
Ah, tidak perlu. Aku menggeleng samar. Mengusir rasa khawatir yang tidak biasanya datang.
Usai mandi, aku membuka lemari. Kaget. Isinya sudah tertata rapi. Pasti Maysa pelakunya. Siapa lagi?
Tubuhku membeku sejenak. Menyadari lemari tampak lebih longgar. Baju-baju Maysa sudah dipindahkan. Dan yang lebih mencengangkan, celana kerja, celana rumahan, kaos dalam, kaos berkerah, kaos kaki, celana dalam, sarung, dan sebagainya terletak di tempat yang berbeda-beda.
Ah, Maysa ....
Dengan perasaan bersalah, aku mengambil baju untuk dikenakan malam ini. Bersalah telah mengobrak-abrik isi lemari pagi tadi. Bersalah telah ... menceraikannya?
Tidak, tidak. Aku yakin rasa aneh yang tiba-tiba datang bukan karena itu.
Aku pun menunaikan salat magrib. Setelah itu keluar kamar. Perut lapar. Tapi hujan masih deras, tidak memungkinkan cari makan di luar. Berharap masih ada stok telur dan mi instan.
Kudapati Maysa berdiri menghadap kompor. Menatap punggung itu, entah kenapa membuat hatiku bersyukur, lega. Dia baik-baik saja. Tanpa sadar, senyum di bibirku merekah. Aku pun menarik kursi, duduk menunggu ... Maysa.
Mungkin kaget, Maysa mundur satu langkah saat mendapatiku sudah di sini. Sejenak, dia tampak bingung atau ragu-ragu. Namun akhirnya melangkah juga ke meja makan. Menaruh semangkok mi instan. Aromanya memicu perutku menjerit-jerit minta segera diisi.
"Masih ada stok mi, May?" tanyaku penuh harap.
"Habis," jawab Maysa singkat. Dia masih berdiri dengan wajah ragu-ragu.
Aku menyemburkan napas. "Laper tapi masih hujan, nasib!" gumamku cukup keras. Berharap Maysa peka.
"Mau?" Maysa menawarkan.
"Enggak usah. Nunggu hujan reda aja." Aku memasang wajah santai. Padahal perut sudah melilit-lilit tak karuan.
"Ini juga enggak bakalan habis, kok."
Ya, aku tahu wanita di hadapanku ini tidak banyak makan. Tak heran kalau badannya mirip tiang.
Agak jaim, aku menjawab, "Boleh, deh."
Maysa mengambil mangkok dan sendok. Lalu membagi dua mi kuah yang masih mengepulkan uap panas. Membuat liur di mulutku seketika berkumpul.
"Makasih," ucapku setelah mangkok itu disodorkan di hadapanku. Menyadari Maysa masih berdiri ragu, aku berkata, "Duduklah, May. Makan bareng mantan enggak bikin dosa, kok."
"Aku makan di kamar aja." Maysa mengambil mi miliknya lalu nggeloyor masuk kamar sebelah.
Ekor mataku hanya bisa mengikuti sosok tinggi berbalut kerudung abu-abu. Agak kesal ditinggal sendirian, aku pun melampiaskannya dengan menandaskan separuh mangkok mi rasa ayam bawang.
Hanya berselang lima belas menit, Maysa kembali keluar. Meletakkan mangkok di wastafel. Sedangkan aku sudah duduk di sofa depan televisi. Menonton acara lawakan yang entah kenapa malam ini terkesan garing.
Terdengar suara benda pecah. Aku menoleh kaget. Kontan beranjak menuju sumber suara dan kudapati Maysa memunguti pecahan beling. Sebentar kemudian, ia mendesis kesakitan. Membuatku ikut berjongkok, membantunya.
"Biar Abang aja." Aku menggenggam lengannya dan segera saja ia menepis tanganku.
Mataku melirik jemarinya. Telunjuk panjang itu berdarah. Kucekal kembali lengannya, lalu memaksanya mencuci luka di bawah aliran air wastafel. Maysa masih berusaha melepaskan genggaman.
Aku mendesis kesal. "Diem aja kenapa, sih? Mau luka ini kena infeksi?"
Terdengar lebay, memang. Tapi kalimat itu cukup ampuh untuk membuat Maysa pasrah. Aku mengulum senyum, menyadari ada rasa nyaman saat melakukan ini.
Setelah darah di tangannya bersih, aku meraih tisu roll yang tergantung tak jauh dari keran air. Kubungkus telunjuk itu dengan gulungan tisu.
"Duduk dulu," perintahku merujuk meja makan.
Maysa menurut. Ia menekan luka sambil sesekali melirik ke arahku yang tengah membereskan pecahan beling.
"Kenapa, May? Kabur lagi pandangannya?"
Sudah hampir sebulanan ini, Maysa beberapa kali memecahkan perabotan. Katanya, pandangannya kadang-kadang kabur. Dia pikir, barang sudah diletakkan di tempatnya. Tapi rupanya meleset.
"Iya." Ia menjawab lirih.
"Mata kamu minus kali. Atau silinder." Ah, ya. Aku bahkan belum sempat mengantarnya periksa ke dokter.
Lagi, rasa bersalah itu menghampiri tiba-tiba.
-x-
USAI BERCERAI - 1
USAI BERCERAI - 1
oleh : Dewi Fatimah
"Han, aku ... aku udah dicerai."
Ratu, wanita ayu di hadapanku itu menyeka pipi basahnya berulang kali.
Jantungku bergeming sedetik, lalu berdetak kembali dengan sangat kencang hingga terasa sakit. Entah mengapa, sedari dulu tak tega jika harus melihatnya terluka. Dan itu membuatku yakin bahwa cinta ini masih sama kadarnya.
"Ra ..., tapi bagaimana bisa?" tanyaku pelan dan hati-hati.
Ratu tersenyum tipis, miris. Ia menggeleng samar. Jemari lentiknya terulur mengambil tisu yang aku sodorkan. Lalu ia menyeka pipinya hingga jejak air mata tak bersisa. Tapi percuma. Toh, bulir-bulir bening itu kembali mengalir tanpa jeda.
"Entahlah, Han," kalimatnya terjeda oleh isakan, "mungkin karena bukan cinta dasar kami membina rumah tangga. Sering terjadi konflik yang makin lama makin susah dicari jalan keluar. Ego kami sama-sama tinggi."
Menikah bukan karena cinta ....
Aku mengerti. Karena kami bernasib sama. Ya, aku pun begitu. Menikah dengan wanita yang sama sekali tidak kucintai. Sosok yang bagiku masih asing hingga kini. Setelah hampir enam bulan usia pernikahan kami.
"Terus ..., rencana kamu selanjutnya apa?"
Seorang pramusaji datang menyajikan menu makan siang yang kami pesan. Dua piring nasi goreng kambing dan dua gelas jeruk panas. Oh Tuhan, bahkan makanan favorit kami masih sama!
Ratu menggeleng. Bimbang. Ia melempar pandangan ke luar jendela. Gumpalan awan cokelat menggantung di langit Jakarta. Seakan menggambarkan suramnya perasaan mantan kekasih di hadapanku.
"Makan dulu, Ra." Aku menggamit jemarinya, membuatnya menoleh dengan senyum yang masih sama. Lengkungan bibir yang kurindu selama tiga tahun lamanya.
Kami mulai hening. Menikmati makanan masing-masing.
"Gimana kabar Maysa?" tanya Ratu setelah menelan kunyahan pertama.
Maysa, nama istriku.
"Baik." Aku menjawab singkat. Malas membahasnya.
"Maysa belum hamil?"
Aku hampir tersedak. Kudapati Ratu melipat dahi. Heran dengan reaksi yang mungkin terlihat aneh dan berlebihan.
"Belum."
Kembali hening. Ada ketidaknyamanan ketika nama Maysa menyelip di antara obrolan kami. Yah, bagaimanapun kami dulunya sepasang kekasih. Yang pernah merajut mimpi bersama. Pernah menyusun angan berdua. Lalu perjodohan yang dialami Ratu mengobrak-abrik semuanya.
"Han ..., maaf kalau aku ...." Wanita berusia 27 tahun itu menggantung kalimatnya, membuatku menatapnya penuh tunggu. "Maaf kalau aku malah nemuin kamu."
"Kenapa minta maaf?"
Ratu tersenyum getir. "Karena aku sadar posisi kita masing-masing."
Aku menyeruput jeruk hangat. Membiarkan rasa manis asamnya memenuhi mulut. Sungguh, ada rasa gugup saat ini. Makan berdua dengan mantan yang kembali membangkitkan berbagai kenangan.
"Ra, kamu enggak lupa, kan? Kalau sebelum kita benar-benar berpisah, kamu janji akan jadiin aku sahabat baik kamu? Tapi setelah itu, justru kamu yang enggak pernah ngasih kabar apa-apa. Sampe ... ya ... sampe semua ini terjadi."
Ratu tersenyum tipis lalu menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Detik kemudian, ia mengunyah pelan, sambil sesekali menyugar rambutnya yang menjuntai ke depan. Ah, wanita ini masih saja membuat mataku tersihir oleh pesonanya.
"Reyhan, untuk yang satu itu aku minta maaf. Aku berusaha menghargai pernikahan kami, meskipun terjalin tanpa cinta. Aku berusaha menjadikan suamiku sebagai orang pertama yang tahu semua masalah-masalahku. Aku berusaha menjadikan dia segala-galanya dalam hidup aku—"
"Tapi sekarang apa yang kamu dapetin?" potongku agak emosi. Jujur, rentetan kalimatnya membuatku cemburu.
"Ini di luar kuasaku, Han ...." Air mata itu kembali lolos.
Aku mengangguk-angguk paham. Kembali menyeruput jeruk hangat untuk meredam gejolak yang bersarang.
"Jadi, apa rencana kamu setelah ini?" tanyaku sekali lagi.
"Menjalani proses sidang. Kalau udah kelar dan kami resmi bercerai, aku bakalan pergi bawa Bastian."
Bastian, nama anak laki-laki hasil pernikahan mereka.
"Ke mana?"
Ratu mengedikkan bahu. "Bakalan aku pikir sambil jalan."
"Berapa usia anak kamu sekarang?"
"Dua tahun."
Oh, pasti sedang lucu-lucunya. Kasihan jika harus menghadapi perceraian orang tuanya.
"Han, makasih." Ratu meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kiriku. Kedua mataku melebar seiring rasa nyaman yang menjalar.
Aku menggenggam tangan itu, lalu berkata, "Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk ngomong ke aku. Oke?"
Ratu mengangguk senang.
Usai makan, aku kembali ke kantor setelah mengantar Ratu ke sebuah mall. Dia memiliki butik di sana. Bisnis yang ia bangun bersama suaminya.
Entah bagaimana setelah mereka bercerai. Aku khawatir, Ratu akan kehilangan pekerjaan. Menjalani hidup dengan status janda satu anak tentu tidak mudah, bukan?
Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Seseorang yang masih begitu kucinta.
*
Maysa Al-Mahira. Seperti biasa dia menyambut kedatanganku dengan senyum khasnya. Lumayan manis, menurutku. Tapi entah kenapa belum sanggup meluluhkan hati untuk bertekuk mencintainya. Memang secara fisik, kuakui pesona Mahira tidak ada apa-apanya dibanding Ratu.
"Gimana kabar Abang hari ini?" tanya Maysa sembari menyiapkan hidangan makan malam.
"Baik. Ya, begitulah. Sama kayak kemarin-kemarin."
Wanita berusia 24 tahun itu tersenyum, menampilkan kedua lesung pipi. Matanya yang memang agak sipit seakan memejam.
"Abang mandi dulu, gih. Setelah itu salat magrib, baru deh kita makan. Aku bikin cumi hitam kesukaan Abang."
Aku mengangguk. Melangkahkan kaki ke kamar untuk mengambil handuk lalu mandi.
Sejak menikah dengan Maysa, hidupku seperti ada yang mengatur. Lakukan ini dulu, baru itu. Itu dulu baru ini. Dan aku lebih sering mengiyakan, malas mendebat.
"May, ada pengen Abang omongin," tuturku usai makan malam.
Maysa yang sudah berdiri hendak membereskan meja makan, menghentikan aktivitasnya. Ia kembali duduk, menungguku bicara.
Berdehem tiga kali untuk memastikan tidak ada yang menyangkut di kerongkongan, aku mulai bicara. Hati-hati.
"May, kamu tahu Abang nikahin kamu karena apa."
Maysa bergeming. Hanya kedua bola matanya yang bergerak-gerak mengamati wajahku. Dia selalu seserius itu memperhatikanku.
"May, hingga detik ini ... entah kenapa Abang belum bisa cinta sama kamu."
Maysa sedikit menunduk.
"Dan menurut Abang, kamu pantas mendapatkan laki-laki yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Abang yakin, ada banyak laki-laki di luar sana yang mau sama kamu."
Memang tidak begitu cantik, tapi dia baik. Sangat baik.
Maysa menunduk lebih dalam.
"Laki-laki yang sesuai harapan kamu. Saleh dan bisa kamu ajak masuk surga bersama-sama. Bukan kayak Abang yang ... bahkan untuk bangun subuh aja susahnya bukan main."
"Maksud Abang apa?" Maysa bicara dengan suara tersekat.
"Abang pengen Maysa bahagia."
Maysa mengangkat wajah, memandangku penuh tanya.
"Abang enggak bisa melanjutkan pernikahan hambar ini."
Gantian aku yang menunduk, tak bernyali menatap mata yang telah dipenuhi genangan kaca-kaca.
"Aku ... salah apa, Bang?" Maysa bertanya lirih.
Aku menggeleng samar. "Kamu enggak salah apa-apa. Abang yang salah. Belum bisa mencintai seorang wanita sebaik Maysa."
"Apa Abang lupa dengan perkataanku sebelum kita menikah? Bahwa pernikahan tidak harus diawali rasa cinta?"
Aku kembali menggeleng. Tentu saja masih ingat. Kupikir waktu itu akan mudah. Seperti perkataan Mama. Bahwa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya rumah tangga. Tapi nyatanya apa? Pernikahan ini hanya membuatku mati rasa.
Ya, mati rasa. Hingga pertemuan dengan Ratu siang tadi kembali menghidupkan separuh hati yang telah mati karena kepergiannya.
"Tolong Abang sebutkan, aku kurang apa? Biar aku bisa memperbaikinya." Maysa berkata diselingi isak tangisnya.
"Kamu baik. Enggak ada yang kurang. Tapi cinta memang enggak bisa dipaksa, May ...."
"Jadi ...."
"Abang ingin kita cerai."
"Cerai?" Maysa menggumam. Untuk dirinya sendiri.
Aku mengangguk yakin. Sejujurnya, niat ini sudah ada sedari dulu. Keraguan, itulah yang sering membuatku mengulur waktu. Dan mungkin ini saat yang tepat. Sebelum kami punya anak. Pasti akan ada banyak drama. Aku yakin itu.
Maysa mengepalkan tangan. Kedua matanya terpejam dengan tetes-tetes bening yang menghujani meja tanpa jeda. Sakit hatikah ia? Bukankah dalam dirinya juga tidak ada cinta? Karena yang kutahu, hatinya masih untuk calon suaminya yang meninggal sebelum mereka menikah. Dan aku yakin, dia mau menikah denganku karena ingin move on dari masa lalu.
"Bagaimana dengan Mama?" tanya Maysa lirih.
Mama adalah tokoh utama dalam pernikahan ini. Dia yang mempertemukan aku dengan Maysa. Hanya wanita seperti Maysa yang bisa membantuku menjadi laki-laki saleh, katanya.
"Biar Abang yang bicara sama Mama. Kamu tenang aja."
Maysa mengangguk. "Jika itu yang Abang mau."
Ya, sudah kuduga. Akan ringan baginya untuk lepas dari pernikahan ini. Pernikahan tanpa cinta. Dan aku yakin bercerai adalah jalan terbaik bagi kami.
Maysa bangkit, masuk kamar.
Aku mengempaskan punggung ke sandaran kursi. Menghela napas berkali-kali. Ada rasa lega, tapi juga ada perasaan entah yang tiba-tiba datang begitu saja.
Hampir satu jam kemudian, Maysa keluar. Aku menatapnya heran. Dia mengenakan gamis dan kerudung lebar. Apakah dia akan pergi malam ini juga?
Aku membuka-buka ponsel, menanyakan kabar Ratu. Maysa kembali ke meja makan untuk membereskan piring-piring sisa makan malam. Tanpa melirik sedikit pun padaku dan tanpa bicara sepatah kata.
Namun ketika aku hendak beranjak, Maysa memanggilku lirih.
"Bang ...."
Aku menoleh.
"Em ..., karena Abang sudah menceraikan saya ...." Ia menyeka sudut matanya yang sembap.
Saya? Dari aku menjadi saya? Alisku terjungkit sebelah.
"Jadi mulai malam ini, saya menjalani masa iddah."
Aku membalik badan. Menatapnya serius.
"Masa iddah itu ... masa menunggu bagi seorang wanita yang telah dicerai suaminya." Ia bicara dengan menunduk dan bibir bergetar.
"Terus?"
"Dan masa iddah harus dijalani di rumah suami. Selama tiga kali masa suci. Atau mudahnya kurang lebih tiga bulan."
Aku mengembuskan napas. Terus apa maksud gamis dan kerudung yang ia pakai malam ini?
Maysa menatapku takut-takut. Damn! Drama macam apa ini?
"Saya ... izin memakai kamar satunya." Ekor matanya melirik kamar sebelah.
"Oke. Terus, kamu mau ke mana?"
Maysa menggeleng. "Enggak ke mana-mana."
Dahiku mengernyit. "Kenapa pake gamis?"
"Oh .... Ini .... Karena mulai sekarang, Abang enggak boleh lihat aurat saya."
Aku menganjur napas lalu menggeleng heran. Wanita ini ... segitu taatnya sama aturan agama. Kita lihat saja, seberapa lama ia sanggup bertahan di rumah ini dengan memakai gamis dan kerudung setiap hari.
*
Pukul tiga pagi. Aku terbangun. Melirik lantai, tempat yang biasa dipakai Maysa untuk tahajud. Kosong. Ah, ya. Dia ada di kamar sebelah. Kami sudah bercerai.
Ya, secara agama, kami sudah bukan suami-istri lagi.
Aku kembali tidur, hingga alarm yang kupasang di ponsel terdengar nyaring. Pukul lima pagi.
Aku bangun, menuju kamar mandi. Mengambil wudu, menunaikan salat. Ada yang aneh. Aku bisa bangun sepagi ini? Biasanya Maysa perlu mengguncang tubuhku berkali-kali sekedar membuat mataku terbuka. Lalu serentetan omelan keluar dari bibir tipisnya.
"Makanya, Abang itu jangan tidur terlalu malam. Susah bangun, kan, jadinya?"
"Salat subuh itu disaksikan malaikat, loh Bang. Masa enggak malu kalau yang tercatat di buku amal, subuh kesiangan."
"Abang sih, bangun malam bukannya tahajud, malah main game."
Aku tersenyum tipis. Rasanya telah merdeka.
Usai salat, aku membuka laptop, mengerjakan laporan. Terdengar bunyi pagar bergeser. Mungkin Maysa pergi belanja. Oh, ya, bagaimana tidurnya di kamar sebelah? Di sana cuma ada kasur busa tipis. Tidak ada AC, hanya kipas angin. Apa ... tidurnya nyenyak?
Shiitake gundul! Kenapa malah kepikiran Maysa?
Pintu pagar kembali bergeser. Aku beranjak, menyingkap gorden. Sedikit. Demi bisa melihat sosok yang tengah menguasai pikiran.
Terlihat baik-baik saja.
Aku mendengkus. Lalu kembali berjibaku dengan laporan. Dan lima belas menit kemudian, perutku berisik. Minta diisi, apalagi? Memang sudah jamnya sarapan. Biasanya, Maysa sudah memanggilku ke meja makan.
Aku bangkit keluar. Menyemburkan napas kuat saat mendapati meja makan kosong. Hanya tudung saji yang di bawahnya tak ada apa-apa. Bahkan semut pun tidak ada yang lewat saking bersihnya.
Baiklah. Sepertinya aku harus segera mandi, ke kantor, lalu sarapan di kantin.
Ketika menggenggam handle pintu, aku menoleh kamar sebelah. Tertutup rapat.
May, kamu lagi apa?
-x-
Next?
oleh : Dewi Fatimah
"Han, aku ... aku udah dicerai."
Ratu, wanita ayu di hadapanku itu menyeka pipi basahnya berulang kali.
Jantungku bergeming sedetik, lalu berdetak kembali dengan sangat kencang hingga terasa sakit. Entah mengapa, sedari dulu tak tega jika harus melihatnya terluka. Dan itu membuatku yakin bahwa cinta ini masih sama kadarnya.
"Ra ..., tapi bagaimana bisa?" tanyaku pelan dan hati-hati.
Ratu tersenyum tipis, miris. Ia menggeleng samar. Jemari lentiknya terulur mengambil tisu yang aku sodorkan. Lalu ia menyeka pipinya hingga jejak air mata tak bersisa. Tapi percuma. Toh, bulir-bulir bening itu kembali mengalir tanpa jeda.
"Entahlah, Han," kalimatnya terjeda oleh isakan, "mungkin karena bukan cinta dasar kami membina rumah tangga. Sering terjadi konflik yang makin lama makin susah dicari jalan keluar. Ego kami sama-sama tinggi."
Menikah bukan karena cinta ....
Aku mengerti. Karena kami bernasib sama. Ya, aku pun begitu. Menikah dengan wanita yang sama sekali tidak kucintai. Sosok yang bagiku masih asing hingga kini. Setelah hampir enam bulan usia pernikahan kami.
"Terus ..., rencana kamu selanjutnya apa?"
Seorang pramusaji datang menyajikan menu makan siang yang kami pesan. Dua piring nasi goreng kambing dan dua gelas jeruk panas. Oh Tuhan, bahkan makanan favorit kami masih sama!
Ratu menggeleng. Bimbang. Ia melempar pandangan ke luar jendela. Gumpalan awan cokelat menggantung di langit Jakarta. Seakan menggambarkan suramnya perasaan mantan kekasih di hadapanku.
"Makan dulu, Ra." Aku menggamit jemarinya, membuatnya menoleh dengan senyum yang masih sama. Lengkungan bibir yang kurindu selama tiga tahun lamanya.
Kami mulai hening. Menikmati makanan masing-masing.
"Gimana kabar Maysa?" tanya Ratu setelah menelan kunyahan pertama.
Maysa, nama istriku.
"Baik." Aku menjawab singkat. Malas membahasnya.
"Maysa belum hamil?"
Aku hampir tersedak. Kudapati Ratu melipat dahi. Heran dengan reaksi yang mungkin terlihat aneh dan berlebihan.
"Belum."
Kembali hening. Ada ketidaknyamanan ketika nama Maysa menyelip di antara obrolan kami. Yah, bagaimanapun kami dulunya sepasang kekasih. Yang pernah merajut mimpi bersama. Pernah menyusun angan berdua. Lalu perjodohan yang dialami Ratu mengobrak-abrik semuanya.
"Han ..., maaf kalau aku ...." Wanita berusia 27 tahun itu menggantung kalimatnya, membuatku menatapnya penuh tunggu. "Maaf kalau aku malah nemuin kamu."
"Kenapa minta maaf?"
Ratu tersenyum getir. "Karena aku sadar posisi kita masing-masing."
Aku menyeruput jeruk hangat. Membiarkan rasa manis asamnya memenuhi mulut. Sungguh, ada rasa gugup saat ini. Makan berdua dengan mantan yang kembali membangkitkan berbagai kenangan.
"Ra, kamu enggak lupa, kan? Kalau sebelum kita benar-benar berpisah, kamu janji akan jadiin aku sahabat baik kamu? Tapi setelah itu, justru kamu yang enggak pernah ngasih kabar apa-apa. Sampe ... ya ... sampe semua ini terjadi."
Ratu tersenyum tipis lalu menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Detik kemudian, ia mengunyah pelan, sambil sesekali menyugar rambutnya yang menjuntai ke depan. Ah, wanita ini masih saja membuat mataku tersihir oleh pesonanya.
"Reyhan, untuk yang satu itu aku minta maaf. Aku berusaha menghargai pernikahan kami, meskipun terjalin tanpa cinta. Aku berusaha menjadikan suamiku sebagai orang pertama yang tahu semua masalah-masalahku. Aku berusaha menjadikan dia segala-galanya dalam hidup aku—"
"Tapi sekarang apa yang kamu dapetin?" potongku agak emosi. Jujur, rentetan kalimatnya membuatku cemburu.
"Ini di luar kuasaku, Han ...." Air mata itu kembali lolos.
Aku mengangguk-angguk paham. Kembali menyeruput jeruk hangat untuk meredam gejolak yang bersarang.
"Jadi, apa rencana kamu setelah ini?" tanyaku sekali lagi.
"Menjalani proses sidang. Kalau udah kelar dan kami resmi bercerai, aku bakalan pergi bawa Bastian."
Bastian, nama anak laki-laki hasil pernikahan mereka.
"Ke mana?"
Ratu mengedikkan bahu. "Bakalan aku pikir sambil jalan."
"Berapa usia anak kamu sekarang?"
"Dua tahun."
Oh, pasti sedang lucu-lucunya. Kasihan jika harus menghadapi perceraian orang tuanya.
"Han, makasih." Ratu meletakkan tangan kanannya di atas punggung tangan kiriku. Kedua mataku melebar seiring rasa nyaman yang menjalar.
Aku menggenggam tangan itu, lalu berkata, "Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk ngomong ke aku. Oke?"
Ratu mengangguk senang.
Usai makan, aku kembali ke kantor setelah mengantar Ratu ke sebuah mall. Dia memiliki butik di sana. Bisnis yang ia bangun bersama suaminya.
Entah bagaimana setelah mereka bercerai. Aku khawatir, Ratu akan kehilangan pekerjaan. Menjalani hidup dengan status janda satu anak tentu tidak mudah, bukan?
Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Seseorang yang masih begitu kucinta.
*
Maysa Al-Mahira. Seperti biasa dia menyambut kedatanganku dengan senyum khasnya. Lumayan manis, menurutku. Tapi entah kenapa belum sanggup meluluhkan hati untuk bertekuk mencintainya. Memang secara fisik, kuakui pesona Mahira tidak ada apa-apanya dibanding Ratu.
"Gimana kabar Abang hari ini?" tanya Maysa sembari menyiapkan hidangan makan malam.
"Baik. Ya, begitulah. Sama kayak kemarin-kemarin."
Wanita berusia 24 tahun itu tersenyum, menampilkan kedua lesung pipi. Matanya yang memang agak sipit seakan memejam.
"Abang mandi dulu, gih. Setelah itu salat magrib, baru deh kita makan. Aku bikin cumi hitam kesukaan Abang."
Aku mengangguk. Melangkahkan kaki ke kamar untuk mengambil handuk lalu mandi.
Sejak menikah dengan Maysa, hidupku seperti ada yang mengatur. Lakukan ini dulu, baru itu. Itu dulu baru ini. Dan aku lebih sering mengiyakan, malas mendebat.
"May, ada pengen Abang omongin," tuturku usai makan malam.
Maysa yang sudah berdiri hendak membereskan meja makan, menghentikan aktivitasnya. Ia kembali duduk, menungguku bicara.
Berdehem tiga kali untuk memastikan tidak ada yang menyangkut di kerongkongan, aku mulai bicara. Hati-hati.
"May, kamu tahu Abang nikahin kamu karena apa."
Maysa bergeming. Hanya kedua bola matanya yang bergerak-gerak mengamati wajahku. Dia selalu seserius itu memperhatikanku.
"May, hingga detik ini ... entah kenapa Abang belum bisa cinta sama kamu."
Maysa sedikit menunduk.
"Dan menurut Abang, kamu pantas mendapatkan laki-laki yang bisa mencintai kamu dengan tulus. Abang yakin, ada banyak laki-laki di luar sana yang mau sama kamu."
Memang tidak begitu cantik, tapi dia baik. Sangat baik.
Maysa menunduk lebih dalam.
"Laki-laki yang sesuai harapan kamu. Saleh dan bisa kamu ajak masuk surga bersama-sama. Bukan kayak Abang yang ... bahkan untuk bangun subuh aja susahnya bukan main."
"Maksud Abang apa?" Maysa bicara dengan suara tersekat.
"Abang pengen Maysa bahagia."
Maysa mengangkat wajah, memandangku penuh tanya.
"Abang enggak bisa melanjutkan pernikahan hambar ini."
Gantian aku yang menunduk, tak bernyali menatap mata yang telah dipenuhi genangan kaca-kaca.
"Aku ... salah apa, Bang?" Maysa bertanya lirih.
Aku menggeleng samar. "Kamu enggak salah apa-apa. Abang yang salah. Belum bisa mencintai seorang wanita sebaik Maysa."
"Apa Abang lupa dengan perkataanku sebelum kita menikah? Bahwa pernikahan tidak harus diawali rasa cinta?"
Aku kembali menggeleng. Tentu saja masih ingat. Kupikir waktu itu akan mudah. Seperti perkataan Mama. Bahwa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya rumah tangga. Tapi nyatanya apa? Pernikahan ini hanya membuatku mati rasa.
Ya, mati rasa. Hingga pertemuan dengan Ratu siang tadi kembali menghidupkan separuh hati yang telah mati karena kepergiannya.
"Tolong Abang sebutkan, aku kurang apa? Biar aku bisa memperbaikinya." Maysa berkata diselingi isak tangisnya.
"Kamu baik. Enggak ada yang kurang. Tapi cinta memang enggak bisa dipaksa, May ...."
"Jadi ...."
"Abang ingin kita cerai."
"Cerai?" Maysa menggumam. Untuk dirinya sendiri.
Aku mengangguk yakin. Sejujurnya, niat ini sudah ada sedari dulu. Keraguan, itulah yang sering membuatku mengulur waktu. Dan mungkin ini saat yang tepat. Sebelum kami punya anak. Pasti akan ada banyak drama. Aku yakin itu.
Maysa mengepalkan tangan. Kedua matanya terpejam dengan tetes-tetes bening yang menghujani meja tanpa jeda. Sakit hatikah ia? Bukankah dalam dirinya juga tidak ada cinta? Karena yang kutahu, hatinya masih untuk calon suaminya yang meninggal sebelum mereka menikah. Dan aku yakin, dia mau menikah denganku karena ingin move on dari masa lalu.
"Bagaimana dengan Mama?" tanya Maysa lirih.
Mama adalah tokoh utama dalam pernikahan ini. Dia yang mempertemukan aku dengan Maysa. Hanya wanita seperti Maysa yang bisa membantuku menjadi laki-laki saleh, katanya.
"Biar Abang yang bicara sama Mama. Kamu tenang aja."
Maysa mengangguk. "Jika itu yang Abang mau."
Ya, sudah kuduga. Akan ringan baginya untuk lepas dari pernikahan ini. Pernikahan tanpa cinta. Dan aku yakin bercerai adalah jalan terbaik bagi kami.
Maysa bangkit, masuk kamar.
Aku mengempaskan punggung ke sandaran kursi. Menghela napas berkali-kali. Ada rasa lega, tapi juga ada perasaan entah yang tiba-tiba datang begitu saja.
Hampir satu jam kemudian, Maysa keluar. Aku menatapnya heran. Dia mengenakan gamis dan kerudung lebar. Apakah dia akan pergi malam ini juga?
Aku membuka-buka ponsel, menanyakan kabar Ratu. Maysa kembali ke meja makan untuk membereskan piring-piring sisa makan malam. Tanpa melirik sedikit pun padaku dan tanpa bicara sepatah kata.
Namun ketika aku hendak beranjak, Maysa memanggilku lirih.
"Bang ...."
Aku menoleh.
"Em ..., karena Abang sudah menceraikan saya ...." Ia menyeka sudut matanya yang sembap.
Saya? Dari aku menjadi saya? Alisku terjungkit sebelah.
"Jadi mulai malam ini, saya menjalani masa iddah."
Aku membalik badan. Menatapnya serius.
"Masa iddah itu ... masa menunggu bagi seorang wanita yang telah dicerai suaminya." Ia bicara dengan menunduk dan bibir bergetar.
"Terus?"
"Dan masa iddah harus dijalani di rumah suami. Selama tiga kali masa suci. Atau mudahnya kurang lebih tiga bulan."
Aku mengembuskan napas. Terus apa maksud gamis dan kerudung yang ia pakai malam ini?
Maysa menatapku takut-takut. Damn! Drama macam apa ini?
"Saya ... izin memakai kamar satunya." Ekor matanya melirik kamar sebelah.
"Oke. Terus, kamu mau ke mana?"
Maysa menggeleng. "Enggak ke mana-mana."
Dahiku mengernyit. "Kenapa pake gamis?"
"Oh .... Ini .... Karena mulai sekarang, Abang enggak boleh lihat aurat saya."
Aku menganjur napas lalu menggeleng heran. Wanita ini ... segitu taatnya sama aturan agama. Kita lihat saja, seberapa lama ia sanggup bertahan di rumah ini dengan memakai gamis dan kerudung setiap hari.
*
Pukul tiga pagi. Aku terbangun. Melirik lantai, tempat yang biasa dipakai Maysa untuk tahajud. Kosong. Ah, ya. Dia ada di kamar sebelah. Kami sudah bercerai.
Ya, secara agama, kami sudah bukan suami-istri lagi.
Aku kembali tidur, hingga alarm yang kupasang di ponsel terdengar nyaring. Pukul lima pagi.
Aku bangun, menuju kamar mandi. Mengambil wudu, menunaikan salat. Ada yang aneh. Aku bisa bangun sepagi ini? Biasanya Maysa perlu mengguncang tubuhku berkali-kali sekedar membuat mataku terbuka. Lalu serentetan omelan keluar dari bibir tipisnya.
"Makanya, Abang itu jangan tidur terlalu malam. Susah bangun, kan, jadinya?"
"Salat subuh itu disaksikan malaikat, loh Bang. Masa enggak malu kalau yang tercatat di buku amal, subuh kesiangan."
"Abang sih, bangun malam bukannya tahajud, malah main game."
Aku tersenyum tipis. Rasanya telah merdeka.
Usai salat, aku membuka laptop, mengerjakan laporan. Terdengar bunyi pagar bergeser. Mungkin Maysa pergi belanja. Oh, ya, bagaimana tidurnya di kamar sebelah? Di sana cuma ada kasur busa tipis. Tidak ada AC, hanya kipas angin. Apa ... tidurnya nyenyak?
Shiitake gundul! Kenapa malah kepikiran Maysa?
Pintu pagar kembali bergeser. Aku beranjak, menyingkap gorden. Sedikit. Demi bisa melihat sosok yang tengah menguasai pikiran.
Terlihat baik-baik saja.
Aku mendengkus. Lalu kembali berjibaku dengan laporan. Dan lima belas menit kemudian, perutku berisik. Minta diisi, apalagi? Memang sudah jamnya sarapan. Biasanya, Maysa sudah memanggilku ke meja makan.
Aku bangkit keluar. Menyemburkan napas kuat saat mendapati meja makan kosong. Hanya tudung saji yang di bawahnya tak ada apa-apa. Bahkan semut pun tidak ada yang lewat saking bersihnya.
Baiklah. Sepertinya aku harus segera mandi, ke kantor, lalu sarapan di kantin.
Ketika menggenggam handle pintu, aku menoleh kamar sebelah. Tertutup rapat.
May, kamu lagi apa?
-x-
Next?
Kamis, 14 Mei 2020
Rumah mewah di Kedawung kota malang 087887232777
Rumah Kota Malang, jl. Bunga sufelir - Kedawung,
Luas tanah : 320 m2
Luas bangunan : 270 m2 Kamar tidur 3, kamar mandi 2 Harga 1,9 Milyar Nego..
INFO MMC MARKETING OFFICE
Andika
087887232777
081235534599
Ig@jualrumahdimalang
Luas tanah : 320 m2
Luas bangunan : 270 m2 Kamar tidur 3, kamar mandi 2 Harga 1,9 Milyar Nego..
INFO MMC MARKETING OFFICE
Andika
087887232777
081235534599
Ig@jualrumahdimalang
Langganan:
Komentar (Atom)